.
.
.
.
Sydney, Australia
20 Mei 2012
Langit pagi di Sydney memancarkan warna biru yang cerah. Cahaya matahari menembus jendela besar sebuah rumah mewah bergaya klasik yang berdiri di kawasan elit pinggiran kota. Burung-burung berkicau di taman yang dipenuhi bunga mawar putih, sementara embusan angin membuat dedaunan menari pelan.
Di halaman belakang rumah itu, seorang anak laki-laki berusia enam tahun tertawa riang sambil mengejar seekor anjing Golden Retriever.
"Nathaniel! Pelan-pelan, nanti jatuh!" suara seorang wanita terdengar dari teras.
Anak itu menoleh sambil tersenyum lebar.
"Iya, Mama!"
Nathaniel Hawthorne Oliver. Anak tunggal keluarga Oliver. Rambut putihnya yang lembut berkilau diterpa sinar matahari, sementara mata abu-abunya memancarkan rasa ingin tahu yang besar. Ia tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih sayang. Meski keluarganya dikenal sebagai salah satu keluarga terpandang di Australia, kedua orang tuanya tidak pernah mendidiknya dengan kemewahan semata.
Ayahnya selalu berkata, "Kekayaan bisa hilang kapan saja. Yang tidak boleh hilang adalah hati yang baik."
Ibunya pun sering memeluknya sambil tersenyum.
"Jadilah anak yang bisa membuat orang lain merasa aman."
Nathaniel kecil selalu mengangguk, meski belum sepenuhnya memahami arti kata-kata itu.
Hari itu adalah ulang tahunnya yang keenam. Rumah keluarga Oliver dipenuhi tawa, balon putih dan biru, serta aroma kue vanila kesukaannya. Para kerabat dan sahabat keluarga datang membawa hadiah.
Nathaniel berlari ke sana kemari, menyapa semua orang dengan senyum cerah. Tidak ada yang menyangka bahwa hari yang membahagiakan itu akan menjadi kenangan terakhir yang benar-benar utuh bagi keluarga Oliver.
Di balik pagar rumah yang tinggi, sebuah mobil hitam berhenti tanpa suara.
Seorang pria berpakaian serba gelap turun perlahan. Wajahnya tertutup bayangan topi dan masker. Ia menatap rumah keluarga Oliver cukup lama.
Tangannya menggenggam sebuah liontin berbentuk burung phoenix yang berwarna perak.
"Sudah waktunya..." gumamnya lirih.
Tak lama kemudian ia berjalan pergi, menghilang di antara pepohonan, seolah tak pernah ada.
Malam mulai turun.
Hujan rintik-rintik membasahi jalanan Sydney.
Nathaniel sudah mengenakan piyama dan memeluk boneka beruang hadiah dari ibunya.
"Selamat malam, Nak," ucap sang ibu sambil mencium keningnya.
"Selamat malam, Mama."
Ayahnya ikut tersenyum.
"Besok Ayah akan mengajakmu melihat kantor."
"Mau!"
Tiga orang itu tertawa bersama.
Tidak ada yang tahu bahwa itu adalah percakapan terakhir mereka sebagai sebuah keluarga.
Beberapa jam kemudian...
Jam dinding menunjukkan pukul 01.47 dini hari.
Rumah besar itu sunyi.
Di luar, hujan berhenti.
Langkah kaki seseorang terdengar pelan mendekati rumah.
Bayangan hitam itu berdiri di depan gerbang sambil menatap bangunan megah tersebut.
YOU ARE READING
Nathaniel
RomanceDi Sydney, Australia, Nathaniel Hawthorne Oliver CEO jenius yang dingin, tertutup, dan penuh luka masa lalu, mendapat sekretaris baru: Alya Rose Sterling, gadis ceria, manja, dan penuh kehangatan. Dari pertemuan berantakan, sikap saling bertolak bel...
