13

466 15 0
                                        

HAPPY READINGS!!!

****

Drrrttttt... Drrrttttt... Drrrttttt...

Zoya refleks melihat ponsel Bara yang tergeletak diatas meja makan, notifikasi dari Ayahnya tentang pekerjaan. Tapi...

Disaat Zoya akan pergi ke dapur untuk mengambil bekal makan Bara, ia terdiam seketika kala melihat satu pesan masuk dari notifikasi ponsel Bara. Gadis itu memandangi benda pipih tersebut cukup lama. Ternyata, pesan itu dari nomor yang tidak dikenal. Meskipun dari nomor yang tidak ada di kontak Bara, Zoya seakan tau siapa orang yang mengirim pesan tersebut.

"Kenapa?" Tanya Bara yang datang, ia baru saja selesai siap-siap dan hendak menyantap sarapan.

Melihat Zoya diam saja sambil memandangi ponselnya, tanpa pikir panjang Bara pun mengambil ponsel tersebut lalu melihatnya. Lelaki itu kemudian menghapus pesan terakhir yang masuk dan menyimpan ponselnya kembali.

"Jangan mikir yang aneh-aneh, gue udah sekarang cuma mau fokus kerja aja," kata Bara berusaha meyakinkan Zoya.

Gadis itu kicep, ia menghela napas sejenak kemudian memandangi Bara, "Engga."

Bara tersenyum, "Halah... Tadi aja keliatannya Lo kayak yang mau marah sama gue. Jelas banget malahan."

Zoya berdecih, ia pun langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan bekal makan Bara. Sementara Bara, ia tertawa renyah dan duduk di sofa sambil membawa alas sarapan yang sudah Zoya siapkan sebelumnya. Lelaki itu menyalakan TV dan fokus menonton sambil menyantap sarapannya. Zoya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap suaminya itu. Sudah beberapa hari ini memang Bara tidak berbuat sesuatu. Lelaki itu hanya pergi untuk bekerja dan dirumah beristirahat kala libur atau pulang kerja.

"Zoya," panggil Bara.

"Apaan..."

Bara terlihat duduk dengan kedua lututnya di sofa dengan posisi menghadap kearah dapur.

"Pulang kerja gue nanti, makan diluar, mau gak? Gue baru kepengen nyoba makan seafood yang ada diluar itu," kata Bara.

Zoya terdiam sejenak.

"Mau, ya?"

"Hmmm..."

Bara tersenyum, itu artinya Zoya mau menemani nya makan diluar. Dengan begini, Bara ada sedikit alasan untuk pulang lebih awal dari kantor. Toh, besok juga sudah masuk hari weekend, dan Bara ingin sekali beristirahat atau setidaknya menghirup udara luar yang sudah lama Bara rindukan.

Jujur saja, sudah hampir satu Minggu Bara bekerja di kantor sang Ayah tapi rasanya seperti sudah bekerja berbulan-bulan tanpa libur.

Beberapa saat kemudian, Bara pun sudah menghabiskan sarapannya dan langsung beranjak mengambil tas. Lelaki itu melirik kearah jam dinding, ia harus segera berangkat karena jika telat sedikit saja, itu sudah membuat Ayahnya marah dan menceramahinya panjang lebar.

Melihat Bara yang akan pergi dengan tergesa, Zoya seketika mengambil bekal makan suaminya itu dan melangkah untuk menghentikan Bara.

"Bentar ih!"

Dengan cepat Zoya menarik lengan Bara, dan untungnya ia berhasil menghentikan langkah suaminya tersebut.

"Apaan? Gue udah mau telat ini," kata Bara.

Zoya mendengus, "Nih bekel!"

"Enak aja pergi kaya gitu, Lo sengaja biar gue ke kantor kaya waktu itu sambil bawa bekel ini buat Lo, gitu?"

Bara terkekeh pelan, ia lupa. Tapi, jika memang akhirnya seperti yang Zoya katakan... Maka Bara tidak keberatan sama sekali, ia malah senang jika Zoya datang ke kantor hanya untuk mengantarkannya bekal makan saja. Berasa seperti diperhatikan. Ya, kan?

Sahabat Satu Atap [21+]Des histoires addictives. Découvrez maintenant