Raven Kai Thorne, nama paling populer di SMA Bina Nusantara. Ia dikenal sebagai cowok bad attitude yang wajib dihindari. Karakternya penuh percaya diri dan memiliki jiwa pemimpin.
Raven Kai, adalah leader dari geng Thunder Dominion.
Kehidupan masa...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
“Prihal apapun yang bukan urusanmu, jangan pernah ikut campur.” - Raven K.Thorne
• • •
๑˙❥˙๑
Kelima motor sport itu melaju mulus memasuki area parkiran SMA Bina Nusantara, memecah ketenangan pagi dengan suara mesin yang menggeram rendah. Beberapa siswa-siswi langsung menoleh, sebagian berbisik, dan sisanya hanya bisa terpaku menatap.
Mereka tahu siapa yang baru saja datang.
Thunder Dominion.
“Lepasin jaket lo pada, gak usah sok keren!” tegur Oliver sambil melepas helmnya, menatap tiga sahabatnya dengan ekspresi datar.
Oliver Mauro Nathaniel—atau yang biasa dipanggil Oli—berdiri tegap dengan aura tenang yang justru terasa berbahaya. Dia vice leader di Thunder Dominion. Tatapannya tajam, seolah mampu membaca situasi dalam hitungan detik.
Tanpa banyak gaya, ia tetap jadi pusat perhatian. Oliver adalah anak bungsu dari pasangan Madhava dan Agatha. Sangat menguasai berbagai bakat, terutama di bidang olahraga.
“Dih! Lo juga sok keren, Oli!” balas Kael, menyeringai tipis.
Kael Van Ryder, sepupu Oliver, hanya mengibaskan rambutnya pelan. Gayanya santai, tapi matanya menunjukkan kecerdasan yang tak main-main.
Di balik sikap pendiamnya, dialah otak teknologi di Thunder Dominion. Kael adalah anak pertama dari pasangan Raiden dan Kaluna. Usianya paling muda diantara mereka berlima.
“Ck! Kenapa, sih? Kalian berdua hobi banget berantem!” Ezhar menggeleng sambil melepas jaketnya, lalu menggantungkannya di bahu.
Ezhar JayvanoMonreo—dipanggil Jay—tersenyum santai ke arah beberapa siswi yang meliriknya. Seperti biasa, dia langsung membalas dengan kedipan ringan, membuat beberapa dari mereka salah tingkah.
Sikapnya humoris, mudah bergaul, dan—kalau boleh jujur—paling playboy di antara yang lain. Tapi anehnya, tak ada yang benar-benar membencinya. Mungkin karena dia tahu batas, atau mungkin karena pesonanya terlalu sulit untuk diabaikan.
Jabatannya sebagai bendahara juga bukan sekadar formalitas. Urusan keuangan? Serahkan saja pada Jay. Di balik sikap santainya, dia teliti dan hampir tak pernah membuat kesalahan—setidaknya dalam hal angka.
“Please... masih pagi gak usah drama anak setan,” gumam Niven sambil berjalan mendahului.
Niven Skyler Vittorio—atau yang lebih akrab dipanggil Sky—menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Wajahnya tetap datar, dingin, seolah dunia di sekelilingnya tak cukup berarti untuk memancing reaksi apa pun darinya.