Paris dan München tidak pernah berada di zona waktu yang berbeda.
Tapi malam itu, dua orang yang pernah menempati ruang yang sama menanggung diam yang berbeda — dengan cara yang tidak akan pernah mereka ceritakan kepada siapapun.
PARIS — 23.14
Hujan turun pelan.
Bukan hujan yang dramatis — tidak ada petir, tidak ada angin. Hanya rintik tipis yang jatuh di atas batu trotoar Paris dengan sabar, seolah tidak terburu-buru kemana-mana. Lampu-lampu jalan memantul di genangan kecil di bawah kaki seorang perempuan yang berdiri di depan pintu apartemennya dan tidak masuk.
Saint Genevieve Mercedes Palar berdiri di sana dengan kunci di tangan dan jas hujan yang tidak cukup tebal untuk malam sedingin ini.
Dia baru saja tahu.
Tidak dari penjelasan langsung. Tapi dari percakapan yang tidak sengaja dia dengar — suara yang terlalu akrab dari ujung telepon yang tidak ditutup rapat, dari nama yang disebut dengan nada yang tidak seharusnya ada jika semuanya sudah benar-benar selesai. Detail-detail kecil yang selama ini berdiri sendiri-sendiri, tiba-tiba memutuskan untuk menyambung menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi pura-pura tidak dipahami.
Candra tidak pernah putus atau belum putus dengan kekasih sebelumnya
Ternyata itu bukan putus lalu move on lalu bertemu Mercy. Tapi renggang — semacam jeda yang tidak pernah resmi ditutup. Semacam pintu yang dibiarkan sedikit terbuka, sementara Mercy selama setahun penuh tidak tahu pintu itu ada.
Mercy menggenggam kunci di telapak tangannya sampai ujung logamnya meninggalkan bekas merah di kulitnya.
Di dalam apartemen itu ada sketsa-sketsa yang belum selesai, buku referensi yang terbuka di sembarang halaman, sisa teh yang sudah pasti sudah dingin sejak tadi sore. Hidupnya yang baru — Paris, fashion, studio, mimpi-mimpi yang baru mulai punya bentuk.
Setahun dia menjalani semua itu sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan ada seseorang di sana.
Ternyata yang ada di sana hanya bayangannya sendiri.
Mercy yang biasanya bisa menemukan sesuatu yang lucu dari situasi apapun — yang bahkan waktu pertama kali tersesat di metro Paris tertawa sampai orang-orang di sekitarnya ikut senyum tanpa tahu sebabnya — berdiri di depan pintu apartemennya sendiri dan tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya.
Dia akhirnya membuka pintu.
Masuk.
Menutupnya pelan — dengan hati-hati, seperti sedang menjaga sesuatu agar tidak pecah lebih jauh dari yang sudah.
MÜNCHEN — 23.14
Tidak ada hujan di München malam itu.
Hanya langit yang bersih dan gelap, dan satu unit apartemen di lantai tujuh yang lampunya masih menyala ketika sebagian besar penghuninya sudah tidur.
Pratama Candranegara Kusumodihardjo duduk di meja kerjanya.
Laptop menyala. Draft laporan riset terbuka di layar — dokumen yang seharusnya sudah selesai dua jam lalu. Kursor berkedip di tengah paragraf yang tidak dilanjutkan. Di sebelah laptopnya ada cangkir kopi yang sudah dingin, notes teknis yang penuh coretan, dan pena yang biasanya tidak pernah berhenti bergerak — sekarang teronggok di pinggir meja tanpa disentuh.
Untuk seseorang yang biasanya menyelesaikan laporan teknis dengan kecepatan yang membuat rekan-rekan kerjanya sedikit tidak nyaman, dua jam tanpa satu kalimat pun adalah sesuatu yang tidak bisa dia masukkan ke dalam kategori apapun yang dia kenal.
Dia ingat tatapan Mercy waktu tahu.
Mercy yang selalu punya komentar untuk segala sesuatu — yang bahkan waktu Pratama menjelaskan sistem kontrol mekatronik dengan serius pun menyela dengan "Mas, itu kedengarannya kayak nama villain di film animasi" sambil tetap mendengarkan setiap kata — kali ini hanya menatapnya lurus. Tidak ada tawa. Tidak ada komentar. Hanya sepasang mata yang membaca wajahnya jauh lebih cepat dari yang dia sadari, menemukan jawaban dari pertanyaan yang bahkan belum sempat diucapkan, lalu perlahan memindahkan pandangannya ke titik lain seolah melihat Pratama lebih lama dari itu adalah sesuatu yang tidak lagi perlu dilakukan.
Lalu dia pergi.
Dan Pratama membiarkannya.
Lebih karena tidak ada yang ingin dia katakan — tapi karena di antara semua yang berputar di kepalanya saat itu, tidak ada satu pun yang tahu cara keluar menjadi kata-kata yang benar. Pratama yang terbiasa menyusun laporan teknis dua puluh halaman tanpa hambatan, berdiri di tempat yang sama seperti orang yang lupa cara berbicara.
Kursor di laptopnya masih berkedip.
Pratama akhirnya menutup layarnya.
Berdiri. Berjalan ke jendela. Di luar, München terbentang tenang di bawah langit yang bersih — lampu-lampu kota yang tertata, jalan yang sepi, dunia yang berjalan seperti biasa seolah tidak ada yang berubah di lantai tujuh gedung ini.
Tangannya menyentuh kaca jendela yang dingin.
Dia tidak tahu banyak hal tentang perasaan — tidak diajarkan, tidak dibiasakan. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Pratama Candranegara Kusumodihardjo berdiri di depan jendela dan tidak bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini tidak apa-apa.
Di Paris, Mercy berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit sambil jari-jarinya masih memegang kunci yang belum dilepaskan.
Di München, Pratama berdiri di depan jendela dengan tangan yang menyentuh kaca dingin dan kata-kata yang tidak pernah sempat diucapkan.
Satu zona waktu. Dua ruangan yang tidak tahu satu sama lain.
Dan sesuatu yang — tanpa sepengetahuan keduanya — belum selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNFINISHED
Fiksi UmumMantan pacar tiba tiba lamaran sama kakak sendiri. Udah di masalalu nyakitin mercy, sekarang malah muncul jadi calon suami kakak sendiri. Hidup mercy memang selalu di kelilingi orang orang sinting sepertinya. Untung dia cantik
