"Iya, gue gila. Gila karna lo, Micathya."
****
Nagendra Damastara Valtinov, pemuda tampan dengan dengan tatapan tajam yang mempesona. Dingin, gelap, dan misterius. Nagen adalah sosok asli kesempurnaan, namun di balik itu semua, dia mempunyai kegilaa...
Sebelum masuk ke cerita, aku kasih heads-up dulu. Cerita ini bergenre romantis, dengan adegan dewasa ( 18+ ) Kekerasan, karakter yang posessif dan cinta terlarang.
Kalau kamu tidak nyaman dengan tema seperti ini, sebaiknya keluar sekarang. Tapi kalau siap menyelami drama, rasa cemburu, dan chemistry yang memanas... selamat membaca!
Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.
****
"Micathya Natherysia."
Gadis berkulit putih itu langsung berhenti di tengah anak tangga. Dress pink sepaha yang ia kenakan bergoyang sedikit saat tubuhnya mendadak menegang. Suara bariton dingin itu membuat punggungnya serasa disiram es. Perlahan, dengan jantung yang memukul-mukul rusuknya, Micathya menoleh.
"K-Kak Nagen?"
Pemuda tampan bermata hazel itu berdiri di dasar tangga, satu tangan di saku celana, ekspresinya datar namun tatapannya tajam seolah bisa menguliti kebohongan siapa pun dalam sekali lihat. Ia menaikkan dagunya sedikit.
"Turun."
Nada suaranya tidak keras, tapi cukup untuk membuat kaki Micathya refleks melangkah mundur-ke bawah, bukan ke atas.
Nagen tidak menjawab. Tatapannya bergerak dari wajah pucat adiknya, turun ke dress pendek yang ia pakai, lalu kembali naik ke mata gadis itu. Detik berikutnya, rahangnya mengeras.
"Dari mana?" tanyanya, suaranya rendah dan dingin, seperti sedang menahan sesuatu di bawah permukaannya.
"Gue habis dari rumah temen, kok." jawab Micathya gugup, suaranya gemetar tidak karuan.
Nagen hanya menatapnya tanpa kedip, lalu perlahan-terlalu perlahan-sebuah senyum sinis terangkat di ujung bibirnya.
"Sampai nggak inget pulang?" Nada suaranya turun beberapa derajat, dingin tajam. "Lo tau kan, sekarang jam berapa?"
Sebelum Micathya sempat mengalihkan pandangan, jari-jari Nagen sudah terangkat, mencengkeram dagu gadis itu. Cengkeramannya tidak kasar, tapi cukup kuat untuk memaksa Micathya mendongak menatap mata hazel-nya.
"Kelamaan ngobrol?" ulang Nagen pelan, matanya menyipit, seakan sedang menimbang apakah ia akan percaya atau tidak. "Micathya, ini hampir jam sebelas malam."