"When the world shattered in the blink of an eye, I opened mine to find a life that wasn't mine."
___
Hujan deras mengguyur malam itu. Lampu jalan memantul di permukaan basah, sementara mobil melaju kencang menembus kabut tipis. Dari kursi belakang, aku menatap keluar jendela tanpa tujuan. Ada perasaan aneh di dadaku, seakan sesuatu akan terjadi.
Lalu suara klakson meraung keras.
"BRAAAK-!"
Benturan menghantam, kaca pecah, tubuhku terhempas. Pandanganku gelap seketika.
---
Ketika aku membuka mata lagi, aroma antiseptik menusuk hidungku. Suara mesin medis berdengung pelan di samping telinga. Tubuhku terasa lemah, dan kepalaku berdenyut hebat.
"Dia sadar!" suara seorang pria terdengar dari arah pintu.
Dua pria masuk dengan wajah panik. Yang pertama berambut cokelat gelap, bermata abu-abu tajam. Yang satunya lagi berambut hitam sebahu, dengan mata biru yang lebih lembut.
"Aurelia, kamu bikin aku khawatir setengah mati," ucap pria bermata abu-abu dengan nada berat.
"Jangan banyak bicara dulu. Kamu baru saja kecelakaan," tambah pria bermata biru, lebih tenang dan pelan.
Aku menatap mereka bingung. "Aurelia? Aku... siapa?"
Keduanya terdiam sesaat, saling bertukar pandang. Tak lama kemudian, seorang dokter masuk. Ia membawa clipboard dan mengenakan stetoskop di leher.
"Selamat siang. Saya akan melakukan pemeriksaan singkat," ucapnya datar.
Ia menyalakan senter kecil, lalu menyinari mataku bergantian. "Tolong ikuti cahaya ini dengan mata Anda."
Aku menurut, meski kelopak mataku terasa berat.
Selanjutnya ia bertanya, "Bisa sebutkan nama Anda?"
Aku menggeleng pelan. "...Aku tidak tahu."
"Sekarang tahun berapa?"
"...Aku tidak ingat."
Ia menuliskan sesuatu di kertas. "Ada rasa sakit di kepala atau tubuh Anda?"
"Ya... kepalaku terasa berat."
Dokter itu menghela napas kecil. "Baik. Dari pemeriksaan awal, pasien selamat tanpa luka fatal. Namun, ada indikasi kehilangan ingatan-kemungkinan besar amnesia pasca trauma kepala. Saya sarankan observasi lebih lanjut."
Aku tercekat. Amnesia? Jadi benar aku tidak ingat apa pun...
Pria bermata abu-abu itu menggenggam tanganku kuat. "Aku Damian Vale, kakak sulungmu."
Pria bermata biru menyusul dengan suara lembut, "Dan aku Leon Vale, kakak keduamu. Kamu nggak sendirian, Aurelia."
Aku menelan ludah. Kakak? Sejak kapan aku punya kakak seperti mereka?
Damian menatapku dengan sorot mata penuh emosi. "Nama kamu Aurelia Vale. Adik kecil kami."
Aku terdiam. Nama itu asing, tapi semua orang di sini yakin aku adalah gadis itu. Rambut hitam sebahu, wajah mungil, dan mata ungu yang menatap kosong ke arah mereka.
Masalahnya, aku sama sekali tidak punya ingatan tentang siapa Aurelia. Dan jauh di dalam hati, aku tahu satu hal pasti-aku sudah tidak berada di duniaku sendiri.
-
Dan begitulah... sekali kecelakaan, hidup lo bisa ke-reset jadi orang lain. MC kita bahkan belum sempet ngerasain enaknya jadi 'Aurelia', udah keburu amnesia. Parah banget sih, baru nyemplung aja udah blank memory. Jadi siap-siap aja, karena mulai bab selanjutnya dia bakal ketemu banyak wajah baru, banyak tanda tanya, dan pastinya-banyak drama. Stay tuned, jangan kabur dulu yak~ 😏🔥
YOU ARE READING
Fragments of an Unknown Life
Teen FictionSebuah kecelakaan mobil merenggut satu kehidupan-dan memaksaku membuka mata di tubuh yang sama sekali bukan milikku. Bukan reinkarnasi, bukan juga mimpi; aku tahu ini nyata, karena rasa sakitnya pun ikut menempel. Nama yang kudengar dari orang lain...
