intro

74 10 0
                                        

Introduce The Characters

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Introduce The Characters

Aksadikara Gandapati [Aksa]19 years old

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aksadikara Gandapati [Aksa]
19 years old. A Civil Engineering Student —
Disciplined, dependable, and quietly caring. A perfectionist with a soft spot for the people he loves. He speaks through actions instead of words, jokes around with his closest friends, and never hesitates to help—unless he's the one who needs it. Rarely makes promises he can't keep.

Binar Rembulan Ayana Adhitama [Bulan]19 years old, a Biology Student — Warm, curious, cheerful, stubborn, and quietly resilient

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Binar Rembulan Ayana Adhitama [Bulan]
19 years old, a Biology Student — Warm, curious, cheerful, stubborn, and quietly resilient. Matcha latte addict. Pink enthusiast. She believes every problem has an answer if she's patient enough to find it. Easy to laugh, easy to trust, yet often keeps her own worries to herself. She has a habit of believing people deserve another chance, even when her heart is already telling her otherwise.

***

Parkiran gedung Biologi baru saja dipadati mahasiswa yang datang hampir bersamaan. Deretan motor bergantian masuk ke area parkir, sementara beberapa dosen melintas membawa map tebal di bawah lengan. Di depan gedung, Bulan baru saja memarkir motornya ketika sebuah tangan melambai dari arah koridor. Suara mahasiswa yang baru keluar kelas memenuhi pelataran kampus. Percakapan saling bersahutan, langkah kaki beradu dengan lantai koridor. Di tengah riuhnya suasana, sebuah suara berat terdengar dari kejauhan.

"Lan!"

Sheila berjalan lebih dulu menghampirinya, disusul Caca yang kebetulan juga baru sampai. Ketiga puan itu berjalan berdampingan menuju gedung departemen.

"Ay!"

Langkah Bulan terhenti begitu saja. Sheila yang sedari tadi mengoceh ikut menoleh. Begitu pula Caca. Ketiganya kompak mencari asal suara hingga pandangan Bulan berhenti pada sebuah Yamaha XSR 155 berwarna silver black yang terparkir beberapa meter dari mereka. Mesinnya masih menyala.

Seorang laki-laki duduk santai di atasnya dengan satu kaki menapak aspal. Jaket parasut hitam yang dikenakannya bergerak pelan diterpa angin sore. Wajahnya masih tertutup helm full face dengan visor yang sudah dibuka. Bulan langsung tahu siapa pemilik motor itu. Alisnya bertaut tipis.

Laki-laki itu mematikan mesin motornya. Helmnya dilepas dengan satu gerakan ringan, memperlihatkan rambut hitam yang sedikit berantakan. Jemarinya menyapu rambut ke belakang sebelum akhirnya melangkah menghampiri mereka.

Aksadikara Gandapati.

Begitu sampai di depan Bulan, laki-laki itu langsung mengulurkan tangan yang masih dibalut sarung tangan kulit hitam. "Nih. Ketinggalan."

Bulan mengernyit. Pandangannya turun mengikuti benda yang ada di tangan Aksa. Map mika bening berwarna krem. Gadis itu langsung menyampingkan tas punggungnya dan merogoh isi dalamnya. Yang dibawa laki-laki itu memang miliknya. Dadanya seketika mengempis.

Bulan buru-buru mengambilnya. Ritsleting map langsung dibuka, jemarinya membolak-balik isi di dalamnya. Lembar tugas. LKM. Print-out jurnal. Semuanya masih utuh.

"Hah..." embusnya lega. Bahunya ikut turun. "Iya lagi."

Gadis itu menutup kembali map itu, lalu mendongak. "Suwon (makasih), Sa."

Sudut bibir Aksa terangkat tipis. Ia mengangguk sekali. "Duluan." Ia berbalik hendak kembali ke motornya. Namun baru beberapa langkah berjalan, Aksa menoleh sedikit.

"Next time..." Aksa mengangkat dagunya tipis. "Minum Aqua."

Bulan langsung mendelik tak suka. "Heh!"

Aksa hanya terkekeh pelan sebelum melanjutkan langkahnya. Tak sampai beberapa detik kemudian, suara mesin motornya kembali terdengar dan perlahan melenggang pergi meninggalkan pelataran kampus.

Bulan masih berdiri memandangi punggungnya hingga sebuah senggolan pelan di lengannya membuatnya tersadar. Sheila memasang senyum penuh arti. Caca bahkan sudah menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Itu..." Caca menyambung tanpa memberi jeda. "Siapa, Lan?"

Bulan mendesah pelan sambil memutar bola mata. "Temen."

"Temen?" ulang Caca dengan nada tidak percaya. "Kok bisa bawa map lo sih?"

"Satu kos-an. Tadi kayaknya aku asal naruh pas mau pake sepatu terus dia liat kali," jawab Bulan kemudian mengangkat bahunya acuh.

"Oooh..." Sheila memanjangkan nada bicaranya sambil mengangguk-angguk. "Gitu to?"

Binar menoleh. "Shei."

"Apa?" tanya Sheila polos, meski sudut bibirnya sudah berusaha menahan senyum.

"Mulai," gumam Binar sambil memutar bola mata.

Sheila malah tertawa.

"Kenalin ke gue dong, Lan," pinta Sheila sambil merangkul lengan Bulan. Senyum usilnya tak juga luntur.

Bulan mendengus pelan. "Kapan-kapan."

"Lah, pelit amat," protes Sheila sambil mengerucutkan bibir.

Bulan menggeleng pelan sambil menahan senyum. Alih-alih meladeni ocehan kedua sahabatnya, ia justru mempercepat langkah, meninggalkan mereka beberapa meter di belakang.

"Eh!" panggil Sheila, berusaha menarik perhatian Binar.

"Bulan!"

"Kabur ih," keluh Caca sambil menggeleng geli.

Tanpa menoleh, Bulan hanya mengangkat sebelah tangannya, melambai asal sebagai jawaban. Di belakangnya, tawa Sheila dan Caca pecah, menyatu dengan riuh mahasiswa yang memenuhi pelataran kampus. Map itu kembali ke tangan pemiliknya. Pagi pun berjalan seperti biasa. Setidaknya, begitulah yang Bulan kira.

***

Selamat bertemu dengan Aksa dan Bulan.

with love, Pparacetampol

Where We BelongStories to obsess over. Discover now