Original soundtrack
•
•
•
Prolog
•
•
Kediaman utama keluarga besar Caturangga malam itu terlihat lebih ramai dari malam-malam sebelumnya. Namun, sunyi di sana jauh lebih memcekam bersama atmosfer dingin yang mengelilingi ruang utama rumah tersebut.
Di ujung meja sana, sang kepala keluarga — Bratawira Caturangga— berdiri dengan wajah tegas dan tubuh gagah meski telah memasuki kepala empat. Di sampingnya, Kirana Lesmana, sang istri tampak acuh tak acuh pada pertemuan malam itu. Garis wajahnya lebih dingin dan tatap matanya lebih menusuk dengan pembawaan tenang yang mencerminkan wanita berkelas.
Lalu di seberang sofa, berjejer tiga remaja laki-laki yang duduk saling berjauhan seolah menghindari bakteri satu sama lain. Tatap tajam saling terlempar seolah-olah mereka akan langsung saling membunuh jika saja tidak ada Brata dan Kirana di ruangan tersebut.
"Jadi anak-anak, tujuan Papa mengumpulkan kalian semua di sini malam ini karena Papa mau menyampaikan keputusan yang sudah Oma dan Papa diskusikan sejak lama," ucap Brata di tengah hening dan sunyi yang membuat suasana canggung mendominasi sejak awal mereka berkumpul.
Jelaga hitam Brata bergulir menatap satu per satu wajah tiga putra kandungnya yang duduk saling berjauhan dengan wajah yang kentara menyimpan permusuhan. Ini tidak akan mudah bagi Brata mengingat bagaimana ketiga putranya hidup saling membenci satu sama lain. Tetapi Brata harus melakukannya. Pria berkepala empat itu membuang hela napas berat sebelum kembali menatap ketiga putranya bergantian.
"Takha, mulai sekarang, Jio dan Jeka akan tinggal di rumah ini bersama kita."
"What the fuck---"
Ini suara Jenanta Kael, atau yang kerap kali di sapa Jeka atau Jeje sebagai panggilan kesayangan dari Brata. Remaja 16 tahun yang merupakan putra bungsu Caturangga dari mantan istri keduanya itu dipaksa datang ke kediaman ayah kandungnya setelah bertahun-tahun ia tinggal bersama ibunya. Usianya yang paling muda di antara tiga anak lainnya, tetapi badannya terlihat yang paling tinggi meski perawakannya sedikit kurus.
"Pa? Seriously? Harus banget nampung dua sampah ini di rumah ini?"
Yang ini suara Dierja Tanaka. Takha nama panggilannya. Anak dari Kirana Lesmana yang merupakan istri sah dan istri pertama Brata. Satu-satunya anak yang memiliki status paling jelas diantara anak-anak Brata yang mengalami krisis identitas. Sangat membenci fakta jika ayahnya memiliki anak lain dari wanita selain ibunya. Sebab itu Takha menjadi pribadi yang dingin dan angkuh hingga menjaga jarak dengan ayah kandungnya sendiri.
"Wah, kocak! Make nih bapak-bapak."
Suara lain datang dari seberang sofa tempat Jeka terduduk. Eljio Adinata, cowok 17 tahun yang merupaka rider muda dari kelas 250cc. Hidupnya sudah cukup damai dan tentram meski hanya tinggal berdua bersama maminya yang super hot. Sebelum beberapa jam lalu orang-orang suruhan Brata datang dan memaksanya untuk datang ke rumah ini.
Memang sebelumnya, ketiga remaja cowok itu tidak tinggal di atap yang sama meski memiliki status sebagai anak kandung Bratawira Caturangga. Hanya Takha yang benar-benar tinggal di rumah tersebut bersama Kirana dan Brata. Sedangkan Jeka dan Jio masing-masing tinggal bersama ibu kandung mereka dengan alasan masing-masing.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Enemy to Family
General FictionGimana jadinya kalau kamu punya ayah yang masa mudanya suka gonta ganti pasangan dan hobi nanam benih? Ini kisah tiga anak laki-laki Bratawira Caturangga dari tiga wanita berbeda. Dierja Tanaka Caturangga, anak dari istri sah dari hasil perjodohan b...
