Chapter 1: Awal Bertemu

14 2 2
                                        

Hai hai, ini cerita barunya aku ya guys.

Untuk cerita di sebelah belum aku update, soalnya otak lagi buntu hehehe.

Selamat membaca...

Udara pagi itu terasa segar, langit biru tanpa awan, dan sinar matahari masih lembut, menyapu dedaunan dengan hangat yang menenangkan.

Tapi perasaan Aksara justru sebaliknya-perutnya terasa mual seperti ada ribuan kupu-kupu yang menari di dalamnya.

Ini adalah hari pertamanya masuk SMP, dan bukan sembarang sekolah.

Ini adalah SMP Cahaya Harapan, salah satu sekolah unggulan di kota itu.

Aksara berdiri di depan kaca, merapikan seragam putih birunya.

Rambut hitamnya yang lurus sebahu dikepang dua, sederhana tapi rapi.

Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

"Lo siap?" suara dari ambang pintu membuatnya menoleh.

Itu Raka, kakaknya.

Umurnya baru tujuh belas, tapi sudah terlihat seperti orang dewasa-tingginya hampir 180 cm, rambutnya agak panjang dan sedikit berantakan, tapi justru itu yang bikin dia terlihat keren, menurut teman-teman Aksara.

Ia bersandar santai di kusen pintu sambil memainkan kunci motor di jarinya.

Aksara mengangguk pelan. "Siap... kayaknya."

Raka tersenyum, berjalan masuk lalu merapikan kerah adiknya. "Kamu pasti bisa. Jangan terlalu tegang. Anak-anak seumuran kamu juga masih bingung kayak kamu kok."

"Gimana kalau aku enggak dapat teman?" Aksara bertanya pelan.

Raka menatapnya, lalu berkata, "Dengar ya, kamu itu cerdas, baik, dan punya hati yang lembut. Kalau ada orang yang nggak mau temenan sama kamu, berarti mereka yang rugi."

Aksara hanya tersenyum kecil, lalu memeluk kakaknya sekilas. "Makasih."

Raka tersenyum kembali. "Oke, ayo berangkat sebelum kita telat."

Setelah sarapan singkat dan pamit pada orang tua, mereka berdua meluncur dengan motor ke arah sekolah.

Angin pagi menerpa wajah Aksara di atas motor, dan sedikit banyak menenangkan kecemasan di dadanya.

Gerbang SMP Cahaya Harapan sudah terbuka ketika mereka tiba.

Halamannya luas dan bersih, pohon-pohon rapi berjajar di sepanjang jalur masuk.

Murid-murid berseragam mulai berdatangan dari berbagai arah, sebagian bersama orang tua, sebagian naik sepeda, sebagian lain bersama teman.

Raka memarkir motor tak jauh dari gerbang, lalu turun dan menoleh ke adiknya. "Lo bawa semuanya? Buku? Pulpen? Kotak makan?"

"Bawa," jawab Aksara sambil memeriksa isi tasnya sekali lagi.

"Oke, good. Sekarang, jalan masuk. Nanti di aula katanya ada pengumuman pembagian kelas. Jangan takut nanya ke kakak OSIS ya."

Aksara mengangguk.

Tapi sebelum melangkah, ia menoleh lagi. "Raka... makasih ya, udah nganterin."

"Selalu," jawab Raka sambil mengacak rambut adiknya. "Gue tunggu kabar baik nanti. Cerita kalau udah kenal temen baru."

Aksara mengangguk, lalu mulai melangkah masuk melewati gerbang-langkah pertama dari perjalanan yang akan mengubah hidupnya.

***

Ia melangkah masuk, melewati gerbang yang menjulang tinggi, dan tiba-tiba semuanya terasa lebih besar, lebih ramai, dan lebih menakutkan.

Anak-anak seusianya sibuk ngobrol, beberapa bersama orang tua, beberapa sudah saling kenal.

4 Sahabat Yang Takkan Terpisahkan!!!Opowiadania do pokochania. Odkryj je teraz