1: Awal Mula

18 1 0
                                        

Sebagian dari mereka berjuang dalam gelap, hingga suara teriakannya tak terdengar.
Bukan karena lemah, tapi karena dunia terlalu sibuk mendengarkan kebisingannya sendiri.

Bagian 1:  Awal Mula

Aluna tahu, keputusannya kali ini akan mengubah arah hidupnya. Setelah menghabiskan 10 tahun di Edinburgh yang telah menjadi rumah keduanya, ia harus mengucapkan 'selamat tinggal' dan kembali ke Indonesia.  Aluna sudah merencanakan perjalanannya dengan matang dari jauh-jauh hari. Dia juga sudah mendaftar kuliah di salah satu Universitas dengan mengambil bidang studi Sastra Inggris.

"jangan sedih Bi, nanti aku balik lagi kok," bisik Aluna dalam pelukannya.

Wanita paruh baya itu tersenyum, meski raut khawatir masih terukir di wajahnya. 

"Iya bibi tau, ini ambil." Wanita itu menyelipkan sebuah amplop yang cukup tebal ke tangan Aluna. 

"Bi—," belum sempat Aluna menyelesaikan ucapannya, bibinya sudah menggelengkan kepala.

"Kalau ada orang tua yang ngasih sesuatu, kamu harus terima," ujarnya lembut.

Mendengar hal itu, Aluna pun pasrah dan menerimanya. "Nanti Aluna berkunjung kalau libur ya," ujarnya berjanji. 

"Sure, take care aye? jangan sampai sakit."

Setelah itu, mereka benar-benar berpisah. Aluna menarik napas dalam-dalam lalu melangkah menuju boarding gate sembari melambaikan tangan ke bibinya. Perlahan, langkahnya semakin menjauh. Meski sedikit berat, ia tetap melanjutkan langkahnya sembari menguatkan tekadnya.

"Home, I'm coming!"

...

Pukul 11:30 Waktu Indonesia Barat

Bagai dibius oleh obat tidur, mata Aluna terasa berat begitu keluar dari pesawat. Untung saja mobil pesanannya datang tidak lama setelah ia keluar dari bandara. Bisa-bisa ia tidur di tengah jalan jika pesanannya datang terlambat. 

"Ke perumahan xxx, no xxx, ya Pak," ujar Aluna sesampainya di dalam mobil.

Setelah menyebutkan alamatnya, kepalanya terasa semakin berat dan pandangannya tampak berputar. Samar-samar ia mendengar supir tersebut memanggilnya berulang kali dan menanyakan hal yang sama, seolah apa yang diucapkan Aluna tidak cukup jelas untuk dimengerti.

"Na...."

"Kemana?"

Hanya potongan kata itu yang dapat di dengar Aluna, konsentrasinya benar-benar buyar sekarang. Untuk kedua kalinya ia menyebutkan alamat tujuannya, lengkap dengan nama kota dan kode pos nya. Setelahnya, entah apa yang terjadi, Aluna tidak tahu karena ia sudah terlelap dalam tidurnya.

...

"Mbak..."

"Mbak..."

Sayup-sayup Aluna mendengar namanya dipanggil. Matanya mulai terbuka perlahan, masih berat karena kantuk. Ia menoleh ke arah sopir yang duduk di depan.

"Maaf, sudah sampai."

"Oh sudah? Maaf ya Mas, saya ketiduran," ujarnya bergegas mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah. 

"Nggak Perlu."

Aluna mengerjap bingung, entah nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya, atau memang pria itu menolak uang yang diberikannya?

"Loh, Mas, saya tadi belum bayar."

"Saya bukan—"

Ketukan di kaca membuat pria itu terhenti. Seorang wanita berambut pendek muncul di sisi mobil, wajahnya basah oleh keringat.

"Alunaa!" serunya.

"Ki, bentar ya... bayar taksi dulu."

"Serius Mas, ini uangnya," ujar Aluna kembali menyodorkan uangnya. 

Pria itu menoleh, kali ini Aluna dapat melihat wajahnya. Dengan pelan, pria itu mendorong tangan Aluna. "Saya bukan supir, mungkin mbak salah masuk mobil," ujar pria itu dengan nada tenang.

Justru kini Aluna lah yang gelisah. Ia mengecek hp nya, dan benar saja sepuluh panggilan tak terjawab dari driver yang dipesannya. Aluna menatap pria itu dan hpnya bergantian, tubuhnya membeku dan lidahnya kelu. Bahkan, Kirana yang mendengar percakapan dari luar pun ikut terkejut. 

"Boleh saya pergi?"

"E-eh, boleh, sebentar." Aluna membuka pintu dan mengeluarkan barangnya, tangannya bergetar meskipun sudah turun dari mobil pria itu.

"Sekali lagi maaf Mas," ujarnya membungkukkan badannya berulang kali.

"Nggak papa, kalau begitu saya permisi dulu," ujar pria itu dari dalam mobil.

Perlahan, mobilnya melaju pergi, meninggalkan Kirana dan Aluna yang termangu dengan pikirannya masing-masing. Kejadian itu menjadi pukulan telak untuk mereka berdua.

"Mending kita masuk," ujar Kirana sembari menepuk-nepuk punggung Aluna yang menatapnya dengan mata yang berair. Seolah ia ingin menguatkan sahabatnya dari kejadian memalukan yang baru saja dialamminya.

Bersambung

Halo Selamat, kalian sudah menemukan cerita ini
Gimana untuk Chapter satu nya?

Semoga cukup menghibur ya 🤗

Author-nim mau mengucapkan terima kasih buat yang sudah mampir dan membaca. Ini cerita yang author tulis setelah hiatus 4 tahun lamanya.

Walaupun sempat ragu buat ngepost ceritanya, tapi akhirnya menemukan keberanian buat ngepublish cerita ini :)

Walaupun cerita ini nggak sempurna, author berharap kalian bisa tetap menikmati setiap bagian yang ada.
Komentar, kritik, dan saran akan sangat berarti buat author, karena itu bisa jadi motivasi besar untuk terus menulis lagi.

Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca, semoga cerita ini bisa jadi teman yang menyenangkan buat kalian semua 💖

Selamat membaca, dan semoga kalian betah mengikuti perjalanan cerita ini sampai akhir! 🌷

See you next week with a new chapter! 💫

Aluna: Our Unfortunate DestinyStories to obsess over. Discover now