Aku larut dalam pikiranku sendiri. Pulpen yang sedari tadi kuputar di antara jari menjadi pelarian dari lamunan yang tak kunjung usai. Khayalanku melayang jauh—terlalu jauh untuk dijangkau oleh logika. Tepat di depanku duduk sosok yang kuanggap spesial dalam hidupku. Matanya putih bersih, penuh cahaya. Rambutnya pendek, rapi, dan terawat. Tangan mungilnya memegang spidol, dan setiap kali ia berbicara... suaranya terdengar seperti musik jazz—tenang, lembut, dan damai. Setiap nada suaranya menyentuh sesuatu yang tak terlihat di dalam diriku.
"Oh, kau manusia yang ku kagumi"
Mengapa kau terlihat begitu dekat... tapi terasa begitu jauh?"
bisikku dalam hati, getir.
Namaku Samantha Aksa, tapi teman-temanku biasa memanggilku Sam. Aku berumur 17 tahun dan kini duduk di bangku SMA. Aku orangnya sederhana, gampang suka dan benci sesuatu, tapi sulit sekali mengekspresikannya. Bisa dibilang... aku orang yang suram. Begitulah kira-kira kalau kulihat dari sudut pandang orang lain.
Pagi itu aku terbangun dari tidur yang cukup lelap. Jam menunjukkan pukul 07.00—yang artinya, sebentar lagi pelajaran pertama dimulai. Sial, Tersisa 15 menit untuk sampai ke kelas. Tanpa pikir panjang, aku langsung bangkit, lari ke kamar mandi, dan bersiap secepat mungkin. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.56 ketika aku akhirnya tiba di sekolah.
Benar-benar terlambat.
Aku mengetuk pelan pintu kelas yang sudah rapuh itu. Dari dalam, terdengar suara perempuan yang sangat familiar. Suara yang membuat jantungku sedikit berdebar.
"Iya, masuk."
Itu suara dia. Sosok yang... entah sejak kapan, mulai membuat hariku lebih hidup.
"Sam, kenapa telat?"
Nada suaranya sedikit tinggi, tapi tak menyakitkan.
Aku hanya bisa menunduk dan menjawab pelan,
"Maaf, Bu... saya kesiangan."
Ia menatapku sejenak, lalu mengangguk.
"Oke, sekarang kamu berdiri di belakang, sambil catat ini di buku kamu. Jangan duduk sebelum Ibu suruh, ya."
Suaranya kembali lembut. Dan entah kenapa, bahkan ketika aku dihukum, suaranya masih terdengar seperti nada yang menenangkan.
"Baik, Bu."
Akhirnya, setelah sekitar sepuluh menit berdiri di belakang kelas, aku dipersilakan duduk oleh Bu Dina.
Dina Puspita, yap itulah namanya atau biasa dipanggil Bu Dina. Salah satu guru paling muda di sekolah ini. Gayanya santai, tapi tetap berwibawa. Dan entah kenapa, setiap kali beliau bicara... kelas mendadak jadi tenang. Baru saja aku menarik napas lega duduk di bangku, suara pelan memanggil dari sebelah kanan.
"Woi, Samm. Sttt, sttt."
Aku menoleh, menaikkan alis sedikit.
"Ngapa?"
"Diliat berapa kali pun, si Bu Dina cakep juga ya," bisik temanku sambil nyengir.
Namanya Satya Wicaksono—kupanggil Wicak.
Satu-satunya orang di sekolah ini yang bisa kubilang benar-benar temanku.
Aku mengangkat bahu dan menjawab dengan nada sok cuek,
"Mmm... biasa aja sih. Kayak perempuan lain."
Padahal kenyataannya... enggak. Bu Dina memang beda. Tapi aku terlalu gengsi untuk bilang begitu.
"Oh ya, abis jam terakhir nongkrong, yuk?" ajak Cak.
Aku menatapnya sekilas.
"Nggak tau, ya. Liat nanti. Gua ada urusan."
Cak menyipitkan mata, menebak-nebak.
"Urusan atau nulis novel, nih?"
Aku cuma nyengir kecil.
"Yoi."
Dia mengangguk dengan ekspresi paham banget.
Memang, cuma Cak yang benar-benar mengerti diriku.
YOU ARE READING
Selamat Tinggal
RomanceBeberapa luka tak berdarah, tapi mengalir seumur hidup. Samantha Aksa tumbuh dalam rumah yang sepi, diiringi senyap gitar yang tak lagi bersuara, dan kenangan ayah yang pergi sebelum sempat dimaafkan. Ibunya menyerah pada duka, meninggalkannya bersa...
