ITOSHI RIN X FEMALE READERS
(if you are a boy read RIN's pov)
Alternative univers
⚠️ WARNING :
Cerita ini mungkin nuansanya lebih ke Shounen, tapi MC (Karakter Utama) di sini adalah reader cewek. (Kalau kamu perempuan, kamu bisa masukkan namamu seb...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Many have died for power, more have killed for wealth - but the cruelest crimes are done in the name of love."
"Banyak yang mati demi kekuasaan, lebih banyak lagi yang membunuh demi harta - tapi kejahatan paling kejam dilakukan atas nama cinta."
_Itoshi Rin vonEisenlicht_
Kota Rosenholt - (Abad ke 17)
Malam ini, angin mencabik sampai ke tulang. Dinginnya serupa tatapan para imam saat melafalkan namaku. "[Your Name] Eisenviel." Suara mereka menggema di bawah kubah Cathedra Luxcor-tempat yang mereka sebut suci, tapi aromanya... seperti darah yang tak pernah sempat kering.
Aku tidak punya sihir. Tapi setiap tetes darahku penuh esensial yang mereka konsumsi untuk meluaskan kekuatan sihirnya. Mereka memanggilku 'wadah Tuhan.' Aku hanya merasakan sakit saat darahku ditarik habis, yang mereka sebut upacara. Aku hanya ingin hidup. Tapi malam ini... mereka ingin mengambil semuanya. Hingga habis.
Aku berlari. Kakiku goyah, langkahku seperti mimpi buruk-tak pernah benar-benar menyentuh tanah. Jubahku menempel di punggung, basah oleh darahku sendiri. Tapi aku terus memaksa maju. Karena jika aku berhenti ... mereka akan mencium jejakku, dan altar itu akan terbuka lagi. Putih. Dingin. Bau garam dan kematian.
Aku tak tahu ke mana aku menuju. Hanya saja, jalan berbatu berubah menjadi tanah liat, lalu menjadi akar dan lumut. Gelap. Hening. Dan basah.
Finsterwald.
Orang-orang bilang, hutan ini memakan siapa pun yang masuk. Tapi lebih baik dimakan hutan… daripada dibekukan jadi botol-botol kaca yang disebut 'anugerah kerajaan.'
Hutan ini dijaga oleh seorang entitas kuno, berumur ribuan tahun, yang matanya menatap setiap langkah yang berani menembus kegelapannya. Tanganku gemetar saat aku merangkak mendekati sesuatu. Batu-besar dan tua, ditumbuhi lumut liar dan bunga mati.
Di atasnya, berdiri sebuah botol kecil dari kaca berdebu, memantulkan cahaya biru keperakan yang tidak berasal dari bulan.Segalanya kabur di depan mata, kesadaran tersisa setipis benang
Aku hanya haus.
Tanganku meraih.
Bibirku terbuka.
Dan aku meneguknya.
Rasanya... manis.
Seperti madu yang dipanaskan.
Lalu terbakar.
Seperti bara besi di tenggorokan.
KRAKK.
Botol kaca itu pecah dalam genggamanku, dan dunia mendadak bergeser. Langit berdenyut. Udara mendesis. Dan aku-aku merasa sesuatu masuk ke dalam tubuh ku.
Di tempat lain, jauh dari jangkauan manusia, kegelapan abadi berguncang. Sebutir cahaya bergetar di dalam cangkang sihir, retak tipis merambat perlahan, seolah mendengar panggilan dari dunia yang baru saja mengusik.
Lelaki itu membuka matanya untuk pertama kalinya dalam berabad-abad. Pangeran Itoshi Rin von Eisenlicht, pewaris yang pernah membakar jalannya sendiri dengan darah kakaknya. Tubuhnya bangkit, ringan tapi hampa. Esensial miliknya... hilang. Tertarik oleh permohonan yang seharusnya setenguk. Tapi kini-habis.
"Siapa ..." bisiknya, suara serak dari tubuh yang baru pulih dari kutukan.
Di depannya, altar batu muncul, dan seorang gadis kecil berdiri di sana. Jubahnya koyak. Tangannya terbakar cahaya biru. Dan di dadanya, esens yang dulu miliknya, berdenyut hidup.
Tubuhku jatuh ke tanah. Aku terbatuk, tanganku mencakar dedaunan lembap, napasku seperti asap keluar dari dada. Tapi aku tidak mati. Belum.
Di hadapanku, cahaya membentuk tubuh laki-laki... perlahan, utuh. Matanya sehijau permata zamrud. Rambutnya hitam legam.
"Kau ... beraninya kau meneguk semua itu," katanya.
Suaranya rendah, dan penuh amarah.
✨ CAST ✨
MC: [NAME] Esenviel Itoshi Rin Von Eisenlicth Michael Kaiser Dominic Isagi Yoichi Bachira Meguru Raja Claudius Yukimiya Ratu Claudius Meilanie Claudius Leonard Claudius Leona