Zeana, gadis yang sering menjadi korban bullying, bertemu dengan Abrizam, murid baru yang misterius dan penuh rahasia.
Perlahan, mereka menjalin ikatan yang kuat di tengah luka dan perjuangan masing-masing.
Melalui cobaan, harapan, dan janji yang...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Langit malam itu tampak seperti tumpahan tinta-pekat, tanpa bintang, dan hanya diterangi redup cahaya bulan sabit yang menggantung malas di ujung langit. Sekolah sudah hampir sepi, hanya suara jangkrik dan sisa langkah penjaga malam yang bergema di kejauhan. Di sudut taman belakang sekolah, di bawah pohon besar yang daunnya mulai gugur, duduk seorang gadis dengan tubuh ringkih dan mata sayu yang menerawang jauh, seperti sedang bicara dengan angin.
Namanya Zeana Zavira Wijayakrama. Usianya baru enam belas tahun, tapi beban di pundaknya sudah lebih berat dari sebagian besar orang dewasa. Bagi sebagian orang, Zeana adalah kutu buku. Pendiam. Aneh. Terlalu pintar. Terlalu rapuh. Terlalu... "berbeda."
Tapi tidak ada yang benar-benar tahu siapa dia sebenarnya. Tidak ada yang tahu bahwa setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia menyuntikkan obat di lengannya sendiri. Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam ia harus tidur dengan alat bantu napas kecil untuk berjaga-jaga kalau asmanya kambuh. Dan yang paling tidak diketahui siapa pun-kecuali dokter dan keluarganya-adalah fakta bahwa Zeana sedang berpacu dengan waktu.
Kanker. Stadium empat. Sudah menjalar ke paru-parunya.
"Gue nggak takut mati," bisiknya lirih, seolah berbicara pada bulan. "Tapi gue takut dilupain, sebelum gue sempat hidup sepenuhnya."
Hari itu sama seperti hari-hari lainnya. Zeana berjalan menyusuri lorong sekolah dengan kepala tertunduk, berharap tak menarik perhatian siapa pun. Tapi harapan itu seperti biasa, sia-sia.
"Eh, si zombie jalan!" seru seorang siswa perempuan dengan suara nyaring. Geng cewek-cewek populer tertawa di belakangnya.
"Liat tuh, bawa buku segunung. Mau makan itu buku buat obat, Na?"
Zeana hanya tersenyum kecil. Ia tahu melawan hanya akan memperburuk keadaan. Ia juga tahu, suara mereka nggak lebih keras dari detakan jantungnya sendiri yang makin lama makin lelah.
Namun hari itu, ada yang berbeda.
Saat salah satu dari mereka-Risa Agnibrata, si ketua geng populer-mendorong tubuh Zeana hingga bukunya jatuh berserakan, seseorang berdiri.
Seseorang yang belum lama ini pindah ke sekolah itu. Seseorang yang terkenal dengan aura dingin, wajah tanpa ekspresi, dan reputasi yang membuat para guru bahkan enggan menyebut namanya saat absen. Abrizam Darendra.
"Apa lo pikir lo keren ngelakuin itu?" ucapnya datar. Suara beratnya membuat semua mata langsung menoleh.
Risa sempat tersentak, lalu cepat-cepat mengangkat dagu. "Lo pikir lo siapa? Cuma anak baru yang sok keren-"
"Dan lo cuma pengecut yang keroyokan sama satu orang cewek kecil," potong Abrizam. Tatapannya tajam seperti belati. "Mau gue ucapin keren? Gue bisa kasih cermin, biar lo sadar betapa kasian-nya lo."
Hening. Suasana menjadi tegang. Tak ada yang berani bergerak. Risa hanya mendengus, lalu membalikkan badan. "Ayo, kita pergi. Bodo amat sama freak satu ini."
Saat semua orang pergi, Abrizam berjongkok, mengambil satu demi satu buku Zeana yang berserakan. "Lo nggak apa-apa?" katanya tanpa melihat wajahnya.
Zeana hanya mengangguk, suaranya kecil. "Makasih..."
"Lain kali, lawan."
"Gue nggak bisa..."
Abrizam menatapnya. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Dan dalam tatapan itu, sesuatu yang tak bisa dijelaskan terhubung-dua jiwa yang sama-sama terluka, yang sama-sama tahu rasanya dilukai diam-diam.
"Lo cuma belum tau cara bertarung," ujarnya akhirnya. "Nanti gue ajarin."
Zeana ingin tertawa, tapi yang keluar hanya helaan napas. "Kenapa lo peduli?"
Abrizam berdiri, menyampirkan tasnya. "Karena gue pernah ngerasain jadi lo."
Dan dengan itu, dia pergi, meninggalkan Zeana yang masih terpaku dengan detak jantung yang tiba-tiba berubah ritmenya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama... ada seseorang yang nggak pergi.