0: Prolog

123 65 15
                                        

"Di tanah yang hancur, cinta masih bisa berdiri."

-Umar Story

__________________________________


Langit yang dulu biru kini telah tenggelam dalam kelabu yang pekat,

segala harapan ikut lenyap bersama cahaya mentari. Tanpa peringatan, tanpa jeda, dentuman bom menelan kota itu-membelah langit, merobek bumi, dan meninggalkan sunyi yang mengerikan.

Tak ada lagi tawa anak-anak, tak ada lagi suara pasar, tak ada lagi panggilan waktu yang menggema dari menara.

Hanya sisa-sisa dinding yang retak, atap yang terbakar, dan udara yang mengandung bau besi serta debu kematian.

Kota itu hening. Negara itu diam.

Sebelumnya, jeritan dan tangisan memenuhi udara—teriakan penuh luka, seruan menyayat dari mereka yang kehilangan.

Tapi kini semua suara itu seolah habis, seperti tak ada lagi tenaga untuk mengungkapkan kesakitan yang terlalu dalam.

Suara-suara itu sudah menyerah.

Di antara puing-puing yang berserakan, jejak kaki kecil tertinggal di atas debu.

Debu yang menyelimuti tanah yang dulu penuh kehidupan, tanah tempat mereka pernah berlari dan bercanda.

Kini debu itu menggores,

menyampaikan rasa sakit dari setiap langkah yang terpaksa diambil.

Umar, bocah lelaki berusia empat belas tahun itu, berjalan tertatih. Tubuhnya penuh luka, matanya sembab dan membengkak karena tangis yang tak sempat dipedulikan.

Tangan kirinya patah, membiru, namun tetap ia gunakan untuk mendekap erat tubuh mungil yang melekat di dadanya—Aish, adiknya, satu-satunya keluarga yang masih bernapas.

Dia tak tahu bagaimana ia masih sanggup berdiri. Tubuhnya gemetar, tapi hatinya lebih kuat dari logam yang terbelah oleh perang.

Ia tidak bisa lagi kuat-namun juga tidak bisa tidak kuat. Ia harus kuat. Karena tidak ada pilihan lain.

"Aish... dengar suara Kakak, ya? Tetap dengar..." bisiknya pelan. "Jangan tidur, dengar Kakak terus... tetap seperti itu, ya..."

Aish mengerang pelan, napasnya mulai tak beraturan.

Debu terus masuk ke paru-parunya, membuat dada kecil itu sesak dan tubuhnya makin lemah.

Wajahnya pucat, seperti kehilangan warna kehidupan.

Tapi Umar terus berbicara-membisikkan kata-kata apapun, tak peduli tak teratur, tak peduli tak masuk akal.

Yang penting suaranya masih ada.

Yang penting Aish tetap mendengar. Jangan biarkan dunia ini mengambil segalanya, termasuk kesadaran adiknya.

"Pasti ada seseorang... pasti ada yang masih hidup... siapa pun..."
Ia berkata tanpa yakin, hanya untuk menenangkan dirinya sendiri.

Namun jawabannya hanya keheningan. Dan udara dingin yang makin menggigit kulit mereka berdua.

Umar menunduk, mencium dahi Aish yang mulai dingin. Langkahnya berat, tapi ia tetap berjalan, walau tanah di depannya seperti jurang tanpa
akhir.

Ia hanya punya satu tujuan—
menyelamatkan adiknya dari dunia yang telah hancur.

"Tidak ada... Siapapun."






Bersambung...

UMAR - [REVISI]Where stories live. Discover now