Pembuka
Tidak semua rumah diciptakan menjadi tempat kita pulang. Sebagian hanya menjadi tempat seseorang tumbuh bersama dengan rasa takut, amarah, dan kesepian yang tidak pernah benar-benar hilang.
Arkana hidup di rumah yang dipenuhi hal itu. Sejak kecil, ia terbiasa mendengar lebih banyak suara bentakan daripada ucapan selamat datang yang hangat.
Ia perlahan belajar mengenali suara langkah kaki yang membawa kemarahan, lalu diam-diam ia berharap jika malam itu bukan dirinya yang akan menjadi pelampiasan dari kekerasan.
Penyakit jantung yang selalu mengganggu malam tenangnya dan rasa sakit karena terus berharap bahwa keluarganya akan melihatnya sebagai anak yang pantas untuk dicintai.
Namun sekeras apa pun ia bertahan, tetap ada bagian dalam dirinya yang perlahan lelah.
Di usia tujuh belas tahun, Arkana mulai memahami satu hal bahwa tidak semua orang memiliki tempat untuk kembali ketika dunia terasa terlalu berat.
Karena terkadang, rumah bisa menjadi tempat paling sepi bagi seseorang yang seperti dirinya.
Arkana menyukai laut. Katanya, laut terlihat seperti kebahagiaan: indah dari jauh, tetapi terasa mustahil untuk digapai.
Tidak ada yang benar-benar mengerti maksud ucapannya saat itu. Hingga akhirnya mereka sadar bahwa selama ini, seorang anak laki-laki sedang berdiri sendirian di tepi hidupnya sendiri sambil menunggu seseorang datang dan menyelamatkannya.
Halo, jangan lupa vote cerita ini, oke! Semoga kalian suka dengan tulisanku. Selamat membaca semuanya!
YOU ARE READING
Lakara Lara di Ujung Luka (Sudah Direvisi)
FanfictionArkana Esha Lengkara punya dua hal dalam hidupnya: jantung yang lemah dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Di usia ketika remaja lain sibuk mengejar mimpi, Arkana justru berjuang untuk sekadar bertahan. Rumah yang seharusnya jadi tempat ia p...
