CHAPTER 1

48 12 4
                                        


Jam kini menunjukkan pukul 00.00 terlihat jalan ibu kota Jakarta yang terlihat masih di penuhi pengguna kendaraan, namun tidak mebuat pemuda bermotor hitam itu takut akan jalan raya yang padat.

pemuda dengan logo di jeket nya itu terus membelah jalan dengan kecepatan sangat tinggi menghiraukan pengendara sekitar nya.

Tak lama kemudian pemuda itu sampai ketempat dimana tidak asing bagi dirinya.

Dengan nafas yang masih memburu pemuda itu cepat-cepat turun dari motor nya dan segera masuk digedung yang terlihat seperti gedung tua tak berpenghuni.

"Samuel!," teriyak nya lantang melihat tajam pria itu, dengan rawut wajah merah padam pemuda itu hanya disambut dengan senyum lebar dari pria yang terlihat memakai jaket berlogo sama.

"Gue kira lu bakal ngeyambut gue dengan segelas minuman," jawab santai pria itu, terlihat pria itu tidak terkejut dengan kedatangan pemuda yang terlihat tiga tahun lebih muda dari dirinya.

Sambil menghela nafas pria itu bangkit dari sofa kusam yang ia duduki dan mendelisik tajam pemuda itu "lu telat bro, seharusnya lu dateng lebih cepat agar kita berdua bisa mengobrol lebih lama." ucap nya sedikit kecewa temannya itu telat datang menemui diri nya.

"Gue, gue tadi el habis dijegat-"

"Gue titip geng kita helios," potong pria itu tampak tidak mau berbasabasi

"gue yakin lu bisa gantiin posisi gue dengan baik, lebih dari gue sebelumnya, gue percayain semuanya ke lu Dawala." Lanjut pria itu menyebut nama pemuda itu.

terlihat pria itu serius dengan perkataan nya.

Pemuda yang di sebut Dawala itu terlihat tidak senang dengan ucapan pria itu. dengan tidak mengubah ekspresi wajahnya, tangan nya terkepal kuat dirinya berteriak tidak percaya akan hal yang dilontarkan padanya.

"Lu pikir dengan lu pergi semuanya bakal selesai! Ck, Lu tau sendiri kan seberapa bangsat nya mereka!" Teriak Dawala tidak menerima keputusan sepihak dari sahabat nya itu, yang dirinya anggap lebih dari seorang sahabat.

"Gue cuma berusaha ngelakuin yang terbaik, gue cuma mau konflik diantara kita selesai. mereka tetap bagian dari helios yang berarti sodara kita, dan gue gak mau ada mayat bergeletakan lagi." Tekan Samuel membayangkan masa kelam satu tahun lalu.

"Gue ngerti maksud lu, tetapi el lu gak perlu ngelakuin semua nya sendirian, masih ada gue dan anak-anak yang lain yang bisa ngurus semua ini, lu gak perlu sampe turun tangan!." Ucap Dawala menyakini pria bernama Samuel itu.

"Ini semua salah gue dan gue yang harus ngeselesaiin semua ini tanpa ada korban lagi, walaupun itu sama dengan ngeyerahin nyawa gue sendiri."

"Tapi-"

"Gue serahin Helios ke lu," ujar Samuel sambil menepuk pundak Dawala "dan gue berharap lu mau berkerjasama dengan orang yang udah gue pilih, Gue percaya kalian berdua bisa gantiin posisi gue jadi pemimpin Arson, gue pamit."

Setelah mengatakan itu Samuel segera pergi dan menyalakan motor sport merah nya dan meninggalkan gedung yang semua orang menyebut markas.

..............................

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
HING CLAS  Stories to obsess over. Discover now