Present

20 0 0
                                        

​"Mereka... anak kamu, Mas?" tanya Jihan tergagap. Suaranya bergetar pelan, menyembunyikan sesak yang mendadak menghantam dadanya.

"TIDAK!" sembur Arka cepat.

Tanpa membuang waktu, Arka menarik si kembar sekaligus dari pangkuan Jihan dan menyerahkannya paksa ke arah Rey-yang sejak tadi merangkap sebagai babysitter darurat.

"Singkirkan mereka!" ucap Arka dingin dan tanpa ampun.


​Mata Rey seketika melotot lebar mendengar perintah kejam tuannya. Namun, sebelum Rey bergerak, Jihan sudah lebih dulu menggeleng dengan mata berkaca-kaca. Air matanya menetes pelan.

​"Mereka sangat indah, Kak..." ungkap Jihan polos, refleks menggunakan panggilan masa remaja mereka.

​"Kak?" ulang Arka.

​Jihan mengusap pipinya canggung. "Maksudku... Mas...?"

​Arka sudah tidak tahan lagi. Dadanya gemuruh melihat Jihan yang menangis tersedu-sedu-jelas-jelas mengira bahwa ia telah menikah lagi dengan wanita lain dan membawa anak dari hasil hubungan itu.

​"REY!" panggil Arka dengan nada tak ingin dibantah.

​"B-Baik Ar! Gue ke markas Gama saat ini juga!" sahut Rey panik.

​Kedua bocil itu langsung menangis kejer saat tubuh mereka diangkut paksa, padahal tangan mungil mereka baru saja ingin menggapai dan memeluk Jihan. Setelah pintu ruangan tertutup dan keheningan kembali merayap, Arka mendekati ranjang, menatap Jihan dengan raut penyesalan yang teramat dalam.

​"Sayang... makhluk mungil itu bukan anakku," bisik Arka lembut, menggenggam jemari Jihan yang terasa dingin.

​Jihan menunduk, mencoba mencerna segalanya. Arka menghela napas panjang, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan nanar sebelum akhirnya membuka rahasia kelam yang selama ini membakar batunya.

...

​"Tiara yang membuatku sakit, Jihan," aku Arka dengan suara serak. "Dia bersikap sok baik, berpura-pura membantuku dalam masa pemulihan, dan memberikan ide agar aku melepasmu supaya kamu tidak menderita di dekat pria sakit-sakitan sepertiku. Dan dengan bodohnya... aku menuruti ucapannya hingga kita berakhir berpisah."

​Arka mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Aku baru sadar ternyata wanita itu sengaja membuatku sakit. Dia memasukkan racun ke dalam kopi buatannya di kantor secara perlahan, dalam dosis kecil tapi pasti. Gejalanya sengaja dibuat mirip dengan kanker stadium akhir, dan dia bekerja sama dengan dokter pribadi yang dibawanya hingga akhirnya permainan kotor itu terbongkar."

​Matanya memerah menahan amarah dan kepedihan yang teramat sangat. "Selama kamu koma karena kecelakaan, aku langsung terbang ke luar negeri untuk berjuang mati-matian dalam masa pengobatan. Begitu mendapat kabar kalau kamu koma... aku berjuang di antara hidup dan mati dengan luka di hati yang rasanya tidak akan pernah sembuh jika aku benar-benar kehilanganmu."

​"Rencana Tiara setelah kita pisah dan aku sembuh, dia berjanji akan membantuku kembali padamu. Tapi nyatanya itu semua omong kosong! Dia cuma ingin mengendalikanku... merebutku darimu, dan memisahkan kita untuk selamanya. Aku sangat membencinya, Jihan."

...

​Di sudut lain yang berbau lembap dan minim cahaya, kegelapan merayapi sebuah ruang bawah tanah yang dingin. Sosok wanita dengan pakaian kusut terikat tak berdaya di atas kursi.

​"Setelah membuatku sakit dan menabrak Jihan... bisa-bisanya dia masih menikmati hidupnya dengan cara seperti itu," gumam Arka dingin, menatap wanita di hadapannya tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun.

​"Bawa dia ke ruang bawah tanah," perintah Arka tegas pada anak buahnya.

​"Aku cinta sama kamu, Arka!" jerit Tiara histeris dari atas kursi, air matanya bercucuran memohon ampun.

​Arka menyunggingkan senyum miring yang mengerikan. "Jangan bodoh! Otak kerdilmu itu tidak bisa membedakan mana cinta dan mana pembunuhan!"

​"Aku punya obat penawarnya! Tapi kamu malah pergi dan buat aku jadi tersangka!" teriak Tiara tak mau kalah, napasnya memburu frustrasi.

​"Tutup mulut kotormu, Tiara!" potong Arka dengan bentakan menggelegar. "Kamu juga berusaha membunuh istriku, sialan!"

​"Dia bukan istrimu lagi!" raung Tiara gila. "Aku berniat membunuhnya karena kamu! Coba saja kalau kamu nurut sama rencanaku, pasti semuanya akan baik-baik saja!"

​"Tidak dengan diriku dan Jihan!" napas Arka memburu, matanya memancarkan kejamnya masa lalu. "Kami saling mencintai, tapi kamu merusaknya! Wanita biadab kurang ajar! Dengan baik hati aku menolongmu waktu itu... coba saja kalau tidak, kamu sudah jadi gelandangan di tempat kumuh itu!"

​Tiara tergugu, menangis sesenggukan saat memori masa-masa susahnya diputar kembali. Ia melirik ke arah pintu, di mana Jihan berdiri memandangnya dengan raut wajah campur aduk.

​"Jihan... kamu memaklumi kelakuanku, kan?" isak Tiara memohon iba. "Kita sama-sama perempuan yang mencintai pria yang sama... kamu mau bantu aku buat bilang sama Arka kalau aku-"

​"Bawa dia kembali ke penjara. Sekarang!" potong Arka dingin, menyela sebelum sepatah kata pun keluar dari bibir Tiara.

​Tiara membeku. "P-Penjara?"

​Jihan yang berdiri tak jauh dari sana pun ikut mengernyit bingung. "Maksud Mas...?"









©rooseverin, September/2026

ARKA: Dark SideStories to obsess over. Discover now