Selamat membaca!!
Rania memandang lama sosok pria paruh baya di depan sana dengan penuh kebencian. Amarahnya tiba-bia memuncak saat kejadian 14 Tahun silam kembali berputar di benak gadis tersebut.
Brak! Prang!
Keributan terjadi di kediaman Adrian Wijaya Denhaag. Setelah kedatangan seorang wanita hamil ke rumahnya dan meminta pertanggungjawaban atas anak yang ia kandung.
"Dasar laki-laki brengsek!" umpat Yohana menatap pria di hadapannya dengan tatapan kecewa penuh luka. Yang tak bisa lagi ia jelaskan dengan kata-kata.
"Kau meniduri wanita lain, disaat aku sedang mengandung anakmu, sialan!" amuknya tersulut emosi.
"Dan, kamu ... dasar wanita penggoda! perusak rumah tangga orang, bisa-bisanya, kamu tidur dengan suami saya dan mengandung anak darinya!" tuding Yohana menunjukkan jarinya pada wanita itu.
"Ini memang salah, tapi mau bagaimana lagi? ini sudah terjadi dan kami saling mencintai!" jawab Adrian tak mau kalah.
Rania tertawa hambar saat lagi dan lagi harus mengingat kalimat terakhir Adrian.
Kejadian dan perkataan sang Ayah. Rania saksikan di depan matanya sendiri. Gadis berumur 6 tahun itu menangis sejadi yang ia bisa. Memanggil Ayahnya yang perlahan beranjak meninggalkan ia dan Yohana demi wanita lain.
Menyakitkan.
Pengkhianatan yang Ayahnya lakukan dengan wanita lain tak pernah bisa Rania maafkan.
Bahkan sampai pada detik ini, ia enggan melupakan peristiwa hari itu. Rania sudah terlanjur sakit dengan kenyataan bahwa, keluarganya hancur di tangan wanita simpanan sang Ayah.
"Ayah, Pengkhianatanmu terasa menyakitkan, tapi pembalasan ini, akan jauh lebih menyakitkan!" ujar Rania kemudian beranjak meninggalkan area taman tempatnya berdiri.
Rania masuk kedalam mobil dan melesat dengan kecepatan rendah. Perlahan membelah jalanan yang di beberapa sisi ditumbuhi pepohonan pinus. Membawanya kembali memasuki area perumahan yang ia tempati. Rania rasa sudah cukup untuk hari ini. Barulah besok dia akan mengunjungi makam sang Kakek.
Setibanya Rania memarkirian mobil dan masuk kedalam rumah. Langkah pelan gadis itu mengarah pada kamarnya yang terletak di lantai dua. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang terdapat di dalam sana guna membersihkan tubuhnya.
Setelah dua puluh menit berlalu. Ia kembali dengan keadaan segar dan rambut setengah basah. Di tangannya terdapat sebuah handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambut. Hingga deringan ponsel dari arah nakas samping tempat tidur memgejutkan Rania.
"Halo ...."
"Halo, Nak." Baru saja Rania hendak menyapa, namun suara seseorang telah lebih dulu menyela kalimatnya. Menyadari hal itu, Rania menggeleng lucu. Sungguh tidak sabaran. Pikir gadis berumur 20 Tahun itu
"Ya, halo, Mah," sahut Rania, setelah lama terdiam akibat sapaan bertubi-tubi itu.
"Kamu apa kabar? Baik-baik saja, 'kan?" Lagi, suara dari sosok wanita itu kembali terdengar.
" Iya, Nia baik-baik aja. Kenapa? Mama ada masalah?" tanya Rania, saat mendengar nada khawatir dari ucapan sang Ibu.
"Tidak, Mama hanya mau ngingetin, kamu, jangan lupa ziarah ke makam, Opah yah, Nak."
"Iya, besok rencananya, Rania mau ke sana," balas gadis itu sembari melangkah, beralih pada lemari pakaian yang terdapat di sudut kamar.
"Hmm, ya, sudah kamu hati-hati di sana. Mama sayang sama kamu."
YOU ARE READING
SHE'S DEVIL || ENDING
ActionRania dan dendamnya. "Dendam ini abadi bahkan untuk di kehidupan selanjutnya dan di dimensi manapun. Namun, Ayah. Mari berakhir dengan cara yang sama dalam kisah apapun, mari menjadi dua jiwa yang saling terikat ... agar alurnya tak berubah!"
