"ITU BELALAI GAJAHNYA ADA DUA!!!!" teriaknya heboh sambil menunjuk ke bawah perut gajah.
Navarro yang terkejut langsung menoleh dan membekap mulut dan sewajah-wajah Gretha dengan tangannya. Sumpah dia akan membuang gadis ini di jalanan setelah ini.
Laki-laki itu membawa Gretha menjauh dari kandang gajah setelah sebelumnya mengisyaratkan permintaan maaf pada para pengunjung yang terusik oleh suara indah Gretha.
"Mmphh!! Ah! Tangan lo asin! Kenapa sih?" protes Gretha setelah menghempaskan tangan Varro.
"Kenapa sih kenapa sih. Lo teriak-teriak gitu kenapa, hah. Diliatin orang, bego." kesal Varro seraya menoyor kepala Gretha pelan.
"Eh? Gue teriak ya?" tanyanya polos.
"Hehehee.. Maaf yaa, reflek!" lanjutnya cengengesan sambil kedua tangannya berpose 'peace'.
"Teriak lagi gue tinggal." ucapnya mengancam lalu berjalan pergi.
Gretha yang melihat itu langsung menyusul Varro dan berjalan mengimbanginya.
"Itu tadi belalainya gajah ada dua loh!" ucap Gretha masih heboh.
Navarro menoleh menatap gadis itu, lalu terkekeh sedetik kemudian.
"Itu bukan belalai, Sya. Itu alat kelamin gajahnya. Bego banget sih." jelas Varro terkekeh heran seraya mengacak-acak rambut Gretha.
Deg!
SYA?!
Gadis itu membeku dan nge-lag. Apakah laki-laki itu baru saja memanggilnya dengan sebutan spesial? Tidak pernah ada orang yang memanggilnya seperti itu sebelumnya.
Varro yang menyadari pandangan kosong gadis di sampingnya itu pun langsung melambaikan tangan keheranan.
"Hey?"
Gretha tersadar dari lamunannya itu dan menatap Varro dengan tatapan bertanya-tanya.
"Lo manggil gue apa tadi?"
"Manggil? Manggil 'sya' maksud lo?" tanya Varro bingung.
"Iya. Kenapa manggil gitu?"
"Reflek si. Ga boleh ya?"
Entah kenapa Gretha langsung gelagapan dan merasa tidak enak ditatap Varro seperti itu.
"Hah? Bo-boleh kok!" jawabnya cepat sambil tersenyum kikuk.
"Udah yuk cari makan aja! Gue laper." sambungnya tak mau lama-lama menghadapi situasi canggung.
××
Keduanya berjalan menuju taman indah yang berada dalam kebun binatang sambil menenteng beberapa makanan dan minuman yang habis di beli dari Kantin Loka Zoo.
"Itu ada kursi kosong!" seru Gretha.
Mereka berdua kemudian duduk di kursi kosong tersebut dan mulai menyantap makanan masing-masing.
"Huh! Kenyangg!" celetuk Gretha setelah menghabiskan makanannya.
Gadis itu kemudian menoleh ke arah Varro yang sedang menyalakan rokok dan menyesapnya.
Sudah biasa, pikirnya. Semua teman laki-laki di sirkelnya memang mengonsumsi rokok. Termasuk Navarro.
Gretha lalu mengalihkan pandangannya pada ponselnya sembari memuncungkan mulutnya ke atas agar hidungnya tidak menghirup asap rokok. Membaca semua notifikasi dari teman-temannya yang kebingungan mencari nya.
Oh iya, gue lupa ngabarin mereka, pikirnya.
Varro memandangi Gretha dengan keheranan. Ada ya orang yang menutupi asap rokok dengan cara seperti itu?
Tangan laki-laki itu bergerak mengapit hidung pesek Gretha, bermaksud menggantikan mulut gadis itu yang sedari tadi muncung-muncung ke atas.
"Maaf, gue ngga tau lo ga suka asap rokok." ucapnya cepat sembari menyesap rokok yang terakhir kali lalu membuang putungnya ke dalam bungkus makanan tadi.
Gretha langsung menghempaskan tangan Varro yang menutupi pernafasannya dengan kesal.
"Gak bisa nafas, bego!" gerutunya.
Varro terkekeh lalu mengacak-acak kecil surai gadis itu.
"Mau lanjut liat-liat ga? Udah sore nih." tanya Varro. Pasalnya gadis itu ada les setelah ini. Ia tidak mau membuat gadis itu menjadi nakal dua kali hari ini.
"Emm.. Pengennya sih lanjutt! Tapi gue les." ucapnya sedib seraya melengkungkan mulutnya ke bawah menatap Varro.
Gemas, pikir laki-laki itu.
"Yaudah, pulang aja. Kapan-kapan kita kesini lagi. Kita ambil tas sama motor di sekolah dulu ya? Gue anter lesnya." ucap Varro dengan senyum manisnya yang khas. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
"Makasi, Al."
×
×
×
×
nextt
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐑𝐄-𝐑𝐄𝐀𝐃'
Teen Fiction[𝑹𝒆-𝒓𝒆𝒂𝒅] ❝Aku bingung, aku takut kamu pergi lagi.❞ ❝Itu cerita dulu, sekarang aku ngga akan janji-janji, tapi lebih ke bukti. Habis lepas dari kamu dulu, aku juga ada lagi. Tapi nyari kamu di orang lain itu ngga mungkin.❞ ❝Kenapa dulu pergi?❞...
PROLOG 1
Mulai dari awal
