"Mommy ingin kamu menikah dengan Mita!"
Laki-laki yang usianya sudah hampir tiga puluh tahun itu menatap tajam wanita yang masih tampak muda. Ia menoleh ke sebelah wanita itu yang terdapat seorang gadis remaja yang baru lulus sekolah menengah atas.
"Saya akan menikah dengan gadis pilihan Nenek," finalnya dan bangkit dari duduknya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Melirik sebentar dan berkata dingin, "Anda tidak berhak mengatur hidup saya." Setelah itu, ia berjalan dengan gagah keluar dari mansion milik Daddynya.
Ponselnya bergetar pelan ketika ia ingin masuk ke dalam mobil Maserati Granturismo berwarna hitam. Laki-laki tersebut mengangkat telponnya dan berujar lembut. "Iya, Nenek?"
"Arka, ke rumah Nenek sekarang, ya!"
"Oke, Nek, on the way." Ia pun kembali menaruh ponselnya kala telponnya sudah di matikan oleh sang Nenek. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Kemudian menjalankannya menuju rumah sang Nenek.
Dia adalah Graciano Arkana Qaid. Seorang laki-laki blasteran Belanda Padang. Usianya sudah menginjak 29 Tahun. Bulan Oktober nanti ia akan naik menjadi 30 Tahun.
Tatapannya selalu tajam dan dingin. Hanya melembut jika kepada Neneknya saja. Wajahnya memiliki paras yang akan membuat siapapun tidak berkedip dan ingin menatapnya terus menerus.
Bola mata berwarna abu-abu mengikuti sang Daddy dan bibirnya yang agak tebal dan merah muda seperti mendiang Mommynya.
Jarang ada yang tau dia memiliki lesung pipi, karena dia jarang tersenyum dan selalu memasang raut wajah datar.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk tiba di rumah sederhana sang Nenek. Padahal Neneknya jauh lebih kaya dari Daddynya tapi Neneknya tidak ingin tinggal di tempat yang terlalu besar dan mewah. Katanya dia sudah tua dan akan lelah berjalan jika punya rumah yang besar.
Memberhentikan mobilnya di garasi. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan cukup cepat ke dalam rumah sang Nenek.
Ketika ia masuk ke dalam rumah, pemandangan hangat menyapanya. Ia melihat sang Nenek sedang mengobrol ria dengan seorang gadis cantik yang masih memakai pakaian kantornya.
Perlahan Arkana tersenyum tipis melihat sang Nenek begitu senang mengobrol dengan gadis yang tampaknya akan menjadi istrinya. Kata sang Nenek, hari ini gadis pilihan Neneknya akan datang.
"Nenek asik banget ya, sampai tidak sadar aku dateng," ujarnya dengan nada sedikit sendu.
"Ya ampun, Arka sayang. Maafin Nenek, ya!" Sang Nenek bangkit dari duduknya dan memeluk cucu kesayangannya. Gadis yang mengobrol dengan Nenek ikut berdiri.
Arkana dan gadis itu saling tatap ketika Nenek nya melepas pelukan. Keduanya saling terpaku. Sang Nenek pun perlahan melangkah mundur dan berbalik, kemudian berjalan menuju dapur sambil tersenyum penuh arti. Meninggalkan kedua lawan jenis yang sama-sama saling tatap tetapi tetap diam.
Gadis itu pun langsung mengalihkan tatapannya kemudian kembali duduk. Arkana juga sama. Ia pun duduk berhadapan dengan gadis itu. "Kamu cukup hebat bisa membuat Nenek saya begitu menyukai kamu," ucapnya. Membuka pembicaraan.
Senyum tipis terbit di bibir mungil agak tebal gadis di hadapannya ini. Bola matanya berwarna cokelat kehitaman itu menatap hangat Arkana. "Aku tidak sehebat itu, Nenek menyukaiku karena bisnis kita saling menguntungkan dan aku tidak pernah merugikan Nenek," balasnya dengan tenang. Tidak terintimidasi oleh tatapan tajam Arkana.
"Kau yakin?" Arkana tersenyum miring. Sedikit tertarik dengan calon istrinya ini.
"Iya. Ah, aku belum memperkenalkan diri, perkenalkan nama aku Sasya Azmah Baldey. Kamu bisa memanggil aku apa saja," ujarnya ramah.
"Saya Arkana," singkat nya. Keduanya saling terdiam. Tapi, tatapan mereka tidak terputus sama sekali. Kemudian, Arkana kembali bicara. Entah kenapa, ia jadi ingin bicara terus.
"Kamu sama sekali tidak masalah dengan perjodohan ini? Kita menikah bukan karena cinta, lho."
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu, cinta akan muncul dengan berjalannya waktu. Dan ... aku percaya dengan Nenek yang tidak mungkin membiarkan cucu kesayangannya menyakiti seorang gadis apalagi yang akan menjadi teman hidupnya," jawab Sasya begitu yakin, lembut dan tegas.
Arkana beranjak dari duduknya. Ia berjalan mendekati Sasya dan membungkukkan badannya agar sejajar dengan Sasya yang sedang mendongak, menatapnya.
Laki-laki itu memegang dagu Sasya dan mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Kalau begitu, kamu harus siap melakukan hubungan ... suami istri pada umumnya," bisiknya dengan suara sedikit serak.
Sasya perlahan tersenyum kembali. Ia berujar tenang dan lembut. "Tentu saja." Mendengar jawaban Sasya dan menatap kedua mata Sasya yang begitu tenang mampu membuat detak jantung nya berdetak tak karuan.
Arkana menjauhkan wajahnya dari Sasya. Ia berdehem pelan. "Dan satu hal lagi, saya sangat membenci perselingkuhan, jadi ... jika kamu selingkuh kita akan langsung bercerai."
"Iya, aku juga tidak menyukai perselingkuhan," ujar Sasya. Ia mengernyit heran kala Arkana mengulurkan tangannya.
"Walaupun hubungan kita nanti tidak di landasi cinta, saya harap, kita tetap saling menghargai," ujar Arkana lagi. Sasya mengangguk dan berdiri. Kemudian ia membalas jabatan tangan Arkana. Mereka berdua menerima perjodohan itu dengan lapang dada.
Arkana yang begitu percaya dengan pilihan sang Nenek dan Sasya yang juga percaya dengan cucu kesayangan sang Nenek, membuat mereka sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan ini.
•
•
•
•
•
•
Next Chapter
"Kamu sudah siap menyerahkan kesucianmu itu kepadaku?"
"Jika aku sudah menikah, tentu saja aku sudah siap."
"Jadi ... ini pertama kalinya untukmu?"
"I-iya."
"Ini juga pertama kalinya untukku."
••••••••••••••••••••••••
Note : Konfliknya mungkin gak begitu berat..
Aku mau lebih banyakin perkembangan cinta mereka aja.
Kalo suka jangan lupa di vote yaa😉
YOU ARE READING
MAFIA & CEO (END)
RomanceSeorang Laki-laki bernama Graciano Arkana Qaid yang merupakan Bos Mafia dijodohkan oleh Neneknya dengan seorang gadis CEO bernama Sasya Azmah Baldey. Karena Arkana cucu yang sangat sayang dan nurut dengan sang Nenek. Ia pun setuju untuk menikah den...
