Menatap monitor laptop dengan tatapan kosong sembari mendengarkan lagu yang "antah berantah" membuat Letta jenuh. Lirik serta melodi lagu tersebut berputar-putar di kepalanya tanpa ada respon yang jelas dari sang pendengarnya. Lagu antah berantah itu merupakan lagu dari salah satu grup band yang mungkin tidak banyak orang kenal, apalagi bagi orang Indonesia. Ia menemukan lagu itu secara tidak sengaja di laman aplikasi pemutar musik miliknya saat tengah mendengarkan suatu playlist. Letta menikmati alunan lagu itu sembari... diam saja. Memang aneh tapi nyata adanya.
Di hadapan Letta hanya ada aplikasi Word yang terbuka dengan blank paper. Bersih, betul-betul bersih tiada sepatah kata apapun di kanvas tersebut. Ia sama sekali tidak memiliki semangat untuk menggerakkan tangannya supaya bisa mengetik sepatah dua patah kata. Apapun itu. Tingkah lakunya seolah terbelenggu dalam sebuah kungkungan sehingga ia tidak bisa bergerak sama sekali.
Matanya lelah dan terasa kian berat karena terlalu lama menatap monitor. Essay sejarah untuk ujian tengah semester anak ini memang baru saja rampung dan ia cukup bangga dengan apa yang ia tulis. Letta cukup mencurahkan isi hatinya untuk mata pelajaran yang ia sukai itu. Akan tetapi, apakah hubungannya dengan seorang insan yang ia sukai telah rampung pula?
Ia mendapatkan vision. Bukan vision, sih. Tiba-tiba, ia merasakan ada sesuatu yang janggal dengan kepalanya. Seolah-olah ada gambar yang bergerak dalam pikirannya. Alangkah lebih tepat bila disebut sebagai kenangan lampau. Bayang-bayang akan wajah anak lelaki yang seumur dengannya saat ia masih kecil muncul dengan jelas dalam benaknya. Wajahnya yang tegas dengan alis tebal menambah kesan garang untuk anak seusia mereka-anak berumur enam tahun.
Semilir angin menerbangkan helaian rambut kecoklatannya yang ia biarkan terurai bebas. Juga, sama halnya dengan gaun musim panas putih tulang yang ia kenakan melambai-lambai seiring gerakan tubuhnya. Gaun tersebut membuat Letta tampak anggun nan manis.
Tepi daun-daun dandelion berwarna kuning keemasan di padang itu menggelitik kaki mungilnya saat menyentuh kulitnya yang halus. Suasana terasa begitu menyenangkan di tengah padang yang dipenuhi dengan tepian daun-daun dandelion yang melambai-lambai kecil.
Harum blueberry yang lembut dari anak laki-lak yang selalu ada didekatnya itu merasuki hidungnya. Ia merasa seperti sedang kembali ke masa itu. Ia melihat warna-warni yang indah di sekelilingnya, bunga dandelion yang hijau kekuningan, serta mata hitam kelam yang dipunyai oleh lelaki itu. Semua indera Letta terpenuhi dengan keindahan di sekelilingnya. Begitu hangat rasanya. Semuanya itu membuat hati Letta bahagia. Semua itu membuat ia tersenyum. Senyuman yang mencerminkan keceriaan dan kebahagiaan yang meluap dari hatinya.
Begitu pula dengan Letta di masa kecil. Ia menyunggingkan senyuman semanis gula-gula hingga nampak sederet gigi susu yang berjejer rapi. Tanpa sadar, bahu gadis kecil itu ditepuk dengan lembut oleh seorang anak lelaki dibelakangnya. Guncangan kecil itu menyadarkan Letta akan kehadirannya
"Ocus!!
Hooray sekarang giliran Letta yang jadi kucing!", seru Letta dengan penuh semangat, suaranya riang melengkapi suasana ceria di padang dandelion itu.
"Kalo sampai aku gak ketangkep kamu berhenti manggil pake nama itu", anak lelaki itu mengajukan permintaannya sembari tersenyum.
"Tapi nama Ocus itu bagus tau!" Ketidakterimaan Letta kemudian cepat merubah mimik mukanya menjadi sedih. Ia menyangkal segala prasangka anak lelaki itu mengenai kesan dari nama panggilan Ocus. Letta menyanggah dengan nada kecewa. Ia merasa anak lelaki itu tidak menghargai keunikan nama tersebut.
"Ocus gak keren, Letta.", kata anak lelaki tersebut dengan singkat, menyatakan pendapatnya dengan tegas.
Namun, Letta tidak mudah menyerah. Ia ingin anak lelaki itu mengerti betapa pentingnya panggilan "Ocus" baginya. Ia merasa bahwa nama tersebut mempunyai makna dan keistimewaan sendiri. Letta dengan penuh semangat mengungkapkan pemikirannya, berusaha meyakinkan anak lelaki.
"Ocus, Ocus, Ocus. Kenapa sih kamu enggak mau dipanggil Ocus? Padahal ini bagus tau! Ocus kan sahabatku. Ocus baik, suka main sama Letta. Kamu juga suka main sama boneka teddy Letta, kan? Teddy bear juga namanya Ocis. Letta kasih nama Ocis kita bisa main bareng-bareng. Biar Letta kalo bobo masih ada temen. O to the cus. Cus cus Ocus. Tuh kan keren! Ocus harus bangga tau aku kasih nama Ocus. Habisnya Ocus keren! Namanya beda dari yang lain. Nggak ada tuh temen Letta yang punya nama Ocus juga. Ocus cuma satu! Udah ah kita main lagi aja, yuk?" Letta mengajak anak lelaki tersebut sambil bersemangat, berharap suaranya bisa meyakinkan hatinya.
Anak lelaki itu menatap parasnya dengan teliti seiring Letta berbicara. Pipinya yang gembul nampak jauh lebih menggemaskan saat mengoceh. Kembang kempis berirama. Pipinya berkedut dan mengembang dengan irama yang sejajar, menunjukkan antusiasme dan rasa kagumnya pada Letta.
"Kok Ocus malah diem? Ocus marah ya? Maafin Letta ya," kata Letta dengan sedih, mengira Ocus marah karena terdiam.
"Ocus gak marah. Ayo kita main lagi!" ucap anak lelaki tersebut dengan antusias.
"Yeayy ayo! Dimulai dari... sekarang!"
Letta berseru dengan riang gembira. Mereka berdua kembali melanjutkan permainan mereka di padang dandelion yang indah itu.
Sepasang anak kecil itu berlari kesana-kemari-masih di seputaran padang dandelion itu. Mereka tertawa riang dan menikmati momen kebersamaan mereka Mereka melompat-lompat di tengah padang dandelion yang berwarna kuning keemasan, seolah-olah sedang menari di antara keindahan alam yang mempesona. Letta merasakan sensasi lebatnya rumput dan kelopak bunga yang menyentuh kulitnya, mengingatkannya akan kehangatan dan kebahagiaan masa kecilnya.
Sambil berlarian, mereka saling mengejar dan bersembunyi di balik rumpun dandelion yang tumbuh lebat. Letta tertawa riang ketika Ocus mencoba menangkapnya, tetapi ia berhasil meloloskan diri dengan lincah. Mereka berdua bermain seperti tidak ada hari esok, tanpa beban dan khawatir. Setiap momen yang mereka habiskan bersama penuh dengan kegembiraan dan keceriaan.
Letta berhenti sejenak, terengah-engah di tengah padang dandelion yang bersemak-semak. Ia melihat anak lelaki itu berdiri di hadapannya dengan senyuman yang hangat. Nafas mereka berdua terengah-engah, tubuh mereka penuh dengan keringat karena berlarian dan bermain di tengah padang yang luas. Letta merasakan getaran kebahagiaan dan kehangatan yang memenuhi hatinya, seakan-akan dunia di sekitarnya berhenti sejenak.
"Kamu cepat sekali, Letta!" kata anak lelaki itu dengan tersenyum lebar, matanya berbinar penuh kegembiraan.
Letta menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman dan kebahagiaan. "Aku berusaha keras untuk mengejarmu, Ocus," kata Letta dengan napas terengah-engah. "Kamu sangat cepat!"
Melihat adanya peluang anak lelaki itu akan lengah ketika mereka beristirahat sejenak, Letta dengan sekuat tenaga berusaha untuk mengejar ia demi bisa menepuk bahunya. Ketika Letta mengulurkan tangannya ke depan untuk meraih anak lelaki itu...
BRAK.
🦕🦕🦕🦕🦕🦕🦕🦕🦕
Catatan penulis: gue gabisa nulis cerita fiksi panjang-panjang ini aja udah kelimpungan jadi mohon dimaklumi yeahh. Maafkan typingnya macam typing bocah. Kuehmari bakalan terus belajar nulis mumpung lagi libur coolyeah. Support terus jangan lupa follow yeah syank🫶🏻
YOU ARE READING
Parrot Project
Teen FictionDari luar, Aletta hanyalah murid SMA "biasa" yang liat biasa. Ia dikenal akan kepintaran dalam bidang akademik dan non-akademik. Sampai suatu hari, titel "biasa" yang Aletta sandang seketika sirna sebab ia dipilih untuk mewakilkan sekolahnya dalam a...
