“Assalamualaikum, Neng Azilla.” Suara Tanisha dari balik pintu kamar kali ini begitu menyesakkan pernapasanku.
Sejenak, aku menjeda seluruh kegiatan sebelum benar-benar menutup kitab kuning yang tengah kukaji untuk persiapan mengisi kelas nanti sore.
Langkahku kuayunkan perlahan menuju pintu sembari menjawab salamnya, “Waalaikum salam.”
“Gus Fawwaz sudah datang, Neng.” Begitu kabar yang kuterima saat pintu terbuka. “Sekarang sedang menunggu Neng Azilla di ruang tamu bersama Gus Nabhan.”
Aku menyunggingkan senyum kecil pada Tanisha–khadimah sekaligus teman terbaikku. “Saya bersiap dulu sebentar, setelah itu menyusul.”
Tanisha membalas senyumku, kemudian mengangguk dan berlalu.
Pintu kembali kututup bersamaan dengan gemuruh jantungku yang kian tak terkontrol. Aku menatap pantulan wajahku di cermin rias. Berkali-kali menghirup napas panjang lalu membuangnya dengan kasar. Terakhir, segera merapikan kerudung hitam yang sedang kukenakan untuk kemudian menuju ruang tamu. Aku tidak ingin Gus Fawwaz menunggu terlalu lama. Karena kalau begitu, Kak Nabhan pasti akan memarahiku.
Saat hampir sampai ruang tamu, kulihat dua khadimah abah dan umi sedang mengintip ke arah tamu dengan berbisik-bisik kecil. Aku tersenyum lalu menepuk lembut bahu Aya dan Lika yang sebelumnya tak menyadari keberadaanku. “Jangan dilihatin terus .... Itu punya saya, loh,” bisikku bercanda di telinga keduanya.
“Oh, Neng Azilla! Gus Fawwaz ganteng banget, Neng!” Aya Segera bersorak mengetahui keberadaanku. Sedang Lika hanya diam dan tersenyum malu.
Aku menggeleng kepala perlahan melihat ulahnya. Dari dulu, keduanya memang tidak bisa menahan diri dari pria tampan. Sebelum Gus Fawwaz, mereka juga sering begini pada Kak Nabhan. Namun, setelah Kak Nabhan–kakak ke duaku–menikah tiga tahun lalu, mereka segera berhenti menggemari ketampanannya dan sekarang beralih pada Gus Fawwaz.
“Kalian ngapain berdiri aja di sini? Bel sekolah formal, kan sudah bunyi dari lima menit lalu,” ingatku pada mereka yang masih duduk di bangku SMA, kelas akhir.
“Itu, Neng. Habis buatin kopi untuk Gus Nabhan sama Gus Fawwaz. Terus tiba-tiba aja mata kita kesangkut. Jadi masih macet di sini,” celoteh Aya lagi dengan kekehan pelan.
“Hus, Aya!” Lika di sebelahnya segera mencubit lengan Aya. “Sudah, ya, Neng. Kami permisi dulu.”
Aku mengangguk dengan senyum tulus menatap kepergian Aya dan Lika. Hingga punggung keduanya tidak tampak, barulah aku menginjakkan kaki di ruang tamu dengan secarik salam untuk Kak Nabhan dan Gus Fawwaz yang serentak menjawab salamku.
Kemudian Kak Nabhan mengisyaratkan dengan tangannya agar aku duduk di sebelahnya. Aku hanya menurut.
“Lama sekali, Azilla?” Pertanyaan dari Kak Nabhan sontak membuatku membulatkan mata, menatapnya yang tengah fokus pada ponselnya.
Padahal kali ini, aku sudah buru-buru. Tapi Kak Nabhan selalu saja berkomentar begitu. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mulai memberi penjelasan. “Tadi masih ngobrol sebentar dengan Aya dan Lika. Maaf, Gus, sudah menunggu lama.”
Manik mataku menatap sekilas pada Gus Fawwaz yang duduk tepat di hadapanku. Dan pria itu juga tengah menatapku dengan senyum terbaik miliknya.
“Gapapa, Neng. Saya juga baru sampai.”
Tepat setelah Gus Fawwas mengatakan itu, ponsel Kak Nabhan berdering. “Kalian ngobrol aja dulu. Atikah telepon,” ujarnya sembari berlalu ke teras.
YOU ARE READING
Mencandai Rasa
Romance[FAST UPDATE] "Meski tak suka kopi, setidaknya kau harus pernah meminumnya walau barang sekali. Agar rasa kehidupan yang kau tahu tidak hanya berputar pada manis masamnya jus strawberry. Kau harus tahu, Zey. Bahwa di dunia ini juga ada banyak hal bu...
