Ketukan sepatu dengan irama yang tetap terdengar jelas di koridor yang sepi. Sepasang kaki jenjang terbalut kaus kaki dan sepatu hitam mengkilap melangkah bergantian seakan tengah saling mengejar untuk mencapai tujuan yang sama.
Tok... tok... tok...
Mengetuk pintu sebanyak tiga kali, lalu berjalan memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi oleh para remaja dengan pakaian yang sama. Menatap sekitar, memperhatikan wajah para remaja yang berada di hadapannya dan menatapnya dengan berbagai macam tatapan.
Seseorang itu berbincang singkat dengan wanita paruh baya berkacamata yang biasa disebut sebagai 'guru'. Ia menghela nafas, ia sangat membenci situasi seperti ini. Situasi dimana ia harus menjadi pusat perhatian karena hal yang tidak penting.
"Hai, gue Alea. Gue pindahan dari SMA Teladan, salam kenal."
Perkenalan singkat dengan senyum tipis yang tertutup oleh masker disambut dengan sapaan riang dari para remaja membuat hatinya sedikit menghangat. Sepertinya mereka semua menerima kehadirannya dengan baik, atau mungkin mencoba menerima dengan baik?
Alea, gadis itu melangkah menuju salah satu bangku yang terlihat kosong. Kelasnya ini, hanya terlihat beberapa murid saja. Meja panjang dengan dua kursi, menandakan sistem bangku berpasangan. Namun, tidak sedikit pula murid yang memilih untuk duduk sendirian.
Ruang kelas yang luas dan banyaknya bangku yang tersusun, berbanding terbalik dengan jumlah murid didalamnya. Jika dihitung, hanya ada sekitar sepuluh murid termasuk dirinya.
Mungkin sedang mempersiapkan sesuatu, itulah yang ada di benaknya. Mengingat jika saat ini mulai memasuki masa perlombaan antar sekolah yang diadakan setiap tahunnya.
Memilih untuk abai, ia mengeluarkan buku tulis dan mencatat poin yang disampaikan oleh gurunya. Sungguh, saat ini dia sangat malas mendengarkan materi dari sang guru. Jika mendengarkan juga, ia tak akan paham.
Alea tidak suka dengan hal yang berbau tentang ingatan. Ia adalah gadis yang pelupa, hal kecil maupun besar banyak yang ia lupakan. Oleh sebab itu, ia tidak suka dengan mata pelajaran kali ini.
Apakah kalian juga sama? Pelajaran ini sangat membosankan dan memusingkan, pelajaran Sejarah.
***
Alea telah sampai dirumahnya. Ia melempar tasnya ke atas meja dan membaringkan tubuhnya di kasur. Ia bukanlah tipe gadis yang akan mandi setelah pulang sekolah, berdiam diri di dalam kamar hingga dipanggil oleh sang ibu untuk turun makan malam.
Alea membuka ponselnya yang sedari tadi ia genggam. Setelah memeriksa beberapa pesan, Alea bangkit untuk berganti pakaian dan keluar dari kamarnya.
Alea mengikat rambutnya dengan rapi, lalu mengambil sapu dan mulai membersihkan rumah. Tidak lupa, Alea mencuci piring, memasak nasi, mengangkat pakaian yang dijemur, melipat pakaian, barulah ia membersihkan diri.
Saat jam menunjukkan pukul setengah enam sore, Alea memasak beberapa macam lauk dan menghangatkan makanan yang masih ada di meja.
Walau berasal dari keluarga terpandang, keluarga Alea selalu mengajarkan untuk menjadi sosok yang mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Apalagi Alea adalah anak perempuan, tentunya ia tidak diperbolehkan untuk bermanja ria layaknya gadis didalam novel.
Menjadi wanita haruslah bisa mandiri. Jika tidak, bagaimana kita akan mengurus suami kita nanti? Mempekerjakan seseorang untuk mengurus rumah bukanlah hal yang tepat. Hal itu akan membuat kita semakin bergantung dan tidak mandiri.
Selain itu, hidup bagaikan roda yang berputar. Ada kalanya kita berada di atas, namun ada kalanya kita berada di bawah. Kita tidak tahu bagaimana nasib kita kedepannya. Jadi, lebih baik kita bersiap.
Terbiasa menjadi manja dan bergelimang harta akan menyusahkan kita ketika berada dalam kemiskinan. Hidup tidak ada yang tahu.
Selesai dengan masakannya, Alea membereskan segala macam peralatan dapur yang telah ia gunakan. Alea duduk di salah satu kursi, lalu memulai kegiatan makannya. Tidak ada jadwal makan tetap di rumah ini. Semua boleh makan kapanpun, asalkan pola makan masih terjaga.
***
Alea kini tengah bersantai di kamarnya. Bermain ponsel dengan posisi ternyaman bagi semua orang, apalagi jika bukan rebahan. Memang bermain ponsel sambil berbaring tidak baik bagi kesehatan mata. Namun, Alea tetaplah Alea, si gadis keras kepala dengan sejuta pemikiran konyolnya.
Malam ini, Alea berniat untuk begadang sambil bertukar pesan dengan teman lamanya. Ia tidak khawatirbesok akan kesiangan, karena besok adalah hari sabtu, dimana seluruh siswa dan siswi di sekolahnya diliburkan.
Sekolah Alea saat ini, menerapkan sistem full day. Dimana jam sekolah akan berakhir pukul empat sore di hari senin sampai kamis, dan diliburkan pada hari sabtu dan minggu.
Tentunya Alea sangat senang. Waktu beristirahatnya di rumah menjadi lebih panjang. Alea bisa bersantai di hari sabtu, dimana anak sekolah lain masih sibuk belajar di sekolahnya masing-masing.
Kini, fokus Alea teralihkan pada seragam yang tergeletak di keranjang pakaian kotor. Seragam dengan logo khas sekolahnya, sekolah yang akan ia jadikan tempat menuntut ilmu selama 3 tahun. Alea tersenyum, sepertinya pilihan sekolahnya kali ini tidaklah buruk.
Sebelum pindah sekolah, Alea sempat kebingungan untuk memilih sekolah yang menurutnya pas. Teringat dengan seseorang, Alea langsung tahu kemana tujuannya. Dan Alea memilih untuk pindah ke SMK ternama di kotanya. Lagi-lagi Alea tersenyum saat mengingat sekolah nya saat ini, SMK Budi Utomo.
***
Haiii...
Gimana bab 1 nya? Pendek?
Cerita ini bakal panjang di bab ke2 dan seterusnya. Jadi jangan lupa untuk baca kisah Alea selanjutnya yaa.
YOU ARE READING
Diafor
Teen FictionDiafor artinya berbeda. Alea berbeda dengan Alina. Alea yang kaya dan Alina yang berpura-pura kaya. Alea yang pintar dan Alina yang sok pintar. Alea yang baik dan Alina yang licik. Alea yang halus dan Alina yang kasar. Dipertemukan dengan Alina buka...
