Username langit_favorit07:
"Sampai bertemu di Yogya."
Email terakhir dari username langit_favorit07 yang Liya baca dalam komputernya.
Liya Saputri atau sering disapa Liya, gadis remaja penyuka es krim. Berkelakuan sedikit tomboi, namun ia tetap anggun dengan rambut hitam panjang, hidung kecil, bibir tipis, bulu mata lentik, dan berlesung pipi. Ia putri semata wayang seorang tentara duda. Ibunya meninggal tiga tahun lalu akibat penyakit gagal ginjal. Kepergian ibunya menyimpan pilu mendalam bagi mereka berdua, terutama Liya.
Liya lebih dekat dengan ibunya daripada sang ayah. Kepergian sang ibu seketika memporak porandakan kewarasannya. Pikirannya yang labil sangat kacau di waktu itu. Tidak ada lagi sosok yang mendengar cerita anehnya, tidak ada lagi sosok yang memarahinya, tidak akan pernah ia dengar suara lembut dan senyum perempuan itu. Bahkan sempat terbesit dipikiran Liya untuk mengakhiri hidupnya.
Namun ia urung saat melihat sang ayah dengan tegar menegakkan wajah tanpa menitihkan air mata. Liya tahu hati lelaki baya itu lebih hancur darinya. Sesak di dada ayahnya bahkan melebihinya. Liya mencoba melapangkan dada sekuat lelaki baya itu.
Menginjak setahun kepergian sang ibu waktu itu, Liya sudah terbiasa tinggal berdua dengan bibi pembantu saat ayahnya pergi melaksanakan dinas negara. Karakternya pun berubah menjadi introver. Liya lebih sering berhadapan dengan komputernya dibanding teman-temannya. Kamar menjadi tempat wisata penyejuk hati yang ampuh. Bisa seharian ia berkutat dengan komputernya jika hari libur.
Berbalas pesan di grup chat adalah cemilannya setiap malam. Liya semakin ceria setiap mendapat email dari username langit_favorit07. Teman virtual yang dengan setia mendengar cerita senang dan keluh kesahnya dua tahun terakhir. Teman virtualnya sudah seperti ibu pengganti untuk Liya walaupun sosoknya tidak nyata.
Namun selama itu pula Liya tidak mengetahui nama bahkan gender teman virtualnya, pun sebaliknya. Mereka hanya saling mengetahui asal kota masing-masing atau hal-hal yang mereka sukai dan tidak disukai. Bukan karena tidak berani bertanya. Sedari awal Liya atau pun username langit_favorit07 membuat kesepakatan untuk merahasiakan identitas mereka sampai keduanya bertemu.
Walaupun begitu langit_favorit07 adalah orang kedua yang mampu membuat Liya nyaman setelah mendiang sang ibu. Bahkan ada ruang tersendiri di hati Liya untuk teman virtualnya itu meskipun mereka belum pernah bertemu.
Sebelum malam tahun baru Burhan, ayah Liya mendapat perintah pemindahan dinas tugasnya ke Yogyakarta. Liya bagai tersambar petir. Gembiranya melebihi orang gangguan jiwa. Ia seperti baru saja memenangkan hadiah lotre istimewa. Momen yang selalu ia harapkan sejak dulu. Pergi ke Yogya untuk bertemu langit_favorit07.
Di kota manapun Burhan bertugas, pasti tempat tinggal mereka juga harus pindah, begitu pula dengan sekolah Liya. Seperti sudah menjadi tradisi di keluarganya dengan sendirinya. Terhitung sudah empat kali mereka pindah tempat tinggal sejak Liya masih sekolah dasar.
Di luar, Burhan sibuk mengurus surat pindah sekolah putrinya, sementara itu Liya sibuk mengemasi barang-barangnya dan bibi pembantu juga sibuk mengemasi barang-barang milik Burhan di lemari kamarnya.
Sesekali Liya mendekati komputernya memberi kabar pada username langit_favorit07 soal kepindahannya.
Setelah semua barang bawaan dirasa cukup dan tertata rapih dalam koper dan beberapa tas, akhirnya mereka berangkat. Sebuah perjalanan yang Liya impikan sejak dulu, pergi ke Yogyakarta.
"Akhirnya kita sampai juga." pekik Burhan merenggangkan otot punggungnya usai menyetir berjam-jam.
Berbeda dengan Liya yang masih bugar. Setiap mereka harus pindah tempat tinggal biasanya ia yang paling sedih karena harus berpisah dengan teman-temannya. Liya sampai bosan harus beradaptasi lagi dan lagi. Namun kali ini berbeda. Liya sangat antusias memandang keluar jendela mobil, bahkan ia enggan tidur selama perjalanan.
Burhan mengernyitkan keningnya melihat Liya terlebih dahulu keluar dari mobil. Gadis itu sibuk mengeluarkan koper dan tas dari dalam mobil. Tidak seperti biasanya. Ada apa dengan putrinya?
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
"Selamat datang bapak dan non."
"Panggil Liya aja bi."
"Oh ya Liya, ini bi Sutari, pembantu baru di rumah baru kita. Dia sudah dua hari di sini bersih-bersih. Rumahnya juga kebetulan nggak jauh dari sini loh. Kalau kamu butuh sesuatu atau mau main kerumahnya juga boleh."
Liya mengiyakan dan membawa tas miliknya kedalam kamar dibantu bi Sutari. Bukannya segera merebahkan diri di kasur untuk beristirahat, Liya malah sibuk mengobrak-abrik isi tasnya. Mencari setelan pakaian yang cocok untuk pertemuannya dengan teman virtualnya itu. Rasa lelah seperti tidak ada dalam raganya. Liya sampai tidak sadar jika ayahnya sedang bersandar di bingkai pintu memperhatikannya.
Ia sibuk mengomel karena semua pakaian miliknya hanya kaos lengan pendek, kemeja, celana jeans pendek atau panjang, jaket dan topi.
"Kenapa baju aku begini semua? nggak ada dress sama sekali?"
Ehem,
Sesaat Liya terkejut, menolehkan kepalanya mendengar suara deham sang ayah.
"Sudah malam, cepet istirahat. Kita lanjutkan beres-beresnya besok Ya." Burhan berbalik akan menutup pintu kamar putrinya, namun lebih dulu ditahan oleh Liya.
"Ayah, ayah masih menyimpan baju ibu, kan?"
"Iya, memangnya kenapa? Ini sudah malam. Kita bahas besok sekaligus tempat sekolah kamu yang baru."
"Nggak, bukan. Em, ayah tolong pasangkan komputer ku dulu ya."
Burhan tertegun. Tingkah Liya benar-benar aneh seharian ini. Tidak biasanya Liya minta dipasangkan komputernya larut malam begini, apalagi mereka baru saja sampai dari perjalanan jauh. Liya juga tidak pernah mengacak pakaiannya atau mengomel tentang pakaian miliknya yang seperti koleksi pakaian anak laki-laki. Ia biasanya sudah tertidur pulas karena lelah.
"Ayolah ayah, ya." Rayu Liya memeluk manja lengan ayahnya.
Menepis rasa kantuk dan lelah, Burhan menurut saja. Memasangkan komputer sesuai keinginan putri semata wayangnya.
"Ingat, jangan bermain game sampai subuh atau ayah jual komputer mu!"
Liya hanya mengangguk dan berdeham berulang kali sambil mendorong ayahnya keluar kamar. Setelah itu mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Seperti mendapat mainan baru, Liya melompat kegirangan. Buru-buru ia duduk berhadapan dengan komputernya. Membuka situs chat. Membalas pesan username langit _favorit07 terakhir kali.
Username butterfly_27:
"Langit favoritku, kamu udah tidur?"
Username langit_favorit07:
"Belum. Aku lagi ngerjain PR."
Username butterfly_27:
"Aku sudah sampai Yogya."
Username langit_favorit07:
"Oh ya, serius?"
Username butterfly_27:
"Serius. Aku baru sampai. Aku nggak sabar pengen ketemu sama kamu."
Username langit_favorit07:
"Aku juga. Gimana kalau kita bertemu di jalan Malioboro besok siang? Kebetulan besok pulang lebih awal. Guru-guru pada rapat di jam kedua. Pasti habis itu dipulangkan."
Username butterfly_27:
"Oke. Tapi gimana caranya biar aku tahu itu kamu?"
Username langit_favorit07:
"Kadang-kadang aku bawa komik ke sekolah. Gimana kalau aku pegang komik sebagai penanda?"
Username butterfly_27:
"Ide yang bagus. Besok aku bawa bunga mawar sebagai penanda ya."
Username langit_favorit07:
"Siap. Akan aku cari kamu diantara semua orang yang ada di jalan Malioboro besok. Ingat loh, aku pakai baju seragam sekolah sambil pegang komik besok."
Username butterfly_27:
"Tenang, aku belum pikun."
Username langit_favorit07:
"Sampai bertemu besok. Selamat tidur."
**[]
Mohon dukungannya dan tinggalkan jejak❣️
ESTÁS LEYENDO
Jangan Jatuh Cinta Di Yogya
RomancePernah dengar cinta virtual? Atau ada yang sedang dalam fase menjalin cinta virtual? Liya Saputri, gadis piatu yang berjuang untuk bertemu seseorang yang ia kenal lewat grup chat, ber-username langit_favorit07. Namun, siapa sangka jika seseorang ya...
