Chapter 17

3.4K 400 787
                                    

*****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

*****

Waktu semakin cepat berlalu. Terhitung sudah seminggu Aji dan Gaby tak berkomunikasi layaknya seorang teman. Keduanya kini semakin berjarak.

Gaby yang merasa Aji berusaha menjauh darinya, tak ambil pusing. Ia pun tak berniat untuk bertanya atau menyapa Aji duluan. Malah, gadis itu ikut menjauh dan menjaga jarak meski awalnya ia merasa aneh. Sedang, hubungan Gaby dengan yang lain baik-baik saja.

“Pa! Ma! Gaby berangkat dulu, ya?” teriak Gaby berlari menuruni tangga.

Hari ini gadis itu akan melaksanakan ulangan harian, namun sialnya ia bangun kesiangan.

Gaby menghampiri Arka dan Fanya yang berada di dapur. Ia mencium tangan kedua orang tuanya dan berpamitan berangkat sekolah tanpa sarapan.

“Sarapan dulu,” titah Fanya namun Gaby menggeleng.

“Nggak usah, Ma. Nanti Gaby sarapan di sekolah aja,” sahutnya, terburu-buru.

“Babay! Muach!” lanjut gadis itu melambaikan tangan dan memberi kiss bye.

“Hati-hati!” ucap Arka dan Fanya.

Hari ini Gaby pergi ke sekolah dengan motor kesayangannya. Drum motor yang dikendarai Gaby berjalan dengan kecepatan sedang, melewati jalanan yang cukup macet, sambil menggerutu takut terlambat.

Setelah melewati kemacetan, Gaby pun menancap gas dengan kecepatan tinggi. Menyalip mobil dan motor yang berada di depannya. Hingga ia berhasil sampai di sekolah dengan tepat waktu. Pukul 06.45.

Gadis itu berlari menyusuri koridor yang ramai. Tak peduli dengan kondisi rambutnya yang terlihat sedikit berantakan dan celana panjang yang belum sempat ia ganti dengan rok.

Bruk!

“Akhirnya,” gumam Gaby ngos-ngosan, menaruh tas diatas meja miliknya.

Syaqira yang sejak 10 menit lalu berada di kelas, menggeleng melihat kondisi Gaby yang kacau. “Ck! Ck! Ck! Masih pagi udah keringetan,” celetuknya.

“Ke WC dulu gih, benerin seragam lo. Gua temenin,” lanjutnya mengajak Gaby untuk membenarkan penampilannya karena masih ada waktu.

Gaby mengangguk. Tak mungkin juga ia masuk kelas dengan kondisi seperti ini di hadapan guru.

Tak butuh waktu lama, Gaby cukup cepat mengganti rok dan merapikan rambutnya. Mereka pun buru-buru keluar dari WC karena waktu pelajaran sebentar lagi dimulai.

GABY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang