"Kota ini sudah terlalu kotor."
Kalimat itu sudah ribuan kali didengar oleh Guntur. Dari pelancong, dari penduduk lokal, juga terkadang dari mulut Guntur sendiri. Guntur tidak menyalahkan sedikitpun ungkapan kekesalan ibu muda yang duduk di sampingnya di halte bus. Pandangan Guntur juga sama tajamnya pada billboard yang masih teguh menyiarkan berita meski layarnya telah terdistorsi titisan hujan.
"Nanti kalau suamiku diterima kerja di Ibukota, aku akan meninggalkan kota ini," ucapnya lagi pada teman di sampingnya. Guntur hanya terus memandangi layar billboard sambil berpikir, 'bagus sekali keputusan ibu itu'.
Lagi dan lagi. Seakan tidak ada habisnya. Stasiun TV lokal selalu menyiarkan hal yang sama. 'Korban Begal Ditemukan Tewas di Bawah Kolong Jembatan', kira-kira begitulah judul berita yang membuat perut Guntur mual. Ia menggelengkan kepala. Tidak mau mendengar rincian kejahatan sang pelaku, dan memilih untuk mendoakan sang korban.
Tak berselang lama kemudian, semua lampu jalan telah menyala terang. Hujan juga mulai mereda, tak lagi deras mengguyur jalanan kota. Guntur beranjak dari posisinya, berdiri tegak sembari mengancingkan jaket hitamnya untuk menutupi seragam SMA-nya yang masih akan ia kenakan besok.
Ibu muda yang sejak tadi sibuk bercerita, kini mengalihkan atensinya pada Guntur. "Loh," ungkapnya, "tidak mau tunggu bus-nya dulu, Dek?"
Sambil berbalik, Guntur menggeleng. "Saya tadi cuma tunggu hujan reda, Bu," jawab Guntur. "Rumah saya lumayan dekat, bisa jalan kaki dari sini."
Jawaban Guntur tampaknya kurang mengenakkan. Sang ibu mengelus perutnya dan menampilkan wajah penuh kekhawatiran. "Yakin tidak apa-apa, Dek?" tanyanya sekali lagi. "Daerah sini rawan begal. Apalagi kalau sudah malam begini."
Guntur hanya terdiam. Ia tidak masalah dengan pendapat wanita itu. Malah ia senang ada yang mengkhawatirkan dirinya. Namun belum sempat ia memberi jawaban yang menenangkan, teman wanita itu sudah angkat bicara.
"Alah!" serunya, meminta sang teman untuk tidak khawatir berlebihan. "Itu mah dulu. Sekarang begal sudah mulai kapok beraksi di sini. Semenjak ada dia."
"Dia?" Guntur bertanya heran.
Orang yang ditanya hanya tersenyum tenang dan menjawab, "Gemuruh Merah."
Barulah saat itu Guntur mengerti. Ada dua berita panas di kotanya saat ini. Para begal yang semakin merajalela tak terkendali, dan Gemuruh Merah.
Tak ada yang tahu siapa sebenarnya Gemuruh Merah itu. Sedikit informasi tentangnya hanyalah, dia adalah orang yang bisa mengalahkan begal dan menyeret mereka ke kantor polisi.
Ia dijuluki Gemuruh Merah oleh penduduk kota karena dua hal. Ia hanya beraksi saat hujan deras, dan para begal yang telah tertangkap bersaksi bahwa ia bisa mengeluarkan petir semerah darah.
Di kota tempat Guntur tinggal, kawanan begal adalah kegelapan yang selalu mengirimkan teror. Dan Gemuruh Merah adalah seberkas cahaya yang menjadi harapan kecil bagi rakyat.
Setidaknya, itulah yang dipahami oleh penduduk kota.
"Iya, tapi kan tetap bahaya! Di saat seperti ini, kita harus ekstra hati-hati!"
"Ya si adek ini juga pasti tahu cara menjaga diri sendiri! Udah! Kamu pulang, Dek, sebelum kemalaman. Teman saya ini memang sensi karena lagi hamil."
Tanpa ingin mendengar perdebatan lebih jauh, Guntur membungkuk hormat pada kedua wanita itu. Ia pun melangkahkan kakinya dan beranjak meninggalkan halte bus tempatnya menunggu hujan berpaling.
Dari jauh, Guntur bisa mendengar wanita yang sedang hamil meneriakinya, "hati-hati, Dek!" Sebagai balasan, Guntur melambaikan tangannya di udara. Lalu ia kembali berjalan tanpa sekalipun menengok ke belakang.
YOU ARE READING
Gemuruh Merah
Science FictionBUKU "1" SERIAL *SEEKER* "Kota ini sudah terlalu kotor," kata Guntur. Selepas melanggar janjinya pada sang guru, Guntur terjurumus semakin jauh dalam masalah. Ia yang awalnya hanya berniat untuk memberi pelajaran pada para begal yang tak kenal kapok...
