"0123" - Aksaramocha
_
Marsha C. Baskara POV
23 tahun hidup dalam lika-liku, tak pernah terbesit hal-hal yang bisa menyayat hati melebihi masalah-masalah yang sudah terjadi. Menemani masa sulit adik lelaki saja sudah membuat saya benar-benar merasa lelah, ditambah mengurusi masalah saya sendiri. Saya lebih kewalahan ketika menyelesaikan masalah adik kandung saya. Tak ada yang bisa dilakukan saat ini, hanya saja saya sangat ingin melakukan apa yang ingin saya lakukan. Sebab, saya tak ingin hal yang sama terulang kembali dalam hidup saya. Saya mau hal yang sudah pernah terlewati suatu saat tidak akan kembali melewati saya, bagaikan angin topan yang hanya lewat sekilas tanpa kembali balik ke posisi yang sama.
Marsha Cathrine Baskara, nama saya. Tak banyak yang bisa saya deskripsi kan soal diri saya sendiri sebab saya tak bisa menilai sebaik apa saya. Dalam pandangan saya begini hanya saja berbeda dengan pandangan orang lain, saya tak bisa menyamakan pandangan orang dengan pandangan saya.
Saya rasa kehidupan tersulit sudah saya rasakan sejak tanggal 23 Oktober 1999 pagi hari, dimana Papa saya berkata bahwa ia memiliki anak perempuan dalam tanda kutip lagi. Sebenarnya Papa menginginkan anak lelaki, saya juga merasa aneh kenapa yang keluar malah seorang bayi berjenis kelamin perempuan.
Tak hanya itu, saya melewati hari-hari sulit yang begitu sulit. Dimana saya harus bisa melewati berbagai fase kehidupan. Fase-fase yang sangat membuat diri saya kewalahan atas diri saya sendiri.
"Jelek,"
"Dih, pacar siapa ini? Ayo pacar mu, kan?"
"Pfft, kenapa bisa saya sekelas dengan wanita yang sangat-sangat kurang dalam segala hal?"
Sejak mereka memandangi saya seperti tatapan penuh emosi, saya merasakan sakit luar biasa. Dimana saya mendapat rasa sakit yang terus membekas tanpa membersihkan sisa-sisa lukanya. Orang-orang memohon, "Ya Tuhan, tolong saya mendapatkan nilai tinggi dan mendapatkan juara 1 tahun ini,"
Saya merasa aneh.
Kenapa orang-orang meminta permohonan seperti ini? Padahal saya sangat ingin bertanya kepada yang maha kuasa, kenapa bisa saya diberikan kehidupan seperti ini? Sedangkan saya juga mau memohon untuk mendapatkan nilai baik, hanya saja saya tidak ingin egois memiliki banyak sekali keinginan. Hanya saja, pertanyaan saya adalah kenapa? Kenapa hanya saya yang harus jalani kehidupan ini?
Saya bertemu seorang lelaki yang membuat saya bisa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, saya merasa bangga bertemu dengannya. Menutupi rasa kesepian saya dalam hubungan percintaan selama ini, sejak memulai rasa cinta kepadanya saya menjadi lebih serakah. Saya ingin mendapatkan apa yang saya mau tanpa memikirkan bagaimana perasaan pasangan saya.
Mengenalnya dalam waktu singkat. Semesta kembali menyuruh saya berhenti mencintai siapa saja di bumi ini. Saya dan dia berpisah dengan perasaan yang sama-sama melelahkan.
"Kau tau kenapa saya ingin meninggalkan mu? Karena kau selalu saja memarahi saya sedangkan saya hanya membutuhkan pertanyaan, bagaimana hari saya? Apakah saya sudah makan? Saya lelah? Saya capek? Kenapa kamu selalu membandingkan saya dengan mantan-mantan mu?" ujarnya.
"... kau belum sadar? Sejak awal yang membahas mantan adalah dirimu. Kamu yang gamon dan kamu yang masih chat dengannya. Kamu yang masih memperhatikannya. Kau tau bagaimana perasaan saya?"
Dia mengatakan kepada saya, "Kenapa kau tidak paham sih? Saya sudah minta maaf berkali-kali, kenapa selalu saja diungkit? Saya nggak suka kamu bahas mantan!"
"Yeah! Saya paham! Tapi pertanyaan saya adalah suatu saat, kamu akan bersama saya atau dia? Kenapa kau bahkan tidak bisa memprioritaskan apa yang menjadi milikmu? Ketika kau mengejar mantanmu saat dia mau bunuh diri, ketika saya mau marah, kau bahkan berkata ini melelahkan. Apa saya sempat meninggalkan mu? Tidak pernah, kan? Memang benar. Kita hanya saling jatuh cinta di fase kita sama-sama bahagia saja. Kita saling membutuhkan di saat bahagia bukan disaat sulit."
Dia menghela nafas sambil menatap saya, matanya berkaca-kaca, saya hanya menahan diri, "Baiklah. Apakah kita harus putus?"
"Itu yang tidak saya sukai. Ketika kita dirudung masalah, kau pergi. Ketika hubungan kita diambang kehancuran, kau acuh. Karena itu saya mengajak putus, karena sejak awal kamu nggak paham sama apa yang saya sampaikan. Kau hanya paham dengan apa yang kau pikir benar saja, padahal kita tidak bisa melakukan segala hal yang kita anggap benar, Wigo!"
"Itu alasan saya malas sekali bertemu denganmu. Kau selalu membahas kesalahan yang sudah saya katakan minta maaf, kau membahas segala hal yang sudah berlalu," ujarnya.
"Karena itu menyakiti saya lebih jauh! Paham? Saya sakit. Saya sakit hati sejak terakhir kali kau jadikan pilihan. Saya sakit hati sejak kau acuhkan. Saya sakit hati sejak segala hal kecil yang saya lakukan kau salahkan! Saya juga manusia, Wigo. Saya manusia yang punya perasaan. Apakah saya mengutarakan segala hal ini untuk memarahimu? Tidak, justru dari ungkapan saya kala itu saya tengah berjuang agar hubungan kita membaik. Tapi sekarang saya benar-benar lelah, Go. Menunggu, lalu dikecewakan, dan akhirnya menyerah. itulah yang telah saya lakukan sepanjang hidup saya, saat ini Anda membuat saya melakukan itu lagi sementara saya tidak menginginkan itu untuk masa depan saya, Wigo. Ketika saya terpuruk, kau tidak di sisi saya, dan ketika kau terpuruk, kau tidak membutuhkan saya untuk menjadi pendengar. Karena itulah yang membuat saya kecewa. Kecewa dengan hubungan kita dan lelah untuk melangkah maju. Saya ingin istirahat, Maafkan saya, ini keputusan akhir saya. Kita sama-sama gagal paham."
Sejak itu. Kehidupan saya berubah drastis. Masalah mulai dimulai dimana saja. Namun sebelum mengetahui masalahnya, saya akan memberikan penjelasan mengenai awal mula kenapa semua ini terjadi. Geser ke chapter selanjutnya!
YOU ARE READING
0123 (ON GOING)
Teen Fiction[Edited.] Ada beberapa kekurangan dalam penulisan karena ini adalah kisah trauma seseorang yang berada didalam cerita ini. Melalui proses panjang yang melelahkan, wanita ini bisa belajar menjadi lebih kuat dan tabah. Bahkan wanita ini mampu untuk m...
