PLAK!
Suara tamparan terdengar begitu keras di salah satu sudut rumah mewah itu, beberapa detik kemudian terdengar lagi teriakan seorang wanita. Terlihat dua manusia beda generasi sedang bertengkar.
“APA-APAAN KAMU INI, RAIN?!”
“Mi...,” panggil Rain lirih.
“Apa?! Kamu mau buat Mami malu?! Iya?!” Bentak Saras.
“Kalau nilai kamu seperti ini terus gimana bisa kamu megang perusahaan Papi yang di pusat?!”
“Inget, ya, Rain.” Saras berjalan mendekati anaknya lalu berbisik, “Mami ngedidik kamu bukan untuk kekalahan.”
Pemuda itu mengepalkan tangannya, rahangnya sudah mengeras dengan wajah yang memerah. Jika diibaratkan bom, maka sebentar lagi benda itu akan meledak.
"MI!" teriaknya membuat kedua tungkai Saras berhenti melangkah. Wanita itu berbalik kemudian berucap, "Apa? Kamu berani ngebentak Mami?!"
“Mi, bisa nggak, sih, kasih aku kebebasan dalam nentuin kehidupan aku sendiri? Rain capek, Mi....”
“Nggak bisa! Pokoknya kamu jangan sampai kalah dengan Awan, abang kamu itu!” ujar Saras berlalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hallo, Rain!
Teen FictionIni kisah tentang Rain beserta dunianya. Rain Gerald Bagaspati, remaja yang begitu ceria, hangat, dan juga friendly. Namun, dibalik itu semua hari-harinya penuh tuntutan dari sang ibu. Dirinya harus selalu menjadi pemenang. "Mi, bisa nggak, sih, k...
