01.SATU

72 17 9
                                        

___


Bel istirahat telah berbunyi sejak tadi membuat para siswa yang lelah dengan pelajaran itu sedikit lega, begitu pula dengan beberapa orang siswa Xll ini. Mereka memilih duduk di depan kelas menyaksikan keriuhan teman-temannya yang lain, tanpa berniat bergabung dengan yang lainnya.

"Nyet, lu mau lanjut kemana setelah lulus?" tanya Arka seraya menatap Reynal, sedangkan yang ditatap malah cuek saja.

"Lanjut ke pelaminan", sahut Reynal dan samping kirinya.

"Mata oy mata tolong dikondisikan!" Rega mengusap wajah Reynal supaya tidak terus melihat beberapa anak perempuan yang sedang bermain voli di lapangan.

"Asu emang kalian, nggak nikah juga, lah. Bisa di gorok gua sama Bang Rakha," jawab Reynal sambil menghadiahi pukulan pada satu persatu sahabatnya itu.

Mereka bertiga tertawa mendengar jawaban Reynal yang jelas-jelas menunjukkan bahwa ia sangat takut pada abangnya dari pada papanya sendiri.

Tanpa perduli dengan teman-temannya Reynal berdiri ketika melihat gadis cantik yang baru saja selesai dengan permainan volinya itu duduk di pinggir lapangan, seraya mengibar-ngibarkan yang di depan wajahnya.

Reynal menyambar botol minum milik Rega tanpa permisi, kemudian ia berjalan menuju lapangan.

"Nyet, woi minuman gua tuh. Aish, mana itu belum sempat gua sentuh lagi," teriak Rega dengan gerutuan kesal, tetapi sama sekali tak mendapat tanggapan dari Reynal.

"Minum." Ia menyodorkan botol Aqua pada gadis cantik itu.

Gadis itu mengangkat wajahnya menatap Reynal yang menampilkan senyuman termanisnya, dan si gadis menyambut dengan antusias.

"Makasih, kak" jawabannya kemudian bangkit dari tempat duduknya dan bergelayut di lengan Reynal.

Reynal ikut duduk bersama gadis yang ia ketahui bernama sindi itu, gadis cantik yang masih duduk kelas XI dan menjadi incaran banyak cowok. Namun, ternyata hanya dirinya yang berhasil mendapatkan perhatian gadis itu.

"Lu mainnya udah keren banget,"

"Masa sih, tapi aku masih belajar loh, kak" jawabannya malu-malu mendengar pujian Reynal untuknya

"Serius, gua suka lihat lu main voli. Besok-besok mainnya lebih semangat lagi, ya!" Gadis itu mengangguk dengan semangat.

"Nanti sore mau nonton nggak?"

"Hah, sama kakak?" Tanya Sindi balik, tentu saja ia akan mau selama ini bersama Reynal dan pemuda itu mengangguk yakin.

"Aku mau, kak"

"Ya udah, nanti gua tunggu di gerbang." Reynal bangkit seraya mendaratkan usapan lembut di puncak kepala gadis itu.

Ia berjalan menuju toilet setelah puas dengan salah satu gebetannya tadi. Reynal bersandar di depan toilet perempuan, dengan satu kaki di tekuk dan tatapan lurus pada sepatunya serta kedua tangan di saku celana.

"Sil." Ia menarik tangan cewek yang baru saja keluar dari kamar mandi itu, ternyata tadi ia melihat sisil-salah satu gebetannya itu melihatnya bersama Sindi di lapangan.

"Lepas deh, kak!" Sisil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Reynal.

"Kenapa? Lu marah karena tadi gua duduk sama Sindi di lapangan?" Tanyanya dan gadis itu memalingkan wajahnya kesal merasa dibohongi.

"Dengar!" Reynal menangkup kedua pipi Sisil dan menghadapkan pada wajahnya, "tadi gua cuma menyemangati dia buat bermain lebih baik lagi. Kan, sebentar lagi sekolah kita mau ada turnamen voli, udah gak usah cemberut gitu. Nanti malam kita jalan deh."

Wajah kesal sisil berubah menjadi senyuman mendengar penjelasan Reynal, kecemburuannya menguap begitu saja.

"Benar?"

Reynal mengangguk, "tentu saja apa yang nggak untuk bidadari cantik ini," ucapnya seraya mencolek hidung mungil gadis itu, membuat pipi putih itu merona.

Reynal mengangguk, "tentu saja apa yang nggak untuk bidadari cantik ini," ucapnya seraya mencolek hidung mungil gadis itu, membuat pipi putih itu merona

Deze afbeelding leeft onze inhoudsrichtlijnen niet na. Verwijder de afbeelding of upload een andere om verder te gaan met publiceren.

TBC

REYNAL Waar verhalen tot leven komen. Ontdek het nu