Hanya rekam jejak jiwa dari raga yang pernah ada.
setitik harapan di pelupuk mata
seluas langit harapan ada
kaki gemetar hati yang tegar
hampir terjatuh
terselamatkan pembatas pagar.
pagar tua, jejak rekam usia
lapuk, semu, dingin, menghangatkan ha...
Cerita ini dibuat tahun 2021 dan belum sempat diselesaikan, belum kena revisi juga. Selamat membaca.
1.2
Bunga Terakhir By Afgan
1.0.4
Exile by Taylor Swift feat Bon Iver
(Ku sarankan baca lirik lagunya bagian reff)
2.0.3
Bad Romance Cover
3.0.2
Slipping through my fingger by ABBA
Two birds by Regina Spektor
4.0.1
Runtuh By Feby Putri & Fiersa Besari
5.0.0
I Just Couldn't Save You Tonight
W.H.U.T By Aisha Retno
*
"Butuh sesuatu tak kasat mata Butuh pelukan penetral rasa Bukan sebuah gula pahit di ceruk binar mata Bukan juga sebuah layangan kaku di atas pohon mangga Tak kala angin menerjangnya, patah satu rusuknya."
-falling graduate-
.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Seharusnya aku mengatakan setelah kau memakai toga."
**
Kakinya melangkah kuat, banyak pasang mata menumpahkan tangis harunya, rata-rata dari mereka terisak mendengar seluruh kilas balik yang pembawa acara ucapkan. Setiap kata terlontar menambah derai pelupuk mata.
Cahaya lampu sorot mengarah tepat kearahnya di atas panggung puncak kemenangan. Tersenyum senang, tidak ada air mata, hanya tersisa perasaan bangga.
"Nama Aghara Leksmana Mahendra, dari Fakultas kedokteran. Nama ayah Tristan Mahendra pekerjaan CEO of Vhi Double You company, nama ibu Syenandira Ribka berkerja sebagai penulis. Lulus dengan gelar Cumlaude, hobi menulis puisi, Jadilah tenang diantara gemuruh hujan Merupakan kutipan favoritnya. Tiga buku pernah diterbitkan, dua diantaranya dijadikan film layar lebar. Selamat atas kelulusannya." Rentetan kata itu semakin menambah pilu isak tangis.
Dia berdiri kokoh bangga atas segala pencapaian yang pernah didapatkan olehnya. Tali toga berada di posisi kanan dipindahkan ke sebelah kiri. Tangan saling menjaba, dia bisa melihat genangan liquid bening hampir tumpah pada pelupuk mata sang profesor. "Selamat ya, selamat wisuda, semoga tak ada lagi duka."
"Terimakasih prof."
Melintas diatas panggung kelulusan, menjadi bintang paling bersinar, terdengar tentangnya di telinga banyak orang, dia benar-benar terkenal.
Sepatu pantofel itu membawanya pada sepasang kakak beradik yang sedari tadi saling menyumbang tangis. "Tugas akhir sudah selesai, sudah lulus juga, spesial pula. Jadi untuk apa menangis."
"Benar untuk apa kita menangis Shi." Ujar Mahara pria berkacamata. Ashira lagi-lagi mengusap ujung matanya.
"Benar, dia 'kan sudah lulus. Seharusnya kita party."