Ketika Raka hampir mencapai ruang penyimpanan alat-alat olah raga, langkahnya dicegat oleh seorang gadis manis berkulit putih..
"Siapa?"
Gadis itu mengulurkan tangannya. Namun, setelah tidak mendapatkan balasan dari Raka, ia kembali menarik tangannya.
Gadis itu menghela napas singkat. "Gue ... anak kelas 11 Ipa 5, nama-"
"Minggir!"
"Eh, bentar dulu, gue 'kan belum selesai mengenalkan diri," ujar gadis itu cepat.
"Gue nggak perduli." Ketika Raka melangkah ke sisi yang tidak terhalang Mary, gadis itu kembali menghalanginya. "Lo punya masalah apa, sih, sama gue?" tanyanya ketus.
"Nam-nama gue Mary." Gadis bersurai panjang dan hitam legam itu menutup mata. "Sejak setahun yang lalu gue udah suka sama lo. Apa lo mau jadi pacar gue."
"Nggak!" Jawaban tegas, dan tanpa pikir panjang itu membuat Mary melongo.
"Nggak mau dipikir-pikir dulu apa?" Mary bertanya sambil memasang wajah memelas.
Raka menggeleng yakin. "Minggir."
"Tap-"
"Minggir atau gue lempar pakai bola basket!" gertaknya.
Mary yang takut dengan ancaman tersebut langsung menyingkir dari hadapan Raka.
Kepalang tanggung, Mary pun berteriak kepada Raka yang telah melangkah. "Gue sumpahin, elo bakal, tergila-gila sama gue, Raka ...!" Dari suaranya tergambar sebuah obsesi yang sangat besar.
Meskipun ditolak mentah-mentah oleh Raka, Mary tetap tidak menyerah, ia malah belakangan ini selalu mengekor kemana pun Raka pergi.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, Marry keluar dari kelasnya untuk menghampiri sang pujaan hati, Raka.
"Raka ...!" Marry berteriak ketika melihat lelaki pujaannya keluar dari kelasnya.
Raka tidak bergeming, ia tetap berjalan. Ia sungguh tidak peduli dengan panggilan Mary.
Meskipun merasa kesal, tapi Marry dengan sekuat tenaga tetap megejar itu lelaki. Wanita berkulit putih itu akhirnya mampu mensejajarkan langkahnya dengan Raka.
"Raka! kok lo nggak nungguin gue, sih, capek nih kaki," omel Marry sambil ngos-ngosan.
Raka berdecak malas. "Memangnya lo siapa?" ketusnya.
"Raka ini ganteng-ganteng pikun, ya, persaan gue udah bilang siapa nama gue, deh," ucap Marry. "Oh ya, Raka mau kemana?" tanya Marry mengimut-imutkan suaranya.
"Mau ke neraka? Kenapa, mau ikut?"
"Eh, daripada ke neraka, mendingan ke surga aja, yuk."
Raka medesah kesal. "Argh terserah lu aja dah, males gue."
Tak lama kemudian, akhirnya mereka pun sampai ke kantin yang sudah sesak, akibat berlimpahnya para siswa-siswi.
"Loh, kok malah ke kantin, katanya mau ke neraka?" canda Marry.
Raka memandang Marry malas. "Bodo'."
Marry tersenyum. "Raka lucu deh, kalau lagi marah gitu, ngegemesin."
Raka memilih tidak menyahut. Ia tetap berjalan menuju meja kosong. Ia duduk di kursi kantin, tidak lama berselang, Marry pun mengisi kursi di depan Raka.
"Aku duduk di sini, ya."
"Terserah!" kata Raka jutek.
Bukannya kesal dengan sikap lelaki pujaannya, Marry malah tersenyum. "Oh ya, Raka mau pesan apa? Gue pesanin mau?"
YOU ARE READING
MR Kulkas
Teen FictionMarry memutuskan urat malunya demi mendapatkan pujaan hatinya. Raka, pemuda tampan yang dijuluki MR. Kulkas akhirnya bertekuk lutut di hadapan Mary. Keduanya lantas menjalin hubungan yang romantis. Namun, masalah datang saat salah seorang penggemar...
