Semalaman penuh aku tidak bisa tidur. Baru kali ini aku merasa seperti tinggal di neraka. Bayangkan saja, panas Surabaya sudah mencapai 36° celcius! Gila, kan? Mungkin kalau di tempat lain 36° masih bisa ditolerir, tapi kalau disini mana bisa. Jalan kaki ke kampus saja sudah seperti jalan di padang pasir saking panasnya. Padahal sudah satu bulan lebih aku tinggal disini, semuanya aku bisa atasi. Cari makan? Gampang, tinggal turun ke bawah langsung ada kantin. Sinyal wifi, tempat nongkrong, toko buku, tempat fotokopi, semuanya ada. Aku bersyukur untuk semua itu, tapi tidak dengan udara panasnya. Rasanya ingin sekali terjun di danau depan gedung rektorat, ah tapi tetap saja airnya pasti lebih hangat dari kopi yang tadi sore kupesan di warung dekat gedung asrama.
Sekarang sudah pukul 6 pagi. Posisiku masih sama seperti dua jam yang lalu, berbaring di atas lantai kamar yang lumayan dingin. Novel yang sampulnya sudah robek separuh kini kujadikan kipas angin manual, tiap 5 menit kuganti tangan kiri lalu kanan karena memang pegal. Tenang, kalian tau aku sangat menghargai buku, kan? Novel yang kujadikan kipas tangan ini bajakan, padahal aku beli online di toko buku yang sudah bertanda star seller. Ulasannya juga lebih dari seratus, bintang lima semua lagi. Tapi ya ternyata aku kena tipu dengan harganya yang murah. Daripada kubuang mending kujadikan kipas, beberapa kali Alfan juga meminjamnya untuk tatakan panci kalau dia sedang masak mi.
"Astaga, masih aja rebahan. Jangan lupa dipel, keringatmu nyebar kemana-mana itu!" Alfan masuk kamar dengan handuk yang ia sampirkan di kepala untuk menutupi rambutnya yang basah. Dari dua minggu yang lalu setiap Sabtu memang jadwalnya ikut sukarela jadi petugas kantin.
"Iya nanti aku pel habis pulang ngampus." jawabku masih sambil tiduran di lantai.
"Lah bukannya jadwal ngampusmu senin sampai jumat ya?", Alfan menendang kakiku yang menghalangi pintu lemari. Kemudian dia mengeluarkan kaos dan celana training dari sana.
"Iya, nanti aku ke kampus soalnya ada penyambutan mahasiswa baru di himpunan mahasiswa daerah."
Alfan cuma mengangguk-angguk sambil menyisir rambutnya di depan cermin yang setengahnya retak gara-gara aku yang tidak sengaja menjatuhkannya tempo hari.
"Oh iya Dim, katanya kipas anginnya udah bisa diambil, tadi aku dichat tukang servisnya."
"Wah, akhirnya... nanti pulang dari kampus aku aja yang ambil Fan."
Akhirnya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Dua hari yang lalu satu-satunya kipas angin yang ada di kamar ini rusak, teman sekamarku si Alfan ini sudah membawanya ke tempat servis. Karena tidak ada kipas angin lain kamar ini jadi seperti oven. Hidup di Surabaya tanpa kipas angin memang mustahil. Waktu di Malang, orang-orang rumah anti sama kipas angin. Bahkan ayah bilang lebih baik jangan pasang kipas angin, kalau panas ya biarkan keringatan. Keringat itu baik untuk kesehatan, katanya. Tapi kalau sekarang Ayah masih hidup dan ikut ke Surabaya pasti bakal pasang kipas angin yang paling besar di kamar. Oh, bisa jadi mungkin bakal beli AC juga.
"Hari ini menu di kantin apa, Fan?" tanyaku masih sambil kipas-kipas di lantai.
"Kayak biasanya sih. Tapi hari ini nggak ada lele goreng, kata Bu Sri diganti sama sayur sop."
"Kok sop?"
"Ya maunya apa? Spaghetti? Masak mie aja sana!" Alfan menunjuk sekardus mi instan yang ada di pojokan kamar.
Jujur, aku kurang suka sop yang ada di kantin. Agak hambar, tidak sesedap yang dimasak Ibuk. Kalau bisa dihitung mungkin sudah lebih dari limapuluh kali aku makan sop buatannya. Dan rasanya selalu sama enaknya, tidak pernah tidak enak. Kan, kalau sudah bicara tentang makanan selalu terbawa Ibuk di pikiranku. Kenapa ya masakan Ibuk itu selalu enak? Padahal katanya cuma ngejiplak resep-resep yang ada di youtube. Dan dari puluhan resep yang sudah direka ulang itu semuanya tidak pernah mengecewakan. Ah jadi ingin pulang ke rumah, sayang sekali minggu ini ada acara kumpul-kumpul himpunan mahasiswa. Terpaksa kutunda makan sop buatan Ibuk sampai minggu depan.
YOU ARE READING
Tak Berujung
Teen FictionAlya tidak sengaja memberitahu tempat persembunyiannya di asrama kampus kepada Dimas. Sejak saat itu Dimas sering datang untuk menemani Alya mengerjakan proyek lukisannya di rooftop asrama. Dimas bertekad untuk mendapatkan hati perempuan itu saat Al...
