Akhir ?

385 198 152
                                        

Wanita itu berjalan dari kamar mandi menuju lemari pakaian, membuka lemari. Terlihat bermacam-macam pakaian dengan merek yang terkenal bisa dibilang semuanya adalah  branded. Dia memilih baju dress bewarna merah dengan jas bewarna hitam . " hmm, ini sangat cocok dengan seleraku ," ucap wanita itu . Ia duduk dimeja hias aksen kayu dilengkapi cermin berbentuk bulat .

Ia berkaca di cermin , terlihat jelas wajah wanita itu dengan hidung mancung dan memiliki lipatan mata , wajahnya berbentuk oval, berkulit  kuning cerah . Wanita itu bernama Soraya , Aqila Soraya binti Azham nama lengkapnya .

Soraya menyibak rambut yang menutupi dahinya , terlihat ada goresan  luka yang melintang  dan juga ada kesan memar di pelipis dekat matanya yang membiru . " Astaga , ini kalau gk di tutupi pakai foundation bakalan kelihatan banget nih, " gerutu soraya .

Soraya pun mulai memakai foundation untuk menutupi memarnya, sedangkan untuk lukanya ia menggunakan Hansaplas. Setelah semua riasan di rasanya cukup untuk menutupi semuanya , ia pun berjalan keluar kamar menuruni anak tangga tak lupa juga sebelum itu menarik nafas dalam-dalam sambil berkata .

"Oke, semuanya akan baik-baik saja hari ini, hari ini harus jadi hari yang menyenangkan!"

Saat mulai menuruni anak tangga tiba-tiba .

"Ding...dong..." Bel rumah berbunyi menandakan ada tamu di luar rumah .

"Hmm, pagi-pagi udah ada tamu siapa ya?, padahal ini baru jam delapan pagi," ucap Soraya .

"Ding...dong...ding...dong...." Bel kian makin keras berbunyi, segera Soraya mempercepat langkahnya menuruni anak tangga menghampiri pintu.

     Tangannya meraih ganggang pintu, tampaklah seorang laki-laki yang sudah berumur 46 tahun menggendong tas selempang dengan secabik surat yang ia pegang . Rupanya yang datang adalah postman si pengantar surat , dan secara kebetulan pula soraya mengenali postman itu .

" Eh , Kang Tejo ternyata. Udah baikan, Kang?" tanya Soraya.

"Ha , iya mbak kemarin saya udah minum obat , terus rebahan  dari pagi sampai sore. Sekarang saya udah sembuh kok," sahut Kang Tejo disertai dengan  senyum gigi depan maju gerak  cengengesan khasnya.

      Memang Soraya dan Kang Tejo akrab seperti keluarga pasalnya Kang Tejo terhutang budi dengan Soraya. Sewaktu istri Kang Tejo lahiran dan harus di bawa ke rumah sakit, sialnya waktu itu Kang Tejo tidak punya uang di tambah lagi dengan motornya yang pada hari itu mogok, untungnya rumah Soraya dan Kang Tejo berdampingan bisa di katakan mereka tetangga jadi dengan sukarela Soraya mengantarkan istrinya Kang Tejo menggunakan mobilnya, namun di pertengahan jalan mungkin karena sakit yang tidak tertahankan istri Kang Tejo malah brojol di dalam mobil Soraya, hal itu menambah kepanikan mereka. Kang Tejo yang bingung bagaimana membersihkan mobil Soraya yang telah penuh oleh darah istrinya dan Soraya yang khawatir, takut kalau istrinya Kang Tejo pendarahan, untung saja bayinya lahir baik-baik saja. Itu adalah pengalaman tak terlupakan sekaligus memalukan bagi Kang Tejo.
          

              - - - - - - -

"Oh iya, ini mbak ada kiriman surat buat mbak Soraya," ucap Kang Tejo sambil mengulurkan surat yang ia pegang sedari tadi.

"Kayaknya dari pengadilan soalnya saya kenal kop suratnya," tambah Kang Tejo.

Lantas terkejut mendengar nama pengadilan, Soraya pun dengan cepat mengambil surat itu.

30 JanuaryWhere stories live. Discover now