Angin meniup kencang rambut Sinar, kini dirinya merasa kesal. Sejak 5 menit yang lalu ia merapikan rambutnya, semuanya berantakan kembali karna angin. Jika saja rambutnya panjang, maka akan mudah untuk menggulung rambutnya ke atas. "Ini semua karena Samuel." Sudahlah, ia memilih akan menyisirnya lagi di mobil Kak Al.
"Rambut udah pendek, lama banget lo nyisirnya," ujar Samuel yang hendak mengangkat kopernya ke bagasi mobil Kak Al.
"Heh, ini semua gara-gara lo! Kalau aja lo gak-" Ucapan Sinar terpotong begitu melihat Baskara dan Nicholas yang menghampiri mereka. Ia memilih untuk kembali tersenyum daripada marah-marah, akan merusak moodnya pagi ini.
Sinar tersenyum kepada Baskara dan Nicholas, tetapi begitu menghadapkan pandangannya ke Samuel. Ia kembali menunjukkan wajah kesalnya.
"Nicholas, gak ada jadwal shooting?" tanya Sinar dengan ramah.
"Enggak, Sin. Hari ini sampai hari Rabu, gue bakal belajar dulu. Sama Kak Shena."
Sinar mengangguk. Tak lama, datang Kak Al dan Emma, Kak Al yang sudah siap untuk berangkat kerja sekaligus mengantar 2 adik perempuan serta 2 laki-laki teman adik-adiknya, sekaligus tetangganya. "Nicholas, kita tinggal dulu ya."
Semuanya bergegas masuk ke dalam mobil, Sinar memilih sebentar untuk menepuk bahu Nicholas. "Ditinggal 3 minggu dulu ya. Kalau gue libur, ajak gue ke lokasi shooting lo ya. Siapa ta-" Omongan Sinar terpotong lagi. "Sinar! Lo ngapain lagi sih?" Gece, naik. Bikin lama aja." Teriak Sam dari kaca mobil yang terbuka setengah.
Sinar memutar bola matanya. "Dada, Nicholas." Kemudian ia membuka pintu dan duduk di depan, disamping Kak Al yang membawa mobil. "Lo pasti ngebujuk Cholas lagi kan? Biar diajak ke lokasi shootingnya. Tau gue," ujar Sam.
"Sok tau!" Sinar sungguh lelah meladeni Samuel.
"Udah. Udah ya, Sinar dan Sam. Semua kopernya udah diangkutin ke bagasi kan?"
Ketiganya mengangguk kecuali Emma. Kak Al kemudian menancapkan gasnya, dan berangkat mengantar keempatnya bersekolah. "Dante kenapa ga ikut mobil ini?"
"Hah? Iya, Kak Dante." Sinar yang sambil menyisir rambutnya jadi teringan akat Dante.
"Biasalah, kak. Dia suka telat. Lebih baik kita jalan duluan." Baskara selalu menjawab pertanyaan seperti ini. Ia sudah mengetahui bagaimana leletnya Dante jika diajak berangkat sekolah bersama naik mobil Kak Al.
^^^^^^^
Ketika semua anak-anaknya sudah berangkat ke sekolah para ibu-ibu di Gang Mawar berkumpul di Warung Soto Bu Dwi. Kali ini mereka akan membantu Bu Dwi menjaga warung. Tentu saja itu tidak dengan cuma-cuma. Siang dan malam, mereka akan makan soto di warung tersebut.
"Bu Dwi! Sering-sering ya kayak gini. Kan kita jadi semangat bantuinnya." Bu Sari, Ibu dari Samuel memang begitu suka akan soto yang dimasak Bu Dwi.
"Wes, sing penting bantu saya ya bu. Ngulek sambel." Bu Dwi tentunya dapat merasakan bebannya terangkat sedikit pagi ini. "Oh ya, Bu Devi! Mobil Al udah berangkat?"
"Sudah, bu. Dari 5 menit yang lalu." Devi, Ibu dari Sinar yang saat ini sedang mencuci piring bekas tempat bumbu-bumbu. "Dante, gak ikut bu. Tadi Baskara udah panggil. Dia baru selesai mandi," saut Bu Lana.
"Haduh!!! Dante. Ibu tau kamu tadi kesiangan kan?! Cepat, 10 menit lagi masuk sekolah."
"Iya Bu." Jawab Dante yang baru turun melewati tangga. Tas sudah digendong dipunggunya. Begitu juga, koper kecil yang ia turunkan dari anak tangga. "Aku naik motor bapak ya, bu. Sayang udah lama gak dipake, daripada aku ngojek."
"Ya! Cepat, toh! Udah kelas dua belas, masih aja begini kamu, ndok." Bu Dwi sungguh tak habis pikir mengapa anaknya ini sangat santai dalam menjalani apapun, termasuk sekolah.
"Eh. Eh. Dante, tante nitip Tas Sinar ya." Bu Devi tersenyum kepada Dante, sembari memberikan tas berwarnya ungu muda itu ke Dante, yang sudah duduk di jok motornya.
"Udah gede, gak ada berubah Si Sinar," ujar Bu Lana.
Bu Devi hanya membalas dengan senyum tipis. Bukan Sinar, namanya kalau tidak ceroboh. Bagaimana mungkin tas untuknya pergi ke sekolah ia tinggalkan. Dante menerima tas Sinar, dan digantungkan di gantungan tatakan kaki bagian depan motor. "Waalaikumsalam."
"Ga kerasa, Dante lulus sebentar lagi." Bu Sari yang selesai mengulek cabai, memperhatikan kepergian Dante dari warung dan gang ini.
"Anak-anak juga udah pada besar bu. Kalau ngebayangin, pengen deh saya Sinar sama Samuel itu emm," ucap Bu Devi tak sengaja. Sambil mengaitkan kedua kelingkingnya.
"Ah! Saya setuju kalau gitu bu. Menantu saya penyanyi, seneng deh."
"Bu Sari. Bu Devi. Cepet, toh ulek bawang putihnya." Bu Dwi geleng-geleng kepala melihat kedua tetangganya itu. Begitu juga Bu Lana yang hanya memperhatikan dari jauh saat menunggu matang kuah soto.
^^^^^^^
"Untung tadi Dante lewat jalan tikusnya. Set. Set. Set. Gue liat betul Sin dari lorong depan kelas. Dia bawa tas lo, tasnya, sama kopernya. Lincah bener tuh orang."
Sinar memandang aneh teman yang dihadapannya ini, saat ia memperagakan bagaimana Dante berlari begitu lincahnya. "Kak Dante gak usah diraguin lagi." Sinar mengacak rambut pendeknya.
"Tadi udah lo sisir, Sin. Diberantakin, lagi. Kerjaan lo ya ni hari, cuma nyisir."
"Ren, gue itu ga suka rambut pendek kayak gini." Sinar kemudian menarik gorden kamar asramanya, menutupi jendela. Sinar hendak ganti baju. "Sana, kalau mau ganti baju di kamar mandi. Gue mau ganti disini."
Tidak lama setelah keduanya selasai ganti baju, datanglah kedua anggota kamar nomor 25 ini. "Akhirnya gue ketemu kamar ini lagi."
"Dari mana kalian?" tanya Sinar kepada Sharon dan juga Ranee.
"Dari ruang kepsek. Aaaah Sinar, gue dipilih jadi panitia acara Grand Nusantara Pelita."
"Ya bagus, She. Gak jadi pengurus osis, tapi bisa jadi panitia acara ini." Sinar mengacungkan jempol.
"Ini kenapa, anak ini satu?" tanya Renata yang berada di bangku meja belajar.
"Dia? Ya apalagi, kalau harus ningkatin nilai-nilainya." Sharon kemudian beranjak dari duduk depan pintu kamar ke kasurnya.
"Nilai gue sih gak turun, tapi ada satu anak yang minta seleksi beasiswa. Kalau misalkan nilainya lebih tinggi daripada gue di satu semester ini, kelas 12 nanti gue gak dapet beasiswa."
"Ya, ya. Lakuin yang terbaik aja deh, Ran." Sinar terdiam.
"Gue ngerasa seneng, deh. Kalian selalu ada buat gue." Ranee mengucapkan kata itu tiba-tiba. Ia memandang ketiga temannya dikamar asramanya saat ini. 2 tahun, tidak berpindah kamar membuatnya banyak bersyukur. Ketiga temannya ini amat baik kepadanya.
"Ya. Gue tau." Renata merasa percaya diri.
"Tenang, Ran. Lo gak akan pernah merasa sendiri, kalau kita merasa punya satu sama lain kayak gini." Sinar tersenyum. "Jangan pernah merasa sendiri, orang disekitar lo mungkin sedih kalau mereka gak dianggap ada disekitar lo."
"Sin. Lo pasti gak pernah merasa sendiri?" tanya Sharon tiba-tiba.
Renata mencoba mencerna perkataan Sharon. "Lo punya orang tua lengkap, kakak laki-laki dan perempuan. Teman kayak Baskara, Sam, Dante juga. Dan tetangga lo yang baiknya lebih dari seorang tetangga," ujar Sharon.
Sinar berpindah duduk disamping Sharon. "Makanya gue selalu bersyukur ada banyak orang baik ngelilingin gue. Termasuk lo. Lu juga harus bersyukur, lo kan punya gue, yang bisa nyanyi 24 jam buat lo."
Sharon tertawa pelan, ia peluk Sinar begitu erat. Renata dan Ranee tak mau kalah.
*******
Hai everyone! This is my first story :D Semoga suka
Please help me, vote yaaaa
Terima kasih <3
YOU ARE READING
Sinar Mentari
Teen FictionTidak ada yang ditunggu Samuel, selain pagi ataupun siang hari. Disaat mentari masih memegahkan sinarnya yang membuat Samuel hangat. Begitu mentari itu tenggelam, ibunya menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Walau dirinya tau, esok hari masih ada dan m...
