Bagian 02

2 0 0
                                    

Badan mungil itu membungkuk 45 derajat, bersamaan dengan satu telapak tangannya yang mengarah kedalam pintu yang terbuka. "Selamat datang, silahkan keluar." Sambutnya dengan sumringah.

Troposfer menggeleng pelan dan berjalan mendekati Thermal--merangkul pundak gadis itu dan menyeretnya melewati pembatas ruang; pintu bercatkan cokelat cerah. "Mohon maap, ini sengaja banget minta dikatain gak sih? Yang punya rumah 'kan gue, ngapain jadi elo yang memberi kata sambutan?"

Thermal menengadahkan kepalanya, berusaha menatap wajah Troposfer yang jauh diatasnya. "Ya suka-suka Thermal lah... Thermal 'kan cangtip."

"ASTAPIRULLAH, NGAKU-NGAKU! SARENG SAHA IEU? SADAR, SADAR!" Seru Troposfer tiba-tiba, penuh kehebohan. Seraya menempelkan telapak tangannya pada jidat Thermal, ia mengusap kasar wajah sahabatnya itu untuk beberapa kali.

Thermal membalikkan badannya dengan cepat. Jemarinya secara spontan membentuk finger heart dan mengarahkannya keluar—lebih tepatnya pada Thermosfer yang sedang menyirami tanaman dengan semprotan elektrik. "Sarenghaeo."

Troposfer menepuk jidatnya pelan. "Ya Gusti, kumat lagi."

Dan dengan putaran yang cepat lelaki itu berpindah, tepat dihadapan Thermal; mencoba menghalangi pandangan sahabatnya yang masih terdiam kagum—Mata yang berbinar itu membuat Troposfer mencibir. "Dih, ngehalu kok sama orang jelek."

Mata kecil Thermal membulat seketika, ia tidak dapat menerima pernyataan Troposfer. "ENAK AJA! MEMANGNYA SIAPA LAGI DISINI YANG JELEK SELAIN POPO? NGGAK ADA!" Secara tak sadar, telapak tangan Thermal melayang dan mendarat pada bahu sahabatnya itu. "POPO YANG TIDAK GANTENG MOHON UNDUR DIRI YA, JANGAN MENGHALANGI NIKMAT TUHAN. GAK BAIK, DOSA."

Jemari Troposfer menarik ujung piyama Thermal dengan cepat, saat ia menyadari bahwa sahabatnya itu hendak melarikan diri; kembali keluar. "EITS, MAO KEMANA? URUSAN PERGANTENG-GANTENGAN BELUM KELAR!"

Kedua tangannya melipat di depan dada. "ATAS DASAR APA LO NGATAIN GUE GAK GANTENG?" Sembur Troposfer, sangat kesal."PAK RT NGATAIN GUE GANTENG, ANAK PAK RT YANG MAU PAUD NGANTAIN GUE GANTENG, MY MAJESTY APALAGI, KATANYA GUE PALING GANTENG SESEMESTA! JADI, DIMANA LETAK KETIDAKGANTENGAN GUE?"

"Dih, fitnah trosss, insyafnya kapan?" Celutuk seseorang yang baru aja muncul dari punggung sofa lengkap dengan masker wajah dan mentimun. Sepasang sahabat itu serentak mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Dia—Rinjani, Bunda dari Thermosfer dan Royal Lady-nya Troposfer.

Thermal terkekeh kecil, dan menjulurkan lidahnya; mengejek. Satu-kosong. Troposfer tak pernah menang melawannya. Gadis itu menambahkan senandung riangnya, yang tentu saja membuat Troposfer semakin mengerucutkan bibir.

Dengan hati yang dongkol Troposfer berjalan mendekati Rinjani sembari menghentakkan kakinya; sebal."Ih, My Majesty kok gitu?" Tanyanya tak terima.

Rinjani kembali berbaring--persis seperti posisinya semula. "Ya, mana Royal Lady tau, kan Royal Lady pelindung kebenaran."

"Dih, Sok iyes banget nih Buibu." Cerca Troposfer dalam hati, sembari mengangkat ibu jarinya yang mengarah kebawah.

"Oke fix, kita gak temenan. My Majesty gak usah nyuruh Tropo ngurut-ngurut lagi!" Detik berikutnya, lelaki itu berbalik dan mengejar Thermal yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

 My Majesty gak usah nyuruh Tropo ngurut-ngurut lagi!" Detik berikutnya, lelaki itu berbalik dan mengejar Thermal yang sudah lebih dulu meninggalkannya

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Bibir kecil Thermal tak henti-hentinya bergerak—Komat-kamit merapal doa. Keputusannya sudah bulat, kalau tidak sekarang kapan lagi? Jemari yang menggantung diudara itu perlahan mengenai pundak tegap Thermosfer. Memberi beberapa ketukan disana. "Tok tok tok, samlekom. Apakah benar ini jodohnya Thermal?"

Tubuh tegap lelaki seketika membeku; wujud dari keterkejutannya. Thermosfer menghembuskan napasnya pelan, dan melirik tajam gadis berpiyama rayon dari ekor matanya, lantas kembali melanjutkan aktivitasnya seperti sedia kala.

Mencium tidak adanya umpan balik yang ia terima, Thermal memutuskan untuk semakin mempertipis jarak antara keduanya. Gadis itu berdecak kagum, dan pancaran matanya tak henti-henti memuja.

Sesegera mungkin Thermal menepuk-nepukkan kedua tangannya; berupaya membasmi kuman yang menempel. Lalu saat gadis itu merasa sudah cukup bersih, ia mengangkat telapak tangannya yang terbuka tepat di depan dada tegap Thermosfer; hendak berjabat tangan.

"Punten Bang, kalau kata pepatah tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu apa boleh Thermal tau nomor WhatsAppnya? Biar nanti gampang sayang-sayangan."

Namun, Thermal tak kunjung mendapat balasan. Mata elang dan alis yang terangkat itu sepertinya tidak menjadi signal yang baik untuk Thermal.

"YUHU! ARTIS DATANG," Pekik Troposfer tiba-tiba, sembari berjalan melambai; dengan gerakan kaki yang dibuat zig-zag. Tak lupa tangan yang bergerak memperagakan flying kiss. "SAMBUTANNYA MAN—"

"ASTAGFIRULLAHALADZIM!" Jerit Troposfer tak karuan. Lelaki itu bergegas memisahkan Thermal dan abangnya yang sedikit lagi berhimpitan. Seraya berdiri diantara keduanya, ia melemparkan tatapan mengintimidasi. Tangannya melipat di depan dada. "Kata Pak Ustadz nih ya, kalau ada laki-laki sama perempuan," Jemari Troposfer bergerak menujuk kepada Thermosfer dan Thermal secara bergantian.

"Yang ketiga itu setan,"

Thermal tampak berpikir sejenak. Lalu ia mulai menghitung orang-orang yang berada diteras rumah Troposfer. "Kan tadinya disini cuman ada Thermal sama calon Ayah dari anak-anaknya Thermal. Nah, setelah Popo datang, bertambah jadi tiga orang. Jadi, apa benar Popo itu Setan?"

Troposfer memutar otaknya. Lantas mengusap pangkal hidungnya yang tidak terasa gatal sama sekali; Lelaki itu salah tingkah. Perkataan Thermal ada benarnya.

Sementara Thermosfer tersenyum kecil; sudut bibirnya tertarik walau hanya sedikit. Troposfer yang melihat itu kesal. Ia meremas kedua telapak tangan—untuk menyalurkan kekesalannya.

Untuk mengurangi rasa malunya terhadap Thermosfer. Lelaki itu menarik lengan Thermal menjauh dari teras rumah, hendak kembali berjalan masuk kedalam rumahnya. "Anak gadis itu gak baik diluar rumah pagi-pagi. Apa kata dunia? Nih, gue ajarin ya, lebih baik lo membabu Mal, biar kelihatan rajin padahal mah enggak. Yuk, membabu ceria dirumah gue aja." Ujarnya menceramahi Thermal.

Namun, langkah Troposfer dan Thermal terhenti, saat Thermosfer membuka suara.

"Nama Saya Thermosfer Diatmosfer." Dengan telaten lelaki itu meletakkan Sprayer mini diatas meja. Pandangnya perlahan naik, menuju Thermal yang tercengang—tidak percaya. "Kamu bertanya tentang nomor WhatsApp saya, tapi tidak dengan nama Saya. Itu bukan adab yang benar dalam berkomunikasi." Sambungnya, sembari memamerkan senyum yang tipis, dan memandang sekilas kearah Troposfer penuh kemenangan. Ada rasa puas tersendiri didalam dirinya, saat adik bungsunya itu merasa kesal.

Sementara Thermal, gadis itu butuh beberapa detik untuk mencerna segala perkataan Thermosfer. Setelah itu, memekik kegirangan. "PO, KAMERANYA DIMANA? THERMAL GAK KUAT DINOTICE CALON IMAM!"

TBC.

Ther-MalikaWhere stories live. Discover now