Part 1

136K 2.2K 167
                                    

Hamil di luar nikah saat masih duduk di bangku sma, membuat Delia terpaksa harus berhenti sekolah. Masa depannya hancur. Ia harus merawat anak di umur yang masih di bilang muda.

Bahkan karena malu dan menganggapnya aib, keluarganya mengusir dirinya dari rumah. Ia harus hidup di dunia luar sana sendirian. Mengontrak di tempat yang kecil, bersama putranya yang kini berumur 3 tahun.

Delia bekerja di coffeshop untuk menghidupi anaknya selama ini.

Namun dirinya terpaksa
harus kehilangan pekerjaan, karena cafe tempatnya bekerja bangkrut.

"Aku harus bagaimana sekarang?" Isaknya sambil memandang anak kecil yang tengah tertidur sambil memeluk bonekanya.

Anaknya butuh susu dan makan. Sedangkan dirinya tidak punya pekerjaan. Di umur yang ke 20, Delia tidak punya pengalaman kerja apapun selain pelayan cafe.

Ijazah sekolah saja ia tak punya. Dan jaman sekarang, mencari pekerjaan itu sangat susah tanpa ijasah. Apalagi di musim pandemi seperti ini.

"Del... " Panggil seorang wanita yang merupakan sahabatnya semasa sekolah, datang memasuki rumahnya.

Wanita itu membawa susu, buah, dan berbagai kebutuhan pokok lain untuknya. Anna memang sosok yang selalu membantunya selama ini.

"Makasih banyak Anna."

"Aku dapat selebaran dari temen kampus. Katanya sih ada rekan kerja ayah mereka yang membutuhkan seorang maid. Kamu mau? Tapi ya gitu. Mungkin kerjanya agak berat."

"Aku mau." Jawab Delia tanpa berpikir panjang.  Ia meraih selebaran sekaligus formulir itu dengan cepat.

Delia akan bekerja apapun. Yang terpenting ia bisa membayar kontrakan, makan, serta bibi yang biasa menjaga anaknya selama ia bekerja.

"Kamu yakin mau jadi pembantu? Apa nggak sebaiknya kamu minta bantuan keluarga kamu?"

"Buat apa? Mereka mengusirku dulu. Kalau mereka mau bantu, semua udah terlambat. Lagian aku udah nggak peduli. Aku akan mennggap keluargaku sudah mati." Jawabnya tak terbantah.

Delia masih ingat bagaimana ayah dan ibu tirinya mengusirnya karena ia hamil. Ia masih ingat ketika ia meminta bantuan untuk melahirkan, dan mereka semua menghinanya dengan begitu menyakitkan.

Delia bukan orang yang gemar meminta jika bukan karena kepepet melahirkan kala itu. Dan mulai saat itu ia bersumpah tidak akan merendahkan harga dirinya ke rumah itu lagi.

Apapun yang terjadi, ia akan bekerja keras dengan usahanya sendiri. Ia yakin, ia bisa membesarkan anaknya dengan baik, sebagai single mom.

"Maaf ya Del, aku nggak bisa bantu kamu banyak. Keluarga aku bukan keluarga kaya sepertimu. Ya paling aku bisa bantu bahan-bahan pokok aja."

"Anna, kamu udah bantu aku banyak selama ini. Makasih atas semuanya." Delia memeluk sahabatnya.

"Terimakasih juga untuk lowongan ini, semoga aku di terima."

"Semangat!"

"Ehmm! Pasti!" Delia menyemangati dirinya sendiri. Ia lalu mencium anaknya yang masih tertidur pulas.

"Sebenarnya siapa ayahnya, Del? Kenapa kamu nggak pernah cerita?" Tanya Anna penasaran. Sudah ratusan kali Anna bertanya siapa ayah dari anaknya. Namun Delia selalu terdiam.

Serperti sekarang. Delia terdiam.

Semua ini berawal ketika ia mencoba memasuki bar seorang diri. Ia menjajal berbagai minuman, hingga ia bertemu seorang pria dengan umur yang jauh di atas dirinya.

Delia masih ingat wajah tampan itu. Bahkan meski sudah tiga tahun lamanya, sentuhan pria itu masih terasa di kulitnya.  Desakan nikmat pria itu masih terasa di intinya.

Entah apa yang ia pikirkan malam itu,  sehingga ia menurut saja ketika pria itu menelanjanginya. Bahkan percintaan mereka terjadi semalaman berturut-turut.

Seolah tak mengenal lelah, mereka terus begelut untuk bertukar kenikmatan.

"Ahhh... aku tidak mau memikirkannya lagi. Tidak mau!"

****

Sean menatap ke arah jendela kantor, yang menampilkan langit sore dengan begitu indah. Ia menghembuskan nafas beberapa kali, untuk menetralkan perasaan resahnya.

Sudah hampir tiga tahun ia menikah. Namun tak kunjung memiliki keturunan juga. Istrinya mandul.

Padahal Sean ingin sekali menjadi seorang ayah. Tapi apa daya? Semua itu hanya harapan kosong. Haruskah ia menikah lagi? Atau berselingkuh? Agar ia bisa mendapat keturunan?

Sean sangat frustasi. Ia sudah berkepala tiga sekarang. Tiga puluh lima tahun!  Kapan lagi ia bisa menggendong anak jika bukan sekarang?

Lagipula kemandulan itu salah istrinya. Ia terlalu sering meminum obat pelangsing. Terlalu menjaga badannya dengan obat-obatan sedemikian rupa. Istrinya selalu ingin tampil cantik dengan badan yang bagus.

Tapi untuk apa itu semua jika ia tidak bisa memiliki keturunan? Menyentuhnya saja Sean sangat malas sekarang.

Toktoktok... asisten pribadi Sean mengetuk pintu.

"Ini berkas kandidat yang mendaftarkan diri menjadi maid, tuan Sean."

"Mereka bersih? Maid yang kemarin mencuri di rumahku. Aku tidak mau itu terulang lagi." Ujarnya tajam.

"Bersih. Dari 100 orang hanya tersisa lima yang saya pastikan dapat di percaya."

Sean menerima berkas tersebut dan meniliknya satu-persatu. Ada satu berkas lamaran yang sangat membuatnya tertarik. Foto wanita yang ada di berkas tersebut seperti tak asing lagi.

Ia memicingkan mata seolah mengingat sesuatu.

"Dia?" Desisnya. "Siapa dia?" Sean memberikan berkas itu kepada asistenya.

"Delia Smith. Dia bersih, tapi tidak memiliki ijasah sekolah. Tapi saya rasa untuk memasak dia bisa. Karena dia pernah kerja di cafe dan restaurant. Dia single mom."

"Suaminya?"

"Entahlah, dia memberi keterangan bahwa suaminya telah meninggal."

"Panggil dia, aku mau dia." Ujar Sean.

Ia tersenyum-senyum. Apakah benar dia gadis kecil yang membuatnya bernafsu malam itu? Apakah benar dia adalah gadis tiga tahun lalu yang ia perawani?

"Oh astaga! Dia sungguh gadis kecil yang hot!" Desisnya sambil memejamkan mata. Ia kembali mengingat malam itu. Malam panas yang begitu menggairahkan.

****


Cerita tersedia di googleplay

Harga (PF Nih Buat Jajan) NBJ : 15.000

PDF by Wa (085712089258) : 15.000


Beautiful DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang