Mohon berikan dukungan terbaik kalian untuk Berry, ya! Tahu kan bentuk dukungannya seperti apa?
Iya, bener. Berupa vote dan komen. Jadi jangan lupa tinggalkan jejak, ya.
Terima kasih.
Happy reading, and hope u enjoy!
***
“SAYA rasa kita sudah nggak cocok lagi, Ran.”
Sepenggal kalimat itu berhasil membuat Rania terpaku di tempat duduk mobil. Seketika ia lupa untuk menghirup oksigen. Panggilan aku-kamu pun sudah terganti dengan sapaan saya dalam penyebutan dirinya. Itu artinya Kennath benar-benar serius tentang ini.
Di basemen yang cukup sepi. Di dalam mobil Mercedes Benz merah, terdapat sepasang kekasih yang tengah di ambang perpisahan dalam suatu hubungan.
Kennath yang awalnya mengatakan kalimat itu dengan tatapan lurus ke depan, kini dia alihkan pada kekasihnya yang sebentar lagi akan menjabat jadi mantan. “Saya mau kita putus.”
“Nggak! Nggak! Aku nggak mau kita putus, Ken.” Rania menempelkan jari telunjuknya di permukaan bibir Kennath, seakan tengah membekap mulut lelaki itu agar tidak mengeluarkan satu kata pun. “Jangan ngomong kayak gini lagi, ya ... aku nggak akan setuju kita putus,” lanjutnya dengan mata yang sudah memerah. Bibir bawahnya berkedut menahan tangisan yang memaksa untuk dikeluarkan.
Rania tahu, besar kemungkinan peristiwa perpisahan dalam jalinan hubungan pasti akan terjadi di hidupnya. Baik itu dengan Kennath, atau dengan siapa pun yang memiliki hubungan dengannya. Dia pasti akan merasa kehilangan juga. Rania sudah mewanti-wanti hal ini, tapi dia belum ada persiapan sedikit pun untuk terima dengan hati tabah.
“Saya rasa keputusan saya sudah tepat, dan kamu juga nggak ada hak untuk menahan kepergian saya di kehidupan kamu.”
“Tapi kenapa? Kamu rasa kita udah nggak cocok lagi, begitu? Lantas selama tujuh tahun kita pacaran itu bisa diabaikan gitu aja cuma karena kamu yang merasa kita nggak cocok lagi?” Napas Rania tercekat. Merasakan tenggorokannya kering dan menyakitkan. Dadanya begitu sesak dan perih secara bersamaan. Rania tak kuasa menahannya.
“Selain itu, saya juga sudah muak dengan kamu.”
Seketika suasana di dalam mobil berubah menjadi panas. Bahkan AC dengan suhu tinggi pun tidak membantu mendinginkan atmosfer gerah yang mendukung meningkatnya rasa dongkol di hati Rania.
Setitik air bening perlahan turun dari sudut mata kiri Rania. Nyatanya, pertahanan dia runtuh hanya karena alasan yang diberikan Kennath. Terlebih hatinya juga terlampau sakit mendengar kejujuran dari pria tersayang yang senantiasa menemaninya selama tujuh tahun ini.
“Oke. Kalau memang itu alasan kamu, aku setuju kita putus.” Tak tahan dengan pandangan yang memburam. Rania mengusap asal wajahnya untuk menghapus air mata yang menumpuk di pelupuk. Gadis itu buru-buru melepaskan seat belt, lalu keluar mobil setelah berucap, “Terima kasih atas tumpangannya.”
Malam ini, Rania akhirnya resmi jomblo. Kakinya melangkah cepat menuju unit apartemen. Sembari berjalan, ia berpikir keras.
Sekarang, bagaimana caranya dia bisa move on dari mantannya yang tak lain adalah rekan kerja sendiri yang berada di satu ruangan pula dengannya. Apa dia bisa segera melupakan sang mantan jika terus-menerus bertemu dengan sosok itu?
Sumpah! Demi apa pun Rania pasti tidak akan mampu melewati ini semua.
“Apa gue resign aja, ya?”
***
Berry comeback~
Gimana kabar? Pasti baik-baik aja dong, ya. Akhirnya Berry melahirkan satu karya lagi, ahahah. Semoga kalian jatuh cinta sama mereka semua, ya.
Oke deh, sampai jumpa besok di bab 1 >.<
YOU ARE READING
Perasaan Untuknya
Romance"Jika mencintaimu adalah kejahatan kriminal. Maka aku rela berada di penjara jika hal itu berhasil membuatmu percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu." * * * Nama aplikasinya Move On, di mana ada misi yang tersedia untuk para penggunanya agar bisa...
