Paradoks Untai Syair DNA

219 7 0
                                        

Aku, teraktivasi dari kumpulan kerja sama gen yang disentuh lingkungan duniawi

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku, teraktivasi dari kumpulan kerja sama gen yang disentuh lingkungan duniawi.
Aku, secara naluri menggunakan seluruh aspek diri demi mempertahankan aktivasi hidup yang diberi.
Aku, entah sejak kapan mengklasifikasi beda diri dengan sekitar, sadar akan pembatas intra dan inter.
Aku, merasa sombong menggunakan fungsi luhur tertinggi, mulai berani mencari tak hanya sekadar diberi.

Aku yang kini mulai berlari, melesat cepat tak terkendali.
Aku yang melambung ke atmosfer semakin tinggi, mendadak terhempas ke dasar oleh gravitasi.
Aku yang penyangkal tingkat tinggi, tak peduli berpikir di tengah lautan api.
Aku yang menyala menerangi seluk-beluk negeri, mencari hal tak pasti hingga akhirnya berpikir untuk kembali.

Ya, aku... si pencari jati diri yang berujung tersesat merasa frustasi.


Setiap manusia dilahirkan berbeda, diberkahi keunikan warna masing-masing. Pernyataan klise penggiring opini yang membuat kita merasa begitu istimewa. "Aku memang berbeda dari yang lain, aku  ini unik dan istimewa." Pernyataan yang selalu kucoba cari validitasnya, berujung pada jawaban Ya sekaligus Tidak.

Paradoks.

Iya, kita berbeda. Tidak, karena nyatanya kita sama saja. Paradoks, di mana situasi pernyataan ini benar sekaligus salah di saat yang bersamaan. Paradoks manusia sebagai makhluk kontradiktoris.

Jika kalian bertanya sejauh apa perbedaan dan persamaan kita, mari menjelajah mulai dari bagian terkecil yang menyusun identitas diri kita. Gen.

Setiap orang pasti memiliki perbedaan susunan kode basa nitrogen dalam untaian DNA mereka antara satu dengan yang lain. Bahkan, kembar identik yang mulanya berasal dari satu zigot dengan presentase kemiripan 99,9% pada DNA-nya, masih memiliki perbedaan walau hanya 0,1%. DNA sebagai barcode pembeda identitas setiap individu.

Mengapa kita bisa berbeda?
Jawabannya sederhana, genetic diversity. Keanekaragaman variasi gen.

Takdir memainkan perannya dengan baik, menentukan bagaimana gen ayah dan ibu kita diacak untuk dapat disusun kembali membentuk diri kita. Inilah mekanisme randomisasi crossing over, atau yang biasa disebut dengan pindah silang kromosom.
Kromosom ayah yang ada di sperma serta kromosom ibu yang ada di ovum, bertemu menjadi satu, melebur membentuk zigot.

Di sinilah nasib kita digambling. Kromosom XX wanita atau XY pria; gen pengatur produksi melanin yang menentukan warna kulit, mata, rambut; gen pertumbuhan dan perkembangan untuk tinggi badan, bentuk wajah, produksi hormon; dan seluruh hal lain; semuanya digambling berdasarkan sifat warisan yang dimiliki ayah atau ibu kita.

Kita yang berbeda satu sama lain dari susunan genotipe, tentu saja menimbulkan perbedaan tampilan luar pula,  gradasi fenotipe. Itulah mengapa wajahku berbeda dengan wajahmu. Berbeda dengan wajah mereka, dan berbeda dengan wajah miliknya. Sidik jari, iris mata, warna suara, contoh penanda identitas yang memiliki keunikan tersendiri antara satu dengan yang lain.
Jika ayah dan ibumu memiliki ras Asia, tidak mungkin kau menjadi Eropa. Jika kedua orang tuamu berambut pirang, tidak mungkin kau berambut hitam.
Begitu polanya, kan?

Breaking the Paradox of LifeStories to obsess over. Discover now