Dasva|ENDโœ”

By ryndadyn

642K 37K 1.8K

Meskipun udah end, tetap vote ya๐Ÿ˜„ Bercerita tentang laki-laki menghadapi orang tua yang serba overprotective... More

2
3
4
5
New Story
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
New Story
38
39
40
41
42
43
44
NEW STORY AGAIN๐Ÿ•Š
45|Extra Part

1

66.5K 2.6K 16
By ryndadyn

~Enjoy it guys~

"Adek bangun!" Seru Nadia membangunkan anak semata wayangnya dengan mengetok pintu kamar berwarna hitam.

"Adek udah jam 7 kamu udah telat!" Teriaknya lagi.

"Adek nggak mau sekolah!" Jawab seseorang dari dalam kamarnya. Segera Nadia membuka pintu kamar itu dengan keras.

"Bagus ya jam segini masih tidur nggak mau sekolah lagi." Ucap Nadia dengan menjewer telinga anaknya itu.

"Aduh bunda sakit. Iya, ampun bunda." Balas sang anak dengan mengusap telinga kanan yang sudah terlepas dari tangan bundanya.

"Sekarang mandi terus berangkat sekolah. Cepetan!" Perintah Nadia. Seperti perintah mutlak sang anak segera berlari ke arah kamar mandi yang terletak di dalam kamarnya itu. Nadia hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan sang anak yang tak pernah berubah padahal sudah berumur 16 tahun.

"Halo bunda." Sapa seorang laki-laki yang menuruni tangga dengan memakai jam tangan di lengan kirinya.

"Mau sarapan di rumah apa sekolah?" Jawab Nadia.

"Sekolah aja nda. Adek berangkat." Kata anak itu dengan mencium tangan bundanya.

"Hati-hati." Balas sang anak.

"Samlekom!" Teriak laki-laki itu dengan berlari menuju garasi rumahnya.

"Dafa yang bener salamnya!" Emosi Nadia meneriaki anaknya itu. Dafa yang mendengar hanya terkekeh karena baginya mengusili bundanya itu sudah menjadi kebiasaannya.

✖✖

Deru motor itu seakan membelah jalanan ramai ibu kota. Dafa si pemilik nama itu dengan santainya mengendarai motor dengan kecepatan stabil padahal saat ini jam sudah menunjukkan setengah delapan.

"Pak Rudi bukain pintunya!" Seru Dafa saat ia sampai di depan gerbang SMA Alsky. Seorang yang dipanggil namanya pun hanya mendengus kesal dengan tetap membukakan pintu gerbang untuk Dafa.

"Terima kasih pak." ucap Dafa saat ia melewati Pak Rudi dan segera memarkirkan motor ninjanya.

"Dafa!" Seru seorang memanggil nama Dafa, tapi anak itu tetap berjalan menuju kelasnya.

"Dafa! Saya manggil kamu!" Serunya lagi. Dan lagi Dafa tetap berjalan.

"Keterlaluan kamu Dafa!" Serunya menghampiri Dafa dan menarik tas ransel yang ia sampir di bahu kirinya membuat Dafa hampir terjungkal.

"Apa sih bu?" Tanya Dafa dengan melepas earphone dari lubang kedua telinganya.

"Pantas." Gumam Bu Rani yang tadi meneriaki nama Dafa.

"Ikut saya." Ucap Bu Rani yang dibalas anggukan oleh Dafa.

"Kamu sudah banyak melanggar peraturan di sekolah ini Dafa." Ucap Bu Rani. Mereka saat ini ada di ruang BP. Nama Dafa sudah menjadi nama buronan di kalangan guru BP sekaligus blacklist.

"Saya tahu." Jawab Dafa santai.

"Kamu masih kelas 10. Tapi sudah membuat banyak masalah." Lanjut Bu Rani.

"Saya memang kelas 10. Bukan kelas 11." Ucap Dafa.

"Selalu saja menjawab." Balas Bu Rani.

"Saya diam." Ucap Dafa.

Ini keajaiban Dafa. Selalu seperti ini. Entah watak itu menurun dari siapa. Orang tuanya bahkan sudah angkat tangan dengan kelakuan Dafa.

"Ubahlah sikap kamu, saya bisa mempertahankan kamu sampai saat ini karena kamu memiliki prestasi yang mambanggakan."

"Saya tidak janji."

"Ini surat untuk orang tua kamu. Saya harap ada waktu luang orang tua kamu untuk datang ke sekolah."

"Saya permisi."

✖✖

"Daf oy!" Sapa Kevin teman Dafa saat temannya itu berjalan dari arah pintu.

"Kev woy!" Jawab Dafa dengan salam high five.

"Telat lu?" Tanya Leon menghampiri kedua temannya.

"Jangan tanya Dafa telat apa nggak." Jawab Kevin yang dibalas kekehan oleh Dafa.

"Surat orang tua?" Tanya Leon saat melihat surat itu diletakkan di atas meja milik Dafa.

"Kenapa lagi lu?" Tanya Kevin menatap Dafa yang sedang memainkan handphone.

"Sikap." jawab Dafa singkat. Kevin dan Leon pun paham betul tentang jawaban Dafa.

✖✖

"Gimana caranya gua ngasih surat ini ke bunda?" Gumam Dafa. Sudah sekitar satu jam saat ia pulang dari sekolah dan langsung menuju kamarnya. Ia takut memberi surat itu ke orang tuanya.

"Dafa makan dulu. Bunda tunggu di bawah." Ucap Nadia mengetuk pintu kamar membuyarkan lamunan Dafa.

"Iya bunda." Jawab Dafa segera menyembunyikan surat itu di bawah bantal miliknya.

"Makan yang banyak." Ucap Nadia saat anaknya sudah duduk di kursi meja makan

"Siap ibu negara." Jawab Dafa.

Setelah selesai makan siang dan mandi Dafa melangkah ke arah ruang keluarga. Ia berencana untuk melihat berita bola atau sekedar melihat acara yang menarik untuk di tonton.

"Ganteng banget anak bunda." Ucap Nadia. Dafa pun menoleh ke arah Nadia.

"Iya dong Dafa gitu loh." Balas Dafa dengan pedenya.

"Ini bantal biar nggak pusing." Lanjut Nadia memberi bantal persegi untuk anaknya. Memang saat ini ia tiduran di atas karpet depan tv.

"Iya bunda."

"Bunda mau bersih-bersih dulu." Pamit Nadia.

"Oke bun." Jawab Dafa.

Malam ini, Dafa disidang oleh kedua orang tuanya. Dafa yang duduk di ruang keluarga hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia sangat takut dengan ayahnya saat menatap dirinya dengan penuh amarah.

"Bisa jelaskan apa yang sudah kamu lakukan Dafa?" Tanya Andre dengan tatapan dinginya. Yang ditanya hanya menelan susah salivanya.

"Dafa ayah bicara sama kamu." Ucap Andre dengan nada datarnya. Ia bukan ayah yang suka main tangan jika anak bersalah. Ia adalah ayah yang akan lebih memilih mengintrogasi anaknya jika bersalah tak peduli jika anaknya akan pingsan nanti yang terpenting sekarang ia harus mendidik anaknya untuk selalu jujur kepada orang tuanya.

"Bunda dapat surat ini saat bersihkan kamar kamu." Nadia membuka pembicaraan dengan meletakkan surat orang tua itu di atas meja.

"Maaf." Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Dafa.

"Hanya maaf tidak mau menjelaskan?" Tanya Andre menatap Dafa.

"Ya sudah." Kata Andre mengakhiri saat Dafa tidak mau juga menjelaskan dengan beranjak dari ruang keluarga. Dafa hanya dapat melihat kepergian ayahnya. Ia tau bahwa ayahnya sangat kecewa terhadap dirinya.

"Jelaskan jika terasa sudah siap. Jangan coba berbohong dengan ayah dan bunda." Pesan Nadia sebelum meninggalkan Dafa seorang diri.

"Ayah." Sapa Dafa membuka pelan pintu kerja milik ayahnya.

"Apa?" Tanya Andre tanpa mengalihkan pandangan dari laptop di hadapannya. Dafa pun menghampiri ayahnya dengan langkah pelan.

"Maaf." Ucap Dava. Andre pun masih diam tak menanggapi. Ia hanya ingin anaknya sadar atas kesalahannya.

"Maaf kalau Dafa udah bikin ayah kecewa." Lanjut Dafa. Andre masih diam dengan tatapan masih menuju laptop. Sebenarnya perhatiannya tidak sepenuhnya pada benda itu.

"Dafa ngerokok yah. Maaf." Seperti bom yang meledak. Andre dengan cepat memandang anaknya yang berdiri tidak jauh darinya.

"Apalagi kesalahan yang kamu buat?" Tanya Andre menyenderkan punggungnya di kursi kerjanya dengan menatap sang anak yang menundukkan kepalanya lebih dalam.

"Dafa bolos les." Jawab Dafa semakin tak karuan. Ia yakin ayahnya sangat marah saat ini.

"Masuk kamar jangan keluar sebelum ayah perbolehkan keluar." Ucap Andre. Dafa pun hanya bisa menuruti perintah ayahnya.

-

Next? Comment and vote.

Salam Rynd🖤

Continue Reading

You'll Also Like

1.6M 94.8K 52
(FOLLOW SEBELUM MEMBACA) DON'T COPY MY STORY! Namanya Kirana Alanza.Putri satu-satunya dari keluarga Mahardinata, memiliki lima Abang yang sungguh po...
22.6K 1.3K 31
"Disini. Semua nya kosong Pa, Ma." Erlang menunjuk hatinya dan menatap Papa dan Mama nya bergantian. Keluarga bukanlah tempat yang hangat bagi Erlan...
2.5M 182K 39
Arion si bocah berpipi bakpao yang kadar gemasnya sudah tak bisa lagi diukur. Bersama Ayah dan abang-abangnya yang tampan, Arion menyusuri hidup deng...
645K 50.6K 25
Keberadaan Dafin sangat berharga untuk Dean. Begitu pula sebaliknya. Sepeninggalan kedua orang tua mereka, mereka harus menjalani kehidupan hanya ber...
Wattpad App - Unlock exclusive features