Dua makhluk berbeda jenis itu masih bergelung dalam selimut. Berpelukan sangat erat, menghalau rasa dingin. Sinar matahari muncul malu - malu melewati sela jendela. Mata kedua makhluk tersebut mengerjap pelan karena terusik dengan sinar yang tampak mulai terang.
" Morning sayangku, cintaku, belahan jiwaku "
Naina membalikan badan " Mas jangan berisik. Nai capek "
Brian tersenyum miring " Mau lanjut lagi? " Brian sukses membuat Naina bangkit dari tidurnya dan melotot tajam.
" Dalam mimpi " Brian tertawa kencang hingga mengema dalam ruangan. Naina turun ranjang dan masuk kekamar mandi, mengabaikan suaminya yang mendadak mulai gila.
Brian menghentika tawa saat Naina menutup pintu kamar mandi. Dia suka sekali menggoda Naina, karena wajahnya tidak akan bersemu kecuali jika dia dicium. Membayangkan kejadian kamarin malam saja Brian sudah puas. Memang dia belum mendapat jatah tapi dia mendapat ciuman yang sangat mengebu dan terasa ganas. Brian tersenyum sendiri saat mengingat betapa rakus nya Naina saat melahap habis bibir penuh-nya. Bunyi decakan mengalun merdu membangkitkan gelora mereka yang terpendam. Sampai akhirnya mereka kehabisan oksigen.
Wajah Naina memerah dan bibirnya bengkak. Menabjukan cuy. Brian bersiul senang hingga mereka terlelap berlari kedalam alam mimpi.
Deringan telepon mengusik lamunannya. Diliriknya jam weker menunjukkan pukul 07.15
Aku berangkat dulu
Diambilnya handphone terdapat pesan dari Naina. Dia berpikir Naina seperti wanita panggilan yang pergi sebelum pelanggannya bangun. Brian menggeleng keras. Giginya bergemeletuk jika itu sampai terjadi.
Naina hanya miliknya. Selamanya hanya milik Brian seorang.
★★★★★
Naina bersenandung pelan memasuki gerbang sekolah. Wajahnya tiba - tiba bersemu merah mengakibatkan dirinya berhenti melangkah.
Dia terkikik pelan seraya menggigit bibir bawah pelan. " Naina, Jangan berpikir mesum! "
Naina meringis pelan. Suara itu memang bernada pelan tetapi melihat area yang terbilang cukup mengkhawatirkan itu, Naina ingin memukul kepala sang Pria dewasa yang berdiri menjulang di depannya.
" Nai, gue gak bisa tidur gara - gara suara berisik di sebelah kemarin. Untung iman gue kuat! "
Naina melotot tajam.
Apa ruangannya tidak kedap suara?
Jadi suara aneh kemarin terdengar oleh mereka?
Oh Naina, taruh mana muka loe?
Alan tertawa " Loe masih gadis apa udah kebobol? " Alan berbisik di depan Naina. Karena kaget Naina mundur selangkah " Masih! " Naina menolehkan kepala kekanan kekiri takut ada yang mendengar.
" Gak takut Brian jajan diluar? "
Naina segera meninggalkan Alan yang masih memanggilnya. Pertanyaan Alan terekam jelas dipikirannya.
Gak takut Brian jajan diluar?
Kepalanya menggeleng cepat, menghalau pikiran tersebut.
Koridor yang tampak kosong membuat Naina bebas berjalan bagai zombie. Pandangannya lurus tak tertembus. Bibir bawahnya dia gigit tanpa memikirkan rasa sakit. Hatinya bergemuruh ingin meledak.
Perkataan Alan membuatnya kehilangan gaya hidup. Pikirannya berkecamuk tak terarah.
" Bagaimana ini? " Pertanyaan yang hanya bisa dia ucapkan tanpa bisa melakukan hal yang berguna. Matanya berkabut. Naina masuk sambil mengebrak pintu.
Tubuh Naina mematung melihat sosok pria yang berdiri tegap didepan whiteboard. Kemeja biru yang licin melekat si badannya yang kekar. Pikiran Naina berkelana jauh saat melihat pria itu. Mulutnya mendadak kelu hanya untuk berbicara.
Dimulai atas kepala sampai ujung kaki yang terlapisi sepatu hitam mengkilat. Bayang - bayang khayalan saat pria tersebut mencium wanita, memeluk wanita dengan tubuh besar dan hangatnya, ataupun jemari yang dengan lincah menyusuri tubuh seorang wanita.
Oh berhenti! Gue gak sanggup kalau itu terjadi!
Mas Brian milik gue! Selamanya milik gue, Naina istrinya.
Tanpa sadar Naina menggelengkan kepala cepat, berharap menghalau pemikiran yang erotis itu menghilang tanpa jejak.
" Kamu kenapa? "
Brian menatap Naina lekat. Mencari suatu masalah yang mungkin sedang mengganggu nya. Kepalanya miring sedikit menatap Naina.
Naina menggeleng dan mengangguk. " Permisi dan maaf " Naina merutuk suaranya yang terdengar serak. Ditundukkan kepalanya dan melangkah maju untuk segera duduk.
Brian masih menatap punggung Naina yang berjalan tergesa - gesa seperti sedang menghindarinya. Hingga Brian melihat satu titik air mata meluncur di wajah cantiknya. Dia berusaha mengingat apa yang sudah dia lakukan sampai istrinya menangis?
Dia merasa seperti iblis yang membiarkan air mata itu jatuh tanpa berani mengusapnya, tanpa berani menghampirinya dan memeluknya serta mengucapkan kalimat mantra -semua akan baik - baik saja-
Helaan nafas panjang menuntunnya untuk duduk di kursi. Sejenak Brian menatap satu persatu murid didik nya.
Bangku deretan pertama.
Bangku tempat murid perempuan yang selalu melirik nya secara diam - diam. Kebanyakan dari mereka memiliki otak yang diatas rata - rata.
Bangku deretan kedua.
Bangku yang terkenal dengan kritikannya. Mulut pedas adalah andalan mereka.
Bangku deretan ketiga.
Deretan yang netral, dimana mereka saling acuh dalam hal pelajaran tapi untuk kerja sama antar kubu deretan bangku mereka jagonya.
Bangku deretan keempat.
Wajah laki - laki mendominasi deretan tersebut. Wajah pertama laki - laki yang bisa membuat kagum seorang Brian. Dengan pelafalan kata yang masih minim, dia bisa membuktikan bahwa dia mampu untuk go internasional.
Deretan kelima.
Dimana bidadari cantik sedang bersandar di dinding putih dengan memejamkan mata. Tampak seulas senyum tipis dia suguhkan untuk Brian. Wajah yang sudah menemaninya selama ini disaat dia menginginkan kasih sayang dan harapan. Wajah yang bersemu merah disaat dia malu maupun memendam kekesalannya.
Brian bangkit dari duduknya, melangkah pasti berdiri di depan kelas. Dia berdeham meminta agar semua memandangnya, walaupun dia tahu sejak tadi mereka menatap guru Bahasa Inggris nya lumayan aneh.
" Bapak mau minta maaf " Mata Brian mengitari seluruh ruang kelas yang sepi. " Kalian boleh mengusir Bapak dari sini! " Tatapan terkejut melingkupi wajah mereka.
Mereka pasti berfikir bahwa gurunya sedang bercanda tapi melihat raut muka Brian yang serius membuat mereka yakin dia tidak main - main dengan perkataanya.
" Kenapa Bapak bicara seperti itu? " Reno berbicara lantang sambil memegang kamus Bahasa Inggris, mengayun nya keudara. " Apa gunanya saya mati - matian belajar ini? "
Rahang Reno mengeras. Emosinya tersulut mendengar perkataan guru yang selalu menjadi panutannya. Guru yang dengan senang hati merentangkan tangan untuk membantunya melewati masa tersulitnya.
" Sorry to leave you " Reno mengepalkan tangan hingga buku jemarinya memutih. Dia hanya memendam rasa amarah dengan menghembuskan nafas berat yang tak beraturan.
Penghuni kelas pun melakukan hal yang sama. Sama - sama tak bisa melakukan apapun.
Mereka kecewa dengan apa yang Brian lakukan, tetapi mereka juga sayang dan percaya kepadanya.
" Kalau Bapak mau pergi, ya udah pergi saja! " Devan yang duduk di sebelah Ajeng menjitak kepalanya. Mata Ajeng menatap tajam menghunus jantung.
Ajeng mendengus " Bukan waktunya bercanda " Terdapat penekanan dalam cara bicaranya.
" Gue tahu tapi kalau memang Pak Brian udah gak mau mengajar kita ya udah kan " Devan yang sudah kesal melempar buku kebelakang tanpa tahu kalau buku tersebut melenceng hingga terkena kepala Naina.
" Waduh kepala gue " Naina berteriak keras hingga mereka memandang nya. Devan dibuat kaget hanya meringis pelan. " Nai sorry " Cicit Devan kemudian.
Naina melempar buku Devan melalui jendela. Semua mata melotot tajam tak percaya. " Ambil sendiri kebawah! " Devan pasrah, mulai bangkit dan berjalan keluar mengambil buku nya.
Brian memandang Naina yang tampak berbeda hari ini. Mata hitamnya hanya memandang langit biru yang terhalang jendela. Air mata yang berbekas di pipinya sudah mengering. Sesekali dia menunduk hanya ingin mengistirahatkan kepala dengan bersandar di dinding.
Tak lama mata mereka bertemu. Brian tersenyum tulus berharap mendapat respon yang sama, tapi diluar dugaan Naina mengalihkan matanya menuju jendela kembali. Brian memejamkan mata dan mengacak - acak rambutnya sesekali menjambak kasar. Berharap kepalanya tak menyemburkan api kemarahan.
Devan kembali dengan nafas terengah - engah. Dia menuju kursinya untuk duduk.
Naina membuka suara " Loe tahu itu buku apa? "
" Bahasa Inggris " Devan menjawab cepat.
" Loe masih gak rela kan sama guru itu? " Kepala Devan berputar untuk menghadap Naina. " Kalau loe rela, pasti loe bilang 'biarin gue gak peduli sama tuh buku!' Ya kan? " Seratus persen benar. Devan tersenyum samar kemudian mengangguk.
" Jadi silahkan lanjutkan. Gue mau tidur. Kalau mau berantem, bangunin gue! " Naina mulai menelungsup kan kepalanya dengan berbantal kedua lengan yang terlipat. Dipejamkan nya mata yang mulai berat. Dia hanya ingin tidur.
Brian yang berdiri di depan mulai ragu untuk bicara. Pasalnya mulai dari Devan masuk, mereka seakan tidak memperdulikan gurunya yang berada di depan.
" Kenapa Bapak masih berdiri saja? "
Itu ejekan! Rudi sialan!
Ingin sekali Brian memiting kepala bocah begajulan itu, tapi mengingat pertemuan hari ini yang dia rasa menguras tenaga sehingga diurungkan nya.
Tunggu tanggal main saja!
" Bapak gak capek apa? " Brian hanya menggeleng. Dalam hati dia mati - matian bertahan demi muncul kata 'maaf' meluncur dimulut mereka.
" Bapak kita dari dulu percaya kok sama Bapak. Jadi silahkan duduk, saya gak mau Bapak pingsan! "
" Kalian semua mau memaafkan Bapak? Gak ada paksaan? "
Mereka menggeleng serempak, tersenyum lebar hingga menular ke Brian. Dia bersyukur bahwa murid didik nya mau memberikan kepercayaan lagi untuk nya.
Benar kata Naina, 'mereka semua telah memberi kepercayaan untukmu, maka katakan sejujurnya saja'.
Brian tersenyum sayu " Terimakasih sudah percaya " Dia mengambil nafas " Bapak janji gak akan meninggalkan kalian lagi "
Yah dia berjanji untuk tidak meninggalkan mereka terutama gadis yang tengah tertidur pulas. Meskipun dia tahu suatu saat nanti rahasia terbesarnya terbongkar, dia tetap berjanji tak akan pernah meninggalkan mereka.
Aakh... tidak...
Brian terkejut mendengar suara teriakan yang dia yakini adalah suara istrinya. Dia segera berjalan cepat untuk menghampirinya.
" Kamu kenapa? " Ada raut ketakutan saat Naina mendongak menatap Brian. Pandangan nya tampak kosong seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Naina menggeleng tanpa bersuara. Brian menyentuh dahi Naina " Badan kamu panas "
Naina terpekik mendengar jeritan Brian.
Jelas - jelas badan Naina memang hangat karena terlalu lama tidur dengan berbantal lengannya sendiri. Naina memutar bola mata malas " Saya gak apa - apa Pak "
Brian mulai mengendong Naina seperti pasangan pengatin. " Saya punya pacar saat dia sakit begini, dia nekat jalan jadi kening nya benjol, saya gak mau kamu benjol "
Naina bersemu merah.
Bukan karena sakit tapi karena perhatian Brian.
Pacar?
Mungkin itu lebih baik. Sebutan yang masih bisa dekat dengan pasangan hidup daripada saudara sepupu. Gak etis! Tapi itulah keadaan nya.
Naina memejamkan mata menikmati aroma parfum Brian. Sesekali dia tersenyum senang. Dalam hati dia berteriak 'Kapan lagi bisa digendong begini, disekolah pula?'
Naina tak peduli jika besok dia akan dapat pem-bully-an. Itu urusan nanti, dia hanya ingin menikmati apa yang sudah dia dapat. Entah karena sangat harum nya tubuh Brian atau apa hingga Naina memberi sebuah kecupan di leher Brian.
Di sepanjang koridor Naina melingkarkan tangan nya di leher Brian. Dia mendengar kekehan Brian tapi tidak dihiraukannya. Baginya aroma feromen Brian lebih sedap dari pada mengikuti lelucon Brian. Dan disepanjang koridor saksi bisu dua sejoli sedang menyalurkan kehangatan satu sama lain.
★★★★★
Brian terkekeh pelan mendengar asumsi Naina.
Jajan diluar?
Itu pemikiran saat dia berusia dua puluh tahun. Brian tersenyum senang saat Naina mengatakan bersedia bahwa dia siap melakukan kewajibannya. Tapi Brian malah mengacak - acak rambut Naina pelan.
" Mas bukan gak mau, tapi Mas ingin seutuhnya saat kamu sudah lulus nanti sayang "
Naina memberengut tak suka " Ntar Mas jajan diluar, Nai gak mau " Bibirnya mengerucut. Satu kecupan lembut menyambar bibir Naina.
" Dengerin aku! Aku gak akan lakuin itu. Aku akan tahan sampai kamu siap. Slow but sure, baby "
Naina tersenyum mencium pipi kiri Brian. Dia duduk dipangkuan Brian membuatnya leluasa untuk melancarkan aksinya. Ruangan Brian yang luas mendadak sepi tanpa ada suara. Kedua sejoli tampak memandang satu sama lain. Mencoba menyelami apa yang sedang mereka pikirkan.
Kening mereka bersentuhan " I love you, sayang "
Naina tersenyum " Love you more, suamiku "
Mereka tidak tahu bahwa ada beberapa orang akan menghancurkan mereka termasuk orang terdekat mereka. Meskipun Brian tahu tapi dia sudah berjanji akan selalu berada didekat Naina, istrinya.
★★★★★
Oh no! Ada yang lagi lope2. Kabuurrrr.....
Maafkan daku kalau updatenya lama. Saya lagi baca komik Dice jadi sedikit yah terpecah konsentrasi saya. Kemungkinan update selanjutnya akan lama juga tapi tetap aku usahain cepat. Satu minggu tapi...
Dan maafkan daku kalau feelnya gak dapet.
So kritik dan saran aku tampung dengan senang hati. Jangan lupa vote. Makasih buat para pembaca yang selalu setia stay cerita saya yang abal - abal ini.
Love
Master