Satu

25 5 0
                                        

"Ayah..." teriak gadis kecil dengan suara khasnya dan membuat yang dipanggil menoleh lalu mencium kening putri kecilnya.

"Ada apa" tanya Widarda yang dikenal ayah dari Alesha Putri Widarda atau Echa seraya berjongkok untuk menyamakan tinggi keduanya.

"Echa mau tidur" rengek Echa kecil.

"Echa kan sudah besar, Echa harus belajar tidur sendiri ya" ucap Widarda sambil mengelus kepala Echa pelan.

"Echa takut ayah" Widarda hanya tersenyum kecil menanggapi putrinya yang satu ini, pasalnya Echa adalah anak perempuan satu-satunya membuat Echa menjadi sedikit manja.

Namun kedua orangtuanya mendidiknya untuk tidak manja dan senantiasa mandiri meskipun Echa masih berumur 8 tahun.

"Tidur ya" ucap Widarda sambil mencium kembali kening putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Baiklah,selamat malam ayah" pamitnya pada Widarda.

******

Echa terbangun dari lelapnya dengan keringat dingin yang mengalir di setiap pelipisnya dan nafas yang hampir tak beraturan membuat Echa mengusap setiap keringat yang mengalir disekitar wajahnya. Ternyata ia hanya bermimpi.

Alesha Putri Widarda atau biasa dipanggil Echa ini dianugerahi wajah yang cantik,kulit putih langsat,hidung yang mancung serta senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya ditambah pipi yang chubby membuat dia tampak menggemaskan meskipun ia sudah melewati masa-masa remaja. Membuat siapapun yang melihat Echa tak memalingkan pandangannya.

Kini Echa beranjak dewasa. Ia bukan lagi Echa kecil yang menangis jika tak dibelikan balon karakter. Umur Echa akan menginjak 17 tahun pada bulan Januari.

"9 tahun yang lalu" Echa tersenyum pahit mengingat kejadian yang pernah ia alami di masa lalunya dengan sedikit keterpurukan.

"Echa... Bangun shalat tahajud dulu" teriak mama Echa dari lantai bawah membuat Echa tersadar dari lamunannya yang sempat memikirkan mimpi yang baru saja datang padanya.

Ia tak percaya dalam keheningan malam ia didatangi ayahnya dalam sebuah mimpi yang dimana Echa sangat menginginkan sosok ayahnya hadir meski dalam sebuah mimpi. Dan Tuhan mengabulkan permintaan nya malam ini.

"Iya ma Echa udah bangun" Echa bergegas ke kamari mandi untuk mengambil air wudhu.

**********

"Assalamu'alaikum warahmatullah" tengok Echa ke arah kanan. Salam pertama Echa dalam shalat malamnya dan melakukan hal yang sama ke arah kiri untuk salam keduanya.

Setelahnya Echa mengangkat kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamarnya dan mulai berdoa dengan hati tulus.

"Tuhan.. terimakasih telah mempertemukan kembali Echa dengan ayah meskipun dalam mimpi, Echa sangat merindukannya, Echa banyak bersyukur Engkau masih mempersatukan Echa bersama orang-orang yang Echa cintai yaitu mama dan bang Acha."

Tangis Echa pecah seketika. Ia menangis sesenggukan,bahunya berguncang hebat menahan rasa sakit. Kenangannya di masa lalu mendobrak pertahanan hati Echa.

Tak lama setelahnya pintu kamar Echa terbuka, dengan cepat Echa menghapus tangis di wajahnya karena ia tahu siapa yang datang ke kamarnya.

Lelaki kedua setelah ayahnya. Ali Rasya Widarda, anak pertama dari keluarga Widarda, Echa kerap memanggil kakaknya dengan panggilan bang Acha. Usia mereka hanya terpaut 5 tahun.

"Bang Acha ada apa" tanya Echa.

"Kamu jangan nangis lagi Abang gak suka liat perempuan nangis" tuturnya.

"Echa gak nangis"

"Cha..Abang ini kakak kamu, Abang tau kamu" ucap Acha lembut.

Echa memeluk Acha dengan erat ia menangis dalam dekapannya, dengan segera Acha membalas dekapan adiknya dengan mengelus punggungnya lembut berusaha menenangkan.

CHA Stories to obsess over. Discover now