Ini Aku yang Menceritakanmu

7 1 0
                                        

Kamu adalah kamu. Ibarat bunga, kamu hanyalah bunga edelwis diantara bunga mawar dan lily. Kamu hanya sebuah bunga yang biasa saja, tak menarik bahkan memikat. Kamu hanya lah sebuah bunga yang saat tertiup angin akan langsung terbang. Namun kamu memiliki keindahan tersendiri. Memiliki ketertarikan sendiri, yang membuat lebah akan datang menghampiri.

.

.

.

Hari itu udara terasa sangat dingin, angin berhembus dengan kencang membuat suasana terasa sangat membekukan. Seperti dirimu yang begitu dingin dan membekukan, begitu jauh dan sulit untuk diraih. Kamu berdiri ditepi jalan, menunggu kedatangan seseorang, sesekali mata tajammu itu melirik kearah jam tangan yang bertengger indah di pergelangan tangan kiri mu.

Siapa yang kamu tunggu?

Aku datang kembali ketempat itu beberapa hari kemudian, aku berdiri ditempat yang sama, posisi yang sama, dijam yang sama, namun dengan cuaca yang berbeda.

Dihari itu udara terasa sangat sejuk, matahari terlihat bersahabat, cahaya sangat menghangatkan. Aku berdiri menunggu, berharapan akan melihat dirimu kembali. Kemudian kamu datang, berdiri ditempat yang sama, di jam yang sama, dan posisi yang sama. Kembali aku melihat bahwa kamu tengah menunggu.

Aku benar-benar ingin tau siapa yang kamu tunggu.


Kemudian aku memberanikan diri untuk menghampirimu dan menyapamu, walau pada akhirnya hanya di balas dengan padangan tajam yang menusuk. Namun aku tetap tersenyum, berusaha terlihat ramah di hadapanmu. Berharap kamu akan membalas sopan santunku. Walau hanya akan dibalas dengan sekedar senyuman singkat. Karena, es saja bisa mencair, mengapa sifat tidak?

Lalu setelahnya aku mendapati diriku selalu datang ketempat itu, berdiri di tempat yang sama, diposisi yang sama dan di jam yang sama. Kemudian kamu akan datang berdiri ditempat yang sama, diposisi yang sama dan di jam yang sama.

Aku akan selalu melihatmu, memperhatikanmu. Melihat dan memperhatikanmu yang berdiri dan menghentak-hentakan kaki ketanah, kemudian melihat jam yang berada dipergelangan tangan kiri mu, lalu menghentak-hentakan kaki ketanah dan melihat jam lagi, begitu seterusnya. Namun aku masih tidak tau, siapa yang kamu tunggu. Sungguh aku sangat ingin tau.

"Hi" ucap ku padamu kala itu, di suatu hari yang cerah.

"..."

"Menunggu seseorang?" tanya ku, walau aku tau tak akan ada jawaban darimu.

Akhir-akhir ini aku tau, kamu adalah orang yang tertutup, yang tidak akan menjawab pertanyaan orang yang tidak kamu kenal. Orang-orang melihatmu seperti seorang laki-laki sombong dan dingin. Namun aku tau, itu memang sifat alami dirimu. Akan terasa sulit untuk menghilangkannya. Namun sifat itu dapat berubah, benar kan?

Kemudian belakangan aku ketahui, kamu menunggu seorang terkasih. Namun, orang yang kamu tunggu telah pergi dan tak akan kembali.

Lalu aku penasaran bagaimana bisa kamu menunggu seseorang yang telah lama pergi? Dan kamu terus menunggu dan percaya bahwa dia akan kembali. Apa memang begitu hakikatnya?

Esoknya aku berusaha bertanya kembali, dan kali ini kamu merasa jengah dan membalas pertanyaan dari ku. Seperti yang pernah ku dengar kamu menunggu kekasihmu. Walau kau tak mengucapkan bahwa dia telah pergi, aku sadari bahwa yang telah mereka katakan itu benar bahwa dia, kekasihmu, tak akan pernah kembali. Terlihat dari nada bicaramu yang terdengar begitu sedih dan merindu. Kemudian suatu pertanyaan terucap, lolos begitu saja dan keluar dari mulut ku.

"Apa kamu begitu percaya bahwa dia akan kembali?" tanya ku.

"Dia pasti datang, dia telah berjanji." ucap mu.

"Kau menunggu seseorang yang telah tiada, bagaimana caranya dia kembali?" tanya ku.

"Dia sudah pergi, kau tak perlu memikirkannya lagi, ikhlaskan kepergiannya agar dia tenang disana." tambah ku.

"Kau orang baru yang tidak mengetahui apapun jangan berlagak sok tau, jangan pernah bertanya kembali pada ku atau berbicara lagi pada ku." ucapnya lalu dia pergi.

Sejak saat itu kamu tak pernah kembali. Tak pernah sekali pun aku melihatmu berdiri ditempat yang sama, di posisi yang sama, dan di jam yang sama. Lalu aku merasa kosong, aku merasa sepi. Hingga akhirnya aku selalu datang ke tempat ini, berdiri ditempat yang sama, diposisi yang sama dan di jam yang sama.

Hingga suatu ketika, seorang laki-laki datang menghampiri ku. Dia tersenyum amat ramah dan menawan, namun aku hanya meliriknya kemudian berpaling. Aku melihat jam tangan ku lalu menghentak-hentakan kakiku ketanah, melihat jam kembali lalu menghentak-hentakan kakiku ketanah, begitu terus hingga sebuah suara mengingatkanku.

"Hi" ucap gadis itu padaku kala itu.

"..."

"Menunggu seseorang?" tanyanya lagi.

***

.s.

31.10.2020

Our MemoriesWhere stories live. Discover now