Happy reading💜
***
Raga menatap kertas yang terpampang didepan mading dengan kesal. Lagi-lagi ia sekelas dengan Maria, mantan tidak tau dirinya yang berani sekali bermain dibelakangnya. Walaupun kejadian itu sudah berlangsung lebih dari setahun, lebih tepatnya waktu ia kelas satu SMA tapi masih berbekas sampai sekarang. Lelaki mana yang tidak sakit hati ketika perempuan yang sangat dicintainya bermain dibelakang dengan salah satu musuhnya?
Raga menatap tajam orang disampingnya, lengan seragamnya basah sekarang karena kena tumpahan minuman seorang perempuan disampingnya, "MATA LO KEMANA?!" Teriak Raga kesal, dadanya naik turun. Kesalnya berkali lipat sekarang. Matanya masih menatap tajam orang yang sekarang menundukkan kepalanya.
"Maaf a-aku t-"
Raga merampas minum yang ada ditangan orang itu dan menumpahkannya ke kepala orang itu lalu berlalu meninggalkan perempuan itu dengan tangan mengepal.
Raga berjalan angkuh tak memperdulikan orang yang menatapnya ngeri dan tatapan lainnya. Ia harus lekas ke kelas dan mencari tempat duduk yang pas untuknya.
Bel berbunyi membuat semua orang yang dikelas lantas duduk dikursi pilihannya masing-masing. Mereka duduk berpasangan. Bahkan Maria— mantannya sekarang duduk dengan pacar yang entah keberapa. Hanya Raga yang terlihat duduk sendiri dipojok kelas. Kursi sebelahnya kosong, karena semuanya takut untuk duduk disampingnya. Raga pun tak memperdulikan itu. Ia malah bersyukur dapat duduk dengan tenang tanpa adanya pengganggu.
Raga bukanlah lelaki dingin ataupun introvert. Bukan pula seorang pembully yang ditakuti seluruh warga sekolah. Ia sebenarnya friendly dan ramah pada teman terdekatnya atau saat moodnya membaik. Namun, karena ia lagi-lagi sekelas dengan Maria membuat moodnya benar-benar membahayakan.
Duduk dipojokan kelas memang suatu kenikmatan dunia dan Raga tidak mau menyia-nyiakan hal itu. Dengan senyum tipis dibibirnya, lelaki itu menumpu kedua tangannya diatas meja dan merebahkan kepalanya disana. Ia mengantuk karena bermain game hingga jam 3 pagi, maka dari itu ia hendak mengisi daya tubuhnya terlebih dahulu.
***
Di toilet wanita, Renjana berusaha menghilangkan noda merah di bajunya. Gara-gara tidak sengaja menyenggol teman sekelasnya hingga membuat minuman kemasannya tertumpah sedikit, ia jadi diguyur balik. Gadis itu menghela napas lelah, noda merah tak kunjung hilang dan bajunya yang semakin lama mengering. Bel sudah berbunyi sedari tadi, namun bukan itu yang Renjana khawatirkan. Ia malah terus memikirkan dirinya yang tak sempat meminta maaf pada orang itu.
Renjana tersentak kaget ketika mendapati sosok wanita tersenyum dicermin. Dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya, namun tak ada siapapun dibelakangnya. Gadis itu menghela napas lega. Namun ketika ia hendak menatap cermin kembali, sosok wanita tersebut muncul kembali dengan wujud yang mengerikan.
"AAAAA MAMA!" Teriak Renjana ketakutan, matanya terpejam erat. Seharusnya ia sudah terbiasa dengan keistimewaan yang ada didirinya, namun karena banyaknya dari mereka yang jahil Renjana jadi sulit menyesuaikan dirinya.
"Lo gak papa?"
Renjana membuka matanya perlahan ketika mendengar suara lelaki. Gadis itu memilih mengatupkan kedua bibirnya, pasalnya sosok wanita itu masih berdiri dibelakangnya dengan wajah yang mengerikan. Wajah yang dipenuhi darah dengan bola mata disebelah kanan yang hilang entah kemana.
STAI LEGGENDO
RARE
Teen FictionApa kalian mempunyai seseorang yang membuat kalian kesal setiap saat? Kalau iya maka nasib kalian sama dengan Raga. Menurutnya, Renjana itu gadis aneh dan mengesalkan. Setiap hari ada saja tingkahnya yang membuat Raga emosi.
