بسم الله الرحمن الرحيم
"Terkadang, tidur menjadi salah satu cara yang paling tepat untuk melupakan sejenak masalah dalam hidup"
—Kartika Fauziyah Mulki
Happy reading.
Malam semakin larut, namun gadis berusia 15 tahun itu masih betah menatap langit seorang diri dari balkon kamarnya. Padahal tak ada yang menarik sama sekali dari langit saat ini, karena tak ada gemintang yang bertengger satu pun di sana. Bahkan rembulan pun kini enggan 'tuk bersinar dan lebih memilih untuk bersembunyi di balik awan hitam, sama halnya dengan keadaan Ziyah saat ini.
Kini, Ziyah sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Dimana tak ada lagi sebuah harapan yang dapat membuatnya terus melangkah. Sebab, semua prestasi yang telah diraihnya di sekolah selama ini, tak berarti apa-apa di depan kedua orang tuanya. Bahkan, sederet piala dan piagam penghargaan yang telah berhasil dibawa pulang olehnya, tak pernah mendapatkan apresiasi yang layak dari kedua orang tuanya. Sekali pun rasa bangga terhadapnya juga tak pernah tercetak di wajah kedua orang tuanya.
Padahal, bukan hanya kedua kakaknya saja yang berjuang dan berusaha keras untuk bisa mendapatkan juara disetiap perlombaan, Ziyah pun juga demikian. Namun, setiap usaha dan perjuangan yang telah dikerahkannya selama ini tak pernah diberi harga yang layak oleh kedua orang tuanya.
Banyaknya piala yang tersusun rapi di lemari dan beberapa piagam yang memenuhi dinding kamar Ziyah, hanyalah sebatas pajangan yang tak memiliki keistimewaan apa-apa.
"Dilihat dari orientasi kita aja udah beda, tapi kenapa Abi dan umi dari dulu tak pernah menghargai orientasiku yang berbeda ini. Bukankah pelangi indah karena mereka berbeda-beda?" gerutuku sebab tak suka atas sikap Abi dan Umi yang telah kelewat batas padaku.
"Sedangkan dulu saat Kak Hima masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, tak jarang bila Kak Hima berhasil membawa pulang piala kejuaraan, Umi pasti akan memanjakan dan membangga-banggakan Kak Hima di depan keluarga besar. Apalagi jika Kak Hima berhasil memenuhi target hafalan yang Abi dan Umi berikan, apa yang diinginkan oleh Kak Hima pasti akan dituruti. Sedangkan aku, tak pernah diperlakukan seperti itu"
"Arggggh" geramku sambil mengusap wajah dengan kasar.
Sambil memandang langit yang hampa , aku terus berpikir untuk langkahku selanjutnya. Agar kedepannya Abi dan Umi bisa sedikit menghargai prestasi-prestasi yang berhasil aku raih dan aku bisa membuat mereka bangga terhadapku.
"Apa aku harus memenangkan lomba-lomba yang Kak Fais dan Kak Hima ikuti? agar umi sama abi bisa mengapresiasi hasil kerja kerasku dan bangga memiliki anak sepertiku?" Tanyaku penuh pasrah pada diriku sendiri.
Namun, aku kembali mengingat prinsip hidupku yang selama ini selalu kupegang. "Enggak! aku gak boleh mengikuti jejak Kak Fais dan Kak Hima! Karena prinsip aku dengan mereka sudah jelas-jelas berbeda, jadi sudah pasti jalanku dengan mereka berbeda pula. Aku gak boleh ikut-ikutan mereka, karena aku gak mau termasuk dalam golongan orang-orang yang gak punya pendirian," ujarku mengebu-gebu pada diriku sendiri.
Setelah aku menata kembali asa-asa yang sempat hancur karena perlakuan umi dan abi padaku tadi, dan langkah kaki sudah dapat ku kendalikan sendiri, bukan lagi dikendalikan oleh ucapan orang yang terkadang malah membuat langkahku menjadi mundur bukan malah membuat langkahku melaju dan melesat ke depan. Serta senyum mengembang telah dapat ku tampakkan kembali kepada semesta, aku pun hendak masuk ke dalam kamar karena kantuk tak dapat kutahan lagi.
Namun, saat aku membalikkan badan dan hendak melangkah ke dalam, Kak Fais datang dari ambang pintu kamarku, yang kemudian membuatku mengurungkan niat untuk segera tidur dan memilih berbalik badan dan menatap langit yang hampa tadi.
"Kenapa gak jadi masuk dek?" tanya Kak Fais.
Namun, aku tak menjawabnya. Sebab aku masih marah pada Kak Fais dan sekarang aku sedang tak ingin melihat wajahnya sama sekali.
"Dek," panggil Kak Fais, sebab tak mendapati sepatah kata pun terucap dariku.
"Zizi masih mau lihat bintang," jawabku sekenanya sambil tetap menatap langit.
Bodoh! Udah tau sekarang gak ada bintang, tapi malah buat alasan masih mau liat bintang. Hiss gimana sih kamu ini Ziyah, rutuk batinku.
Fais pun langsung mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat langsung apakah memang di langit sedang ada bintang atau tidak. Namun, ternyata tak ada apapun disana. Yang ada hanyalah pekatnya malam yang tak memiliki keindahan sedikit pun untuk selalu dilihat. Lalu, Fais pun tersenyum sambil menatap ke arah adiknya yang saat ini tengah berbohong itu.
"Ziyah, bintangnya 'kan sekarang sudah gak ada, jadi ayo kita masuk ke dalam." ajak Fais dengan lembut.
"Kak Fais aja yang masuk, Zi masih mau di sini," jawab Zi sedikit menaikkan nada bicaranya.
"Ya sudah, kak Fais masuk dulu. Kamu jangan lama-lama di luar ya. Karena angin malam gak baik untuk kesehatan kamu," ujar Fais pasrah.
"Iya," jawab Ziyah malas.
Setelah mendengar jawaban dari adik bungsunya itu, Fais pun segera melangkahkan kakinya kedalam dan mengurungkan niatnya untuk meminta maaf sebab tadi tak memberi pembelaan sama sekali terhadapnya. Sebagai kakak tertua pun Fais harus memilih mengalah, karena ia tahu, bahwa untuk saat ini adiknya sedang ingin sendiri dan tak mau diganggu oleh siapa pun. Maka dari itu, Fais ingin memberi ruang kepada adiknya untuk menyelesaikan pergolakan batinnya sendiri. Agar kelak adiknya sudah bisa terbiasa menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri tanpa harus melibatkan orang lain. Sehingga kelak adiknya tak mudah menggantungkan apa pun kepada orang lain.
Setelah kepergian Fais dari kamar Ziyah, ia pun bergegas untuk tidur. Karena kantuk yang ditahannya sedari tadi sudah tak mampu ia tahan lagi. Namun, saat ia hendak menarik selimut, ponselnya berbunyi.
"Arghh, kenapa cuma mau tidur aja susahnya minta ampun sih!" ucap Ziyah frustasi.
Dengan langkah malas dan mata sedikit terpejam, ia melangkah ke arah meja belajarnya untuk segera mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
"Halo, assalammu'alaikum. Siapa ya?" tanya Ziyah dengan malas.
"His, emangnya nomor gue gak lo save zi?" tanya orang dari sebrang telvon.
"Aku udah ngantuk banget Ran, jadi gak liat dulu siapa yang nelfon. Lagian kamu ngapain sih malem-malem nelfon aku, gak tau jamnya orang tidur apa?!" omel Ziyah pada orang yang menelfonnya yang ternyata Rani, sahabatnya.
"Hehehe maaf Zi, habisnya sih Wa lu gak aktif dari habis maghrib"
"Iya iya aku maafin. Terus ada apa kamu nelvon aku sampai gak liat waktu gini?"
"Tugas matematikaku belum Zi, soalnya gue gak nger-"
"Nanti setelah subuh aku kirim, dah aku mau tidur. Bye!" potong Ziyah karena dia sudah tau maksud Rani menelfonnya malam-malam tanpa melihat jam terlebih dahulu. Sedangkan Rani sudah ngomel-ngomel sendiri karena telvonnya dimatikan secara sepihak oleh Ziyah.
Setelah menutup telvon dari Rani, Ziyah menyimpan ponselnya di atas nakas dan segera merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Sebab drama kecil dalam hidupnya tadi, cukup menguras energinya. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah tidur, karena hanya dengan tidurlah dia bisa melupakan sejenak masalah dalam hidupnya. Agar esok dia bisa menghadapi kenyataan yang tadi sempat ia hindari.
Haloo! Assalamu'alaikum readers😊
Ini cerita ke dua aku, semoga suka yaa.. Jangan lupa vote, comment, and share yaa..
YOU ARE READING
Perjamuan Luka
SpiritualKartika Fauziyah Mulki seorang gadis yang terlahir dari keluarga taat agama. Namun, ia tak mengikuti jejak orang tua dan saudaranya. Saat saudara-saudaranya di sekolahkan di sekolah berbasis Islam, Ziyah lebih memilih bersekolah di sekolah negeri. D...
