Part 1

15 3 0
                                        

Di dunia ini ada banyak hal yang dapat kita temui, ada banyak emosi didalamnya. Emosi dengan berbagai warna. Entah kesedihan yang meraung setiap malam ataukah kebahagiaan yang menyelimuti disore hari atau malah sebuah harapan di pagi hari. Kehidupan adalah sebuah cerita dengan diri kita masing-masing sebagai pemeran utamanya, maka kita sendiri pula yang harus menentukan alur dan plotnya.

Bulan januari adalah bulan dimana sebuah tahun baru dimulai, ya januari merupakan pembuka. Tapi tidak dengan hatiku, masih sama, belum berubah. Hati ini seperti engan membuka ruang baru untuk yang lain, seperti telah dimatikan olehnya, untuk hanya menyukainya. Cerita ini akan Bahagia jika dia juga menyukaiku dan kita menjadi sepasang kekasih tapi sayangnya itu mustahil, kenapa? Karena aku dan dia hanyalah orang asing.

Perkenalkan gadis menyedihkan ini, namaku Arin gadis yang selama 5 tahun tidak dapat mengalihkan hatinya dari seorang Bagaskara.

Bagaskara bukanlah seorang lelaki popular seperti cerita kebanyakan, ia hanyalah seorang kutu buku yang penyendiri. Dia adalah lelaki pendiam yang jarang terlibat percakapan dengan orang lain. Wajahnya bukan dalam kategori sangat tampan tapi bukan juga jelek, hanya tampan, mungkin itu kata yang pas, tapi perlu kalian tahu dia memiliki senyum yang sangat sangat manis. Rambut hitamnya selalu tertata apik, kulitnya putih bersih yang selalu dibalut pakaian rapi. Kutebak ia maniak kebersihan dan kerapian, yah dalam pengamatanku selama ini, karena pakainnya tak pernah lecek atau bau bahkan sepatu yang ia gunakan pun selalu terlihat sangat bersih.

Akan kuceritakan bagaimana awal mula aku menyimpan Namanya dalam hati sampai sedalamm ini. Saat itu aku masih duduk dikelas 1 SMA, hari itu adalah hari dimana ibuku meninggal karena penyakit kanker yang menggerogotinya, di sebuah rumah sakit pertama kali aku melihatnya. Dia yang pertama menghampiriku dengan sebuah sebuah infus ditangannya, dia seorang pasien waktu itu.

"ini, kuberikan salah satu harta berhargaku, mungkin dapat menghiburmu"

suara itu mengalun indah digendang pendengaranku. Aku mengangkat kepalaku, menatapnya dengan bingung karena saat itu aku sama sekali tidak mengenalnya, walaupun pada kenyataannya sampai sekarang aku masih tidak resmi mengenalnya. Ia memberiku sebatang permen, dengan senyum yang hangat. Aku menerima permen itu itu dan menangis lebih keras.

"hei bocil, kenapa malah makin nangis?" ujarnya sambal mengusap punggungku lembut.

"aku menjadi yatim piatu hari ini" ucapku lirih.

"anak yang malang, tenang semuanya pasti akan baik-baik saja"

Aku menatapnya lagi, matanya terlihat dalam seperti lautan yang tenang, tatapan itu memberikan rasa hangat dalam hatiku.

"kamu ngak sendirian kok, kamu tau hari ini aku juga kehilangan kakakku, sepertinya kita senasib, kita kehilangan orang yang kita sayang. Jangan nangis, mau berteman denganku?"

"berteman?" aku memandangnya heran

"tidak, tidak, jangan baerteman" ujarnya buru-buru, mataku semakin menatapnya keheranan.

"tapi saudara, anggap saja aku kakak lelakimu" ia tersenyum hangat. Ia menyodorkan tangannya kearahku, aku menjabat tangan itu, masih dengan sesengukan.

" mulai hari ini kamu adalah adikku. Sebagai perayaan kuberikan satu lagi harta berhargaku" ia menyodorkan lagi sebuah permen yang kemudian kuraih.

"aku pergi dulu, ingat ya namaku Bagaskara, kamu?"

"Arin"

Setelah pertemuan di rumah sakit itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, itu adalah pertemuan pertama dan terakhirku dengannya. aku tidak pernah melupakannya, pertemuan pertama itu selalu kusimpan di otak kecilku, kadang aku berdoa agar suatu hari aku dapat bertemu dengannya lagi. Doa itu terkabul aku Kembali bertemu denganya saat aku memjadi mahasiswa baru, tidak sengaja aku mengetahuinya, ia adalah anggota BEM saat itu, semakin tampan. Yah aku akan langsung mengenalinya karena senyum manis itu tetap sama, menenangkan.

TBC.



GradasiWhere stories live. Discover now