Prolog

75 4 0
                                        

Senyum miring diwajahnya mulai tercetak di balik topeng yang dia gunakan. Semua yang dia rencanakan akhirnya bisa dia lakukan dengan perlahan.

Prang.
Bunyi vas jatuh berhasil mencuri perhatiannya, dengan langkah hati-hati dan tatapan mata tajam, dia berjalan menuju kearah barat daya, arah dimana terdengar bunyi yang terjatuh.

Tidak mungkin ada yang tau tentang hal ini, batinnya.

Trap trap trap.
Terdengar langkah kaki yang pelan menghampirinya dari belakang. Telinga nya yang begitu sensitif dengan suara-suara sekecil apapun, bisa membuat dia lebih berhati-hati.

Dengan gerakan cepat dia mampu menangkis balok kayu, yang dia yakini akan digunakan untuk memukul tengkuk belakangnya.

Postur tubuh yang tenang, namun tatapan mata yang tajam, mampu mengisyaratkan jika orang itu akan habis malam ini juga.

"Lu siapa? Kenapa lu lakukan ini?" Tanya orang itu dengan mata menelisik.

Dibalik topengnya dia tengah tersenyum miring, "Urusan gue bukan urusan lu." Ucapnya dengan tenang.

"Gadis yang lu bawa kesini, dia menjadi urusan gue." Ucap orang itu dengan mantap.

"Oh jadi gitu?" Ucapnya dengan santai.

Dengan gerakan perlahan dia mulai menghampiri orang itu dengan membawa pisau yang dia ambil dari saku kanannya.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh orang itu.

"Gue akan nunjukin siapa diri gue sebenernya." Seperti gerakan slow motion, dia mulai membuka topengnya.

"LU?" Ucap orang itu dengan ekspresi terkejut.

Senyum miring tercetak diwajahnya, "kenapa? Kaget?"

Trash.

Dia mulai menusuk orang itu dengan perlahan namun cepat.

Dengan suara terbata-bata.
"Ke-kenapa l-lu la-lakukan ini?"

"Menghabisi nyawa orang yang menghalangi jalan gue." Ucapnya dengan santai.

"Gue ak-akan..."

Belum sempat orang itu berbicara, dia mengambil pistol di saku bagian kirinya, dan dia mulai menembaknya tepat di bagian jantungnya.

Dor

Senyum miring masih tercetak jelas di wajahnya.

"Siapapun yang menghalangi jalan gue, nasib dia akan sama seperti orang itu."

Dan tidak sampai 10 menit, dia sampai ditempat yang dia inginkan. Lalu, dia membawa mayat orang itu ke deket danau. Sebelum meninggalkan, dia meletakkan jepit rambut milik seorang gadis yang saat ini bersamanya.

"Gue gaada niatan buat ngebunuh lu, tapi kalo lu ga gue bunuh, lu pasti akan bilang pada mereka, kalo sampe mereka tau, maka permainan gue bakal berhenti di detik ini juga, dan gue gamau itu terjadi."

Setelah mengatakan itu, dia mulai beranjak pergi.

Tak sampai 10 menit juga, dirinya mulai sampai didalam ruangan gelap dan berdebu.

Dia mulai memakai topengnya kembali. Setelahnya dia mulai membangunkan seorang gadis yang diikatnya.

"Bangun." Ucapnya yang terdengar dingin.

"Eunghh."

Dengan mengerjapkan kedua matanya, dan mulai membiasakan cahaya yang masuk kedalam penglihatannya. Akhirnya gadis itu tau, dimana dia sekarang berada.

Tersadar, jika ada orang lain bersamanya. Dia mulai bertanya, "siapa  kamu?"

"Diam." Dia mulai melepaskan tali yang dia gunakan untuk mengikat gadis itu.

"Pergi dan permainan akan dimulai." Ucapnya lirih namun bisa didengar oleh gadis itu.

Apa maksudnya? Batin gadis itu.

*****

Note : Ini cerita sama seperti kemarin

Dan maaf ya sedikit tapi tetep jangan lupa buat meninggalkan Jejak.

Tinggal tekan bintang dipojok kiri, itu tidak akan buat kuota kamu langsung habis.

Dan jangan lupa follow akun aku ya.

@Silfia_N18

Salam kenal semuanya.

ALTAIRStories to obsess over. Discover now