11:23 am

10 4 4
                                        

"Lul, Kuy ke kantin! Gue laper, "ajak Ersya pada Lula yang sedang sibuk memakai maskaranya.

" Kuy!" jawab Lula sambil memasukkan maskaranya ke dalam loker lalu pergi keluar kelas. Ersya mengekor dibelakangnya. Mereka menuju kantin dan memilih meja dipojok kantin.

"Lo mau gue pesenin apa?" ​​Tawar Lula.

"Gue mau Spaghetti aja, lah" pesan Ersya.

" Wey! Di kantin kaga ' jualan makanan kayak gitu! Adanya mah, di restoran! Lo, sih, kelamaan tinggal di luar negeri! "Sewot Lula. Ersya tertegun.

"Terus? Gue makan apa? "

Lula menghela nafas malas. "Gue pesenin bakso mau?" Tawar Lula.

Ersya menggeleng. "Ogah. Banyak lemaknya. Gue gendut, ntar, " tolak Ersya.

"Soto?"

" No! I don't like it! Ga suka warna kuahnya! "

Lula melotot. "Terus lo mau makan apa, Ersyaku zeyengggg," tanya Lula gemas. Ersya tanpak berpikir.

"Terserah. Yang penting ga banyak kalorinya, ga bikin gemuk, enak, "jawab Ersya.

Lula melotot. "Oy! Gue kalo makan ga pernah itung kalornya! Au, ah!

"Sony! Mampus, lo kena! "Ersya memandangi segerombolan cowok dimeja yang tak jauh dari mejanya. Chatting, mereka sedang bermain ToD menggunakan botol.

"Jangan kenceng-kenceng, elah! Lo bikin malu aja! "Seru seorang cowok yang menarik perhatian Ersya. Tubuhnya paling atletis dibandingkan teman-teman. Juga alisnya yang tebal, matanya bak burung elang dan guratan wajahnya yang lebih disebut pahatan. Belum lagi tinggi cowok itu yang hanya sepundak Ersya jika diukur.

Cowok itu merasa diperhatikan dan menoleh kearah Ersya. Mereka saling bertatapan dalam waktu yang lama. Ersya menahan napasnya. Jam tanganya berbunyi menandakan sudah pukul 11 ​​lebih 23 siang.

Sony, cowok yang beradu pandang dengan Ersya merasa dirinya tak bisa mengalihkan pandangannya dari cewek itu. Iya terus terpesona oleh mata bulat jernih milik Ersya. Belum lagi kulit putih Ersya yang begitu mulus image imut dan polos di mata Sony.

Ersya! Ersya cepat-cepat mengalihkan pandangannya pada Lula.

"Lo lihatin apa?" ​​Lula duduk didepannya dan memberikan sebungkus roti.

"Thanks, " ucap Ersya lalu buka plastik roti itu dan memakannya.

Sedangkan Sony, walau Ersya sudah tak beradu pandang dengannya lagi, ia memperhatikan Ersya yang sedang melahap rotinya.

Imut, gumamnya.

"Nah, lo kalah. Jadi, tantangannya, lo harus ngobrol sama mantan lo! "Varhan menepuk bahu Sony. Sony melengos.

"Dia kayaknya gak datang ke kantin. Ganti aja tantangannya, "bujuk Sony. Varhan menggeleng.

"Tuh, anaknya," tunjuk varhan pada meja Ersya — yang tepatnya menunjuk Lula. Sony memicingkan kedua matanya.

"Oh, gue gak ngelihat tadi," gumamnya.

" Fighting, bro! Dah, sono! " Varhna mendorong badan Sony menuju meja Ersya dan Lula.

"Hai," sapa Sony dengan senyumnya yang menawan.

Lula dan Ersya menoleh. Hai! Kata Lula dengan mata berbinar. Kenapa? "Tanyanya semangat.

"Gak apa. Pengen ngobrol aja. Boleh, kan? "

"Oh! Boleh kok! Sini, duduk! "Lula menggeser tempatnya. Sony menurut dan duduk disamping Lula yang berkompetisi dengan Ersya.

"Udah punya pacar baru?" Tanya Sony basa-basi. Lula menyengir kuda.

"Belom. Gue ga laku, kayaknya, "kata Lula lesu.

"Sukurin!" Ejek Sony. Sontak Lula melotot dan memukul pelan lengan Sony. Sony malah terlihat terkikik geli pelan. Ersya merasa menjadi nyamuk disini.

"Lo sendiri?" Tanya Lula penasaran.

Sony menggeleng. "Gue juga belom, nih."

"Lo sendiri juga jomblo gitu!" Sewot Lula. Sony tertawa pelan lagi. Setelah reda, ia memperhatikan Ersya yang menyibukkan diri dengan kegiatan memakan rotinya tanpa menghiraukan dua orang yang didepannya.

"Lo ... Anak baru?" Tanya Sony pada Ersya.

"Iya. Dia pindahan dari Kanada. Baru kemaren, sih. "Lula yang menjawab.

Sony mengangguk mengerti. Lalu, ia menjulurkan tangannya. 

"Gue Sony Adijaya."

Ersya melirik tangan Sony yang terulur. Lalu menjabatnya. "Gue Ersya Naomi Angel."

Sony mangut-mangut lagi.

Nama yang cantik. Seperti orangnya , batin Sony.

"Okelah, kalau gitu, gue balik ke meja dulu, ya! See you next time!" Sony melambaikan tangan. Lula membalas lambaian tangan Sony. Sedangkan Ersya hanya menarik ujung bibirnya tipis.

"Eh, lo tahu ga? Sony itu mantan pacar gue. Kita udah putus sebulan yang lalu. Gue masih cinta sama dia. Tapi, kita harus putus, "cerita Lula dengan wajah sedih. Ersya mendengarkan dengan cermat sambil meemasukkan suapan roti terakhirnya.

"Eh, kuy balik ke kelas. Udah mau bel, nih, "ajak Lula. Ersya mengangguk. Syukurlah, ia tak ingin berlama-lama disini karena barusan, ia merasakan perutnya tergelitik dan jantungnya bergedup kencang. Entah apalah itu.

.......................................

TBC

Anyeong chingu!

Gimana? Suka ga?

Semoga suka, ya!

Jangan lupa untuk vote!

Gamsahamnida !!!

Tekan tombol bintangnya ya! XD


LhatiefaIvi

23 September 2020.



You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 23, 2020 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

DuriStories to obsess over. Discover now