"Lo mau gak jadi pacar gue?"
"Gak"
"Kenapa?"
"Karena gue gak mau sama lo"
"Emang apa yang kurang dari gue?"
"Gak ada"
"Terus kenapa gak mau?!"
"Karena gue gak suka sama lo. Lagian apasih yang buat lo suka sama gue?"
"Karena lo cantik"
"Terserah"
Aira membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan Arka.
Arka menarik paksa tangan Aira dan membuatnya berada di dada polos Arka. Arka memeluk Aira seenak jidatnya dan mempererat pelukannya.
Membuat Aira rasanya sesak nafas saja.
Mata Aira membola. "Elo!?, ih lepasinn!"
ucapnya berusaha melepas pelukan Arka yang makin mempererat.
"Diem atau gue cium!?"
Aira terdiam terpaku mendongkakkan kepalanya menatap Arka yang berda di atasnya.
Arka menatap Aira dengan tatapan hangat dan makin mempererat pelukakannya,
Membuat tubuh Aira semakin dekat dengannya.
Aira kembali tersadar dan berusaha mekepaskan pelukan Arka. "Arka lepasin"
Ucapnya berusaha mendorong tubuh besar Arka.
"Diem"
"Gak!"sergahnya.
"Yaudah!"
"Hah?"
Cup
Arka mengecup singkat bibir mungil Aira dan menatap Aira tersenyum.
Deg
Jatung Aira berdetak kencang lebih kencang dari biasanya.
Namun di sisi lain Aira yang berada sangat dekat dengan Arka dapat merasakan bahwa jantung Arka juga tak kalah mendebarkan darinya.
Ya, Aira dapat merasakannya. Sangat jelas.
Tiba-tiba hujan membasahi seluruh kota jakarta.
Arka dan Aira yang berada di lapangan sekolah dan hanya berdua membuat mereka menjadi basah kuyup di guyur hujan.
Namun Arka masih saja tidak melepaskan pelukannya.
"Arka hujan"peringat Aira berusaha melepaskan pelukan Arka.
"Pulang sama gue"
"Gue jalan kaki"
"Gak mau"
"Arka lepas"
"Gak, Lo harus pulang sama gue!. Gue gak nerima penolakan titik!"
Aira mengendus kasar dan mengiyakan permintaan Arka.
Perlahan Arka mulai melepaskan pelukkannya dan membiarkan Aira pergi
Akhirnya jantung Aira perlahan mulai berdetup dengan normal.
Aira berjalan menuju mobil Arka.
Namun sebelum itu Arka kembali menariknya dari belakang. "Gue sayang lo"
Deg
Lagi, jantung Aira berdetak sangat kuat. Ia merasa yang di ucapkan Arka tadi sangatlah tulus dan dari lubuk hati yang terdalam.
Atau hanya perasaannya saja?.
Setelah mengatakan hal tersebut Arka berjalan meninggalkan Aira yang masih terpaku di tempat di mana ia berdiri.
Arka membalikkan tubuhnya melihat Aira yang terpaku. "Gak mau pulang?"
"Eh i-iya iya"
Aira tersadar dari lamunannya dan berlari mendekati Arka yang terkekeh pelan.
Namun Aira dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
Arka membawa mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata.
Sekilas Arka menatap Aira yang terus menerus memegang bibirnya dengan pandangan kosong lurus kedepan menatap rintikan hujan yang mulai mereda.
Arka mengambil tangan Aira dan menggenggamnya, membuat Aira melayangkan pandangan kepada Arka terkejut.
Namun Arka lebih fokus memperhatikan jalan.
Aira hanya pasrah dan membiarkan tangan mungilnya di genggam oleh Arka.
Mau menolak pasti juga tidak bisa. Lebih baik diam dan menerima keadaan saja lah.
Hening
Mungkin itulah sekarang terjadi di antara mereka berdua.
Tidak ada yang membuka pembicaraan melainkan suara rintikan hujan dan hembusan angin yang lebih mendominasi sekarang.
Arka memperlahankan laju mobilnya dan memberhentikannya tepat di depan rumah sederhana Aira.
"udah nyampe"
Tak ada respon dari Aira.
Pantas saja, ternyata dari tadi Aira tertidur dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Arka.
Arka memperhatikan setiap detail wajah Aira. Arka mengakui bahwa wajah yang dimiliki Aira sangatlah cantik.
Arka menyapu rambuta Aira yang menutupi hampir sebagian wajahnya.
Dan tentu saja hal itu mengganngu pandangannya.
Arka menyela rambut Aira dengan perlahan sembari tersenyum melihat lucunya wajah Aira saat tertidur.
Aira perlahan membuka matanya dan membola melihat Arka kini tepat berada di depan wajahnya.
Aira pun dengan secara tidak langsung mendorong tubuh Arka membuatnya menghantam keras pintu mobil.
"Aww"keluh Arka merasa nyeri pada punggungnya.
"Lo gak macem-macem 'kan pas gue tidur tadi?"
"Ya engga lah, emang lo kira gue mau ngapain?"
"Sapa tau"
"Iya sayang aku minta maap"
"Dih sayang-sayang pala lu!. Udah gue mau pulang"
"Eh tunggu! Ada yang ketinggalan"
"Apa?"
Arka memasukkan tangannya ke saku saragamnya dan mengeluarkannya kembali dengan jari yang membentuk 'love' ala-ala korea gitu.
Sa ae lu bambwang.
Aira bergidik ngeri dan memperlaju langkahnya menuju rumah takut ketularan gila nanti.
Arka hanya terkekeh dan kemudian memperlaju mobilnya meninggalkan rumah sederhana milik Aira.
🍁🍁🍁
YOU ARE READING
ARKA
Teen Fiction|FOLLOW SEBELUM BACA| Arka Damian Aldebaran, Dia merupakan seorang pemuda bad boy dan juga nakal yang suka sekali menggganggu kehidupan Aira. Dan hal itu membuat Aira menjadi risih dan membenci kepada Arka, namun perlahan waktu berputar dan membuat...
