Kim Taehyung, pria yang berpijak di atas muka bumi ini dengan segala kesalahan. Dia telah di tangkap pihak polisi akibat cobaan membunuh temannya.
Jika sesuatu saat dirinya sudah bebas dari kurungan ini..apa kehidupannya akan kembali seperti sediak...
Namun ketika Taehyung terlihat sangat kacau dengan luka di jarinya, tapi Eunha justru masih terlihat santai. Lantaran ia tahu bahwa lukanya tidak akan berdampak besar, lelaki Kim itu saja yang terlalu berlebihan.
Tapi apapun mana mungkin Eunha tega membiarkan Taehyung kesakitan. Jadi mahu tak mahu, Eunha terpaksa menghulurkan bantuan.
"Kesini tanganmu" Eunha mencapai tangan Taehyung yang terhiris barusan, mengamatinya beberapa saat sebelum mengucapkan sesuatu."Jimin pernah mengajarkan ku cara yang lebih ampuh untuk menghentikan darahnya."
"Jimin? benarkah?..memang seperti apa caranya...."
Deg!
Sungguh mata Taehyung lansung membulat sempurna tatkala menangkap mulut mungil Eunha yang kini tengah mengulum jarinya.
"E-Eunha, k-kau sedang apa?"
"Mmm!.." Eunha tidak menjawab pertanyaan Taehyung karena mulut sedang penuh dengan jari panjang itu. Hanya matanya yang mengisyaratkan supaya Taehyung tetap diam dan biarkan ia yang mengendalikan sintuasi.
-000-
Selang beberapa minit Eunha menyudahi rawatannya, Taehyung kembali melanjutkan aktivitas memasaknya dengan Eunha sebagai asisten. Rupanya pengetahuan lelaki Kim itu soal memasak masih sangat mentah, bahkan 80 peratus masakannya terhasil berkat bantuan dan saranan Eunha.
Apakah ini disebut peran seorang Juri?. Sungguh pertanyaan itu ingin sekali dilontarkan oleh Eunha kala ini.
"Akhirnya!!" Deru nafas berat dilepaskan oleh Eunha selaras dengan helaan lega karena makanannya sudah menjadi.
Gadis Jung itu merebahkan kursinya ke atas sofa sementara Taehyung memindahkan makanannya ke atas meja. Taehyung sempat diam-diam melirik Eunha yang bersandar pada sofa dengan nafas naik turun. Rasa bersalah sedikit muncul tatkala menanggapi kerepotan yang sudah ia perbuat terhadap gadis Jung itu.
Selesai menghidang Taehyung buruan mengajak Eunha untuk mencicipi makanannya bersama. "Aku sudah mengasingkan porsi untukmu, ayo kita menikmatinya bersama. " Ajak Taehyung.
"Iya-iya, tapi tolong angkat aku ke sana. Tenagaku belum terkumpul sempurna" Eunha melebarkan tangannya. Mengisyaratkan supaya Taehyung menggendongnya ke meja makan.
Sedangkan Taehyung lansung menurut dengan senang hati. Justru jika Eunha tidak minta sekalipun, ia sudah terpikir untuk melakukannya.
"Sekarang kau bisa menikmati hasil masakannya dan berikan rekomendasimu terhadap rasanya" Taehyung berucap seolah dirinya yang mulus menghasilkan makanannya, padahal jika tidak ada Eunha yang secara terbuka membantunya...bisa saja sebahagian dapur dibuat berantakan hingga hangus karena kecuaian lelaki Kim itu.
"Aku menyarankan supaya kau tidak memasak untuk kedua kalinya...demi keamanan apartement ini" Timpal Eunha jengah.
"Tapi kalau bukan aku yang memasak, siapa yang mahu melakukannya. Bahkan aku bisa mati kelaparan"
"Datang saja ke rumah. Di sana ada Pelayan yang siap memasak untukmu kapan saja."
Taehyung mendengus lirih mendengarkan jawaban Eunha. "Tapi sampai kapan aku harus bergantung pada orang lain sementara aku bakal menginjak dewasa suatu saat nanti"
Taehyung berbicara serius tapi Eunha malah terkekeh. " Itu masih lama Taehyung, Lagian suatu hari kau pasti akan menikah dan diwaktu itu...isterimu lah akan menyandang semua pekerjaan itu"
"Kau hanya perlu menunggu" Eunha memegang kedua pundak Taehyung lalu tersenyum kecil sembari menatap lurus lewat netra lelaki itu. "Aku yakin masa depanmu akan cerah bersama orang yang kau cintai"
"Dan aku berharap kau lah wanita itu, Jung Eunha"
-000-
Selesai makan, mereka sehari suntuk melanjutkan aktivitas dengan menonton televisi. Tapi seberapa lama seorang manusia mampu bertahan untuk tetap tinggal pada sebuah kegiatan, begitu juga bagi Eunha dan Taehyung.
"Taehyung-ah, Aku bosan terus di sini. Kalau berkeliling di luar, gimana" Eunha mencadangkan untuk ke sebuah tempat alhasil merasakan kakinya lagi semangat untuk melangkah.
"Memang kau mahu kemana?"
"Ke mana saja, asalkan bebas dari terkurung dalam apartement ini"
Sementara Eunha berceloteh Taehyung malah meleset ke arah lain untuk beberapa saat. Memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak penting. "Apa ini disebut sebuah kencan" Ianya adalah sebuah gumaman, tapi tak terduga itu cukup keras untuk didengarkan oleh Eunha.
"Benar juga. Ayo kita berkencan!"
"Huh!?...."
-000-
Sepanjang Taehyung hidup, lelaki itu belum pernah merasakan pengalaman berkencan. Meski ia pernah membahaskannya bersama Eunha berbulan sebelumnya tapi itu nyatanya meleset ekspetasinya.
Jadi wajar untuk seorang Kim Taehyung bersikap kikuk meski acara kencan nya belum resmi.
"Eunha, apa kau tidak merasa ganjil...soal kencan ini?"
Terlihat Taehyung malu-malu untuk mengatakan alasannya, tapi ia berusaha bertindak sigap. "Bukankah sebuah kencan seharusnya berlansung antara sepasang pasangan yang sudah resmi berpacaran. Sedangkan kita..."
Mendengarkan kalimat Taehyung, sudut bibir Eunha sekilas terangkat. Belum sempat Taehyung menghabiskan kalimatnya, Eunha sudah mencelah.
"Kalau begitu anggap saja kalau aku adalah kekasihmu untuk sepanjang hari ini"
Terkejut. Tentu saja rasa shock itu menyerang pemilik nama Kim Taehyung itu. Lantaran ini pertama kali selama mereka berteman, Eunha berbicara seperti itu padanya. Persis wanita itu tidak terikat dengan apa-apa hubungan, malah sosok Jimin seolah tak terwujudkan saat ini.
Namun ucapan itu membuatkan Taehyung sontak melepaskan segala tautan gadis itu pada lengannya. Lalu menatap lekat sosok Eunha yang masih berdiri mulus di hadapannya. "Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu sementara, Jimin yang merupakan kekasih sungguhanmu masih sedang bertahan hidup"
"Aku tidak memaksudkan nya, Taehyung. Selamanya Jimin adalah sosok yang spesial untukku dan dia satu-satunya yang pantas menjadi kekasihku"
"Tapi jangan dilupakan bahwa...kau juga antara sosok yang berharga bagiku dan aku menyayangimu, meski belum sebesar aku mencintai Jimin sebagai seorang pria" Setetes air mata Eunha mengalir membasahi wajah cantik gadis itu.
"Dan apapun yang terjadi...kau adalah Kim Taehyung yang sangat istimewa dimataku dan tolong jangan terlalu merasa rendah diri...karena aku akan selamanya menyayangimu"
Lansung tubuh mungil Eunha direngkuh oleh Taehyung ke dalam pelukannya dan keduanya mula larut di dalam pikiran masing-masing. . . . . . . . . . . . . . . . Tbc...
Jujur aku udah bisa gambarin endingnya kyk gimana cuman ga tau kapan, btw...ada kabar baik buat penggemar ff euntae karna aku punya rencana mau bikin ff baru, and masih ceunah ama tetet sbg cast utama . tp diperingatkan jgn terlalu menunggu, karna aku sendiri ga tau kapan publish ny.. soal ny itu bergantung pd mood jg, trus feel ama shipper ny😁😁
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.