Titan menghentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumah Rhea. Ia tidak langsung turun, membiarkan dirinya terdiam sejenak di dalam mobil. Hari itu ia dan Rhea berencana mengantar undangan pernikahan mereka ke rumah beberapa kerabat. Sudah menjadi tradisi keluarga Rhea, pasangan calon pengantin mengantar sendiri undangan ke rumah para kerabat, sekalian bersilaturahmi. Titan tidak keberatan akan hal itu.
Namun, ada hal lain yang membuat pikirannya berkecamuk sejak tadi, bahkan sejak seminggu ini. Hal yang membuat Titan dilema setengah mati. Hal yang menuntutnya untuk membuat keputusan penting dalam hidupnya. Entah kenapa belakangan ini keraguan untuk menikahi Rhea muncul di hati Titan. Dan dia berencana ingin mengakhiri hubungan mereka hari itu.
Titan menginginkan Rhea. Itu tak pernah diingkari oleh Titan. Gadis itu adalah satu-satunya wanita yang selalu melekat di relung hatinya. Wanita yang selalu membuatnya jatuh cinta. Wanita yang senyumnya selalu menghangatkan hati Titan. Selama tiga tahun menjalin hubungan dengan Rhea, Titan merasakan kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Semua hal yang ada pada Rhea membuat Titan selalu menginginkan gadis itu, bahkan hingga saat ini. Lalu, kenapa Titan ingin memutuskan hubungan meraka?
Walaupun selalu menginginkan Rhea, Titan merasa Rhea bukanlah wanita yang seharusnya menjadi istrinya. Setidaknya itulah kesimpulan Titan saat ini tentang keraguannya akan Rhea. Titan tak tahu kenapa ia baru menyadarinya sekarang. Mata Titan menerawang.
Sejak awal Rhea selalu tidak percaya diri dan menganggap bahwa dia tidak cocok untuk Titan karena perbedaan kelas sosial mereka. Tapi Titan selalu mencoba meyakinkan Rhea, karena ia juga yakin bahwa kelas sosial tak akan pernah menjadi masalah, bahwa ia dan Rhea akan selalu bersatu. Setelah akhirnya Rhea yakin, Titan melamarnya, tak ingin kehilangan gadis itu. Ia ingin memiliki Rhea selamanya.
Kerabat dan teman-teman Titan banyak yang tidak menyukai hubungannya dengan Rhea. Rhea mungkin cantik, tapi mereka menganggap bahwa Rhea terlalu biasa untuk seorang Titan. Menurut mereka, masih banyak gadis lain yang lebih fashionable dan kelas sosial yang setara dengan Titan yang lebih cocok mendampinginya. Mungkin hanya sedikit saja dari kerabat dan teman-temannya yang mendukung hubungannya dengan Rhea.
Tapi Titan tidak peduli akan hal itu. Baginya, Rhea adalah yang terbaik dan hanya Rhea yang diinginkannya. Lagi pula, kedua orang tuanya menyukai Rhea dan sangat merestui hubungan mereka. Jadi, Titan tidak merasa perlu untuk mempedulikan pendapat orang-orang yang tidak penting dalam hidupnya.
Tetapi semua keyakinan yang dimiliki Titan akan Rhea itu kini goyah. Semua keraguan Rhea dan keraguan orang-orang yang dulu dibantahnya, kini justru muncul di hatinya. Bagaimana jika Rhea benar bukanlah wanita yang cocok untuk menjadi istrinya? Bagaimana jika Rhea tidak bisa mengikuti gaya hidupnya? Titan berasal dari keluarga berada dan dia adalah pemimpin perusahaan yang selalu bertemu dengan banyak orang kalangan atas. Bagaimana jika nanti Rhea tidak bisa mendampinginya dengan baik?
Titan juga tak tahu kenapa pertanyaan-pertanyaan itu muncul padahal selama ini ia tidak pernah mempermasalahkannya. Keraguan itu hadir justru di saat persiapan pernikahannya dengan Rhea sudah matang, mereka bahkan sudah fitting baju pengantin.
Titan mengetuk-ngetuk dashboard mobilnya kemudian pandangannya tertuju pada beberapa undangan yang terletak di sana. Undangan pernikahannya dengan Rhea yang berwarna putih, warna kesukaan Rhea. Titan mengusap wajahnya sekilas. Sudahlah. Perasaannya pada Rhea memang teramat dalam, tapi bukankah kriteria calon pendamping itu lebih penting? Titan menghembuskan napasnya perlahan, kemudian memutuskan untuk turun dari mobilnya.
Titan mengetuk pintu, kemudian tersenyum tipis ketika Rhea membukanya. Senyum mengembang di wajah Rhea ketika melihat Titan. Senyum Rhea selalu menjadi favorit Titan, bahkan hingga saat ini. Namun kini suasana telah berbeda.
"Maaf, ya, lama," ucap Titan.
"Nggak, kok. Aku juga baru siap," jawab Rhea masih tersenyum. Mereka kemudian berangkat setelah berpamitan dengan ibu Rhea.
"Kita makan dulu, ya," kata Titan ketika mereka sudah berada dalam mobil.
"Nggak nanti aja kelar antar undangan?" Rhea bertanya.
"Aku lapar, belum lunch." Titan memokuskan pandangannya ke jalan. "Sekalian ada yang mau aku omongin."
"Tentang apa?" Rhea mengernyitkan dahinya.
"I'll tell you later," jawab Titan mencoba untuk tersenyum.
Rhea mengangguk dan membalas senyuman Titan.
Titan menoleh dan memandangi Rhea sejenak ketika jalanan sedikit merayap karena macet. Gadis itu mengenakan blouse lengan panjang berwarna putih dengan aksen kerutan di beberapa bagian, dipadu dengan jelana jeans biru muda berpotongan lurus. Rambut sebahunya diikat menjadi satu. She's beautiful as always, gumam Titan. Rhea selalu berpenampilan sederhana, tapi Titan menyukainya. Dia selalu menyukai seperti apa pun Rhea berpenampilan. Titan juga menyukai debar jantungnya ketika memandangi wajah lembut gadis itu, seperti saat ini.
Rhea menoleh kepada Titan. Titan langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Ia masih ingin memandangi Rhea lebih lama, membelai rambut gadis itu, atau menggenggam tangannya. Tapi ia takut pertahanannya akan runtuh. Ia harus bertahan pada keputusannya.
Mereka berhenti di depan sebuah kafe. Bukan kafe yang mewah, tapi tempat itu menyimpan banyak kenangan. Itu adalah tempat kencan pertama mereka. Titan ingat Rhea menolak diajak ke restoran mewah oleh Titan dan lebih memilih kafe itu. Rhea menyukai kafe itu karena dia merasa lebih nyaman dan juga di depannya ada taman. Selanjutnya walaupun Rhea sudah mau diajak makan di tempat mewah, mereka kadang tetap datang ke kafe itu untuk merayakan momen-momen istimewa.
"Kok makan di sini?" tanya Rhea sambil mengingat-ingat itu hari apa, apakah ada momen penting yang harus dirayakan.
"Nggak apa-apa. Udah lama aja nggak makan di sini," jawab Titan, kemudian mereka duduk.
"Kamu mau ngomongin apa tadi?" Rhea bertanya setelah mereka memesan makanan.
"Let's have lunch first," jawab Titan yang disertai anggukan Rhea.
Rhea memang penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Titan. Tapi ia tak merasa perlu mendesak Titan untuk segera mengatakannya. Ia terbiasa dengan Titan yang tidak banyak bicara. Rhea juga merasa Titan terlihat sedikit berbeda hari itu, tapi ia tidak ingin berprasangka. Apalagi hari itu hatinya sedang diliputi kebahagiaan. Hari-hari setelah acara lamarannya dengan Titan adalah hari-hari yang sangat membahagiakannya.
Tak berapa lama kemudian pesanan mereka datang, dan mereka mulai makan. Titan tak berselera makan, pikirannya kacau. Ia memandangi Rhea yang sedang makan. Sadar diperhatikan, Rhea menatap Titan dan melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Sepasang mata bulat itu bersinar, mempercepat denyut jantung Titan. Kuatkan dirimu, jangan luluh, bisik hati Titan kepada dirinya sendiri. Titan menarik napas dalam untuk menenangkan diri.
"Kita ke taman aja, ya. It's so crowded here," ujar Titan ketika mereka selesai makan dan pengunjung kafe itu semakin banyak yang datang. Tentu tak nyaman membicarakan hal personal di situ.
Titan kemudian meraih tangan Rhea dan mereka berjalan ke taman. Taman itu tidak sepi, ada juga orang-orang yang sedang menghabiskan waktu di sana. Tapi tentu lebih baik bicara di taman daripada kafe yang amat ramai tadi. Entah apa yang disukai Rhea dari taman itu. Tak ada yang istimewa, hanya taman kecil di tengah kota.
Tapi karena Rhea menyukainya, maka tempat itu pun menjadi istimewa bagi Titan. Di manapun jika bersama Rhea akan selalu membahagiakannya. Titan menggelengkan kepalanya. Mereka ke sini bukan untuk hal romantis, tapi dia ingin mengakhiri hubungan mereka. Ini mungkin akan menjadi yang terakhir kali mereka ke taman ini bersama.
Titan melepaskan genggaman tangannya saat mereka sudah berada di taman. Mereka kini berdiri berhadapan. Rhea menunggu Titan berbicara. Ia menengadah menatap Titan. Dan Titan memandangi wajah Rhea lekat. Jantungnya berdebar. Benarkah ia akan mengakhiri hubungannya dengan Rhea? Relakah ia melepaskan Rhea dan semua kebahagiaan yang ia rasakan bersama gadis itu? Mereka sudah berdiri sekian lama, namun belum sepatah katapun keluar dari mulut Titan.
***
YOU ARE READING
Rustic Wedding (Completed)
RomanceTitan sudah berpacaran dengan Rhea selama tiga tahun. Selama itu pula kisah percintaan mereka baik-baik saja, tidak pernah ada masalah berarti. Titan selalu menginginkan Rhea. Ia juga selalu merasa bahagia bersama Rhea dan mau berkomitmen dengan gad...
